SOULMATE

SOULMATE
104


__ADS_3

Aku kembali mengantar Jarel sekolah dengan berjalan kaki seperti biasa. Jarel nya udah sehat, udah kembali ceria, jalan kaki pun semangat.


Tiba-tiba dijalan ada mamah Salwa lewat.


"Jarel ayo ikut bareng aja sekalian. Takut kesiangan kalo jalan. "


"Aa mau ikut ga? " aku bertanya pada anakku.


"Mau. " udah kaya oncom anakku sekarang.


"Ya udah ayo naik, Mamahnya mau ikut ga?" Mamah salwa memang baik, beberapa kali Jarel ikut berangkat bareng.


"Jarel aja, aku mau jalan ke minimarket depan mau isi saldo."


"Ya udah duluan ya."


"Iya."


Aku jalan ke minimarket depan buat isi saldo aplikasi PPOB ku, udah tak asing lagi tetangga ku sekarang melihat aku wara wiri jalan kaki.


Si aa kasir minimarket bertanya.


"Eh Zara kemana aja, baru kelihatan. Jarang isi saldo sekarang."


"Iya a kelamaan bertapa di kamar, mengurung diri. Pesantren kilat."


"Alhamdulilah pas keluar udah hijrah ternyata ya."


"Insya Allah a, semoga istiqomah ya."


"Jangan kelamaan dikamar, dunia luas kok. "


"Ha.. ha... iya a."


"Udah masuk ya saldo nya. Mau tambah apa lagi? "


"Udah aja. Makasih a. "


"Iya sama-sama Zara. "


Aku kembali ke toko, menunggu pembeli datang sambil nonton My lecturer my husband season 2. Sekarang dengan nonton web series aja udah bisa bikin hati aku bahagia. Bahkan ketawa-ketawa sendiri.


"Ey... sepertinya ada sinyal-sinyal udah ketemu jodoh nih ketawa-ketawa gitu. " Tiba-tiba mang Yana tetangga ku dateng.


"Oh mang ga kedengeran dateng nya. pake sepeda keren juga. Bukan jodoh mang, Zara lagi nonton."


"Iya dong, ramah lingkungan, Rokok satu biasa. "


"Siap."


"Hayo buruan kapan nikah? "


"Ha.. ha... ga ada yang mau, cariin aja lah sama mang Yana."


"Mau yang gimana? mau yang pake sorban, apa yang berjenggot, apa pendakwah, apa qori?


"Widih... keren mang banyak ya? "


"Banyak laki-laki mah tuh naik kana tangkal kalapa, Coba tinggali balatak, hoyong nu kumaha mangga milih. "


Aku ketawa aja mendengarnya.


"Ya udah pilihin aja sama mang Yana satu ya nanti bawa kesini. "


"Ok lah siap. Saya juga lagi nyari mobil nih buat di gade. Susah ga nemu-nemu. "


"Mobil banyak mang, tuh liat dijalan. " sambil aku ketawa.


"Enya seueur dijalan mah nu batur." Mang yana ketawa.


"Kok kaya nyari jodoh ya mang susah nyari mobil juga."


"Pusing lah, teu cocok wae."


Aku ketawa aja,

__ADS_1


Setiap hari mang Yana nongkrong di toko bersama ayah dan aku, ngobrol-ngobrol pengalaman hidup. Dia juga baru saja tertipu masalah jual beli mobil oleh temannya sudah berulang kali. Dia pinter dalam berkomunikasi dengan siapa aja. Tapi jika sudah waktunya harus tertipu dan jatuh siapa yang bisa menghindar. Ga ada, semuanya sudah ada dalam ketentuan Allah.


"Zara jemput Jarel dulu mang."


"Ok. Mana si bapak?"


"Tuh ada."


"Eh juragan, hayo lah ngopi-ngopi." Ayah ku dateng ke toko.


"Mana kopi na, cai na ge tiis."


"Panasin dulu lah yah, permisi dulu mang."


Aku berangkat ke sekolah, jemput jarel.


Aku menghampiri ibu-ibu yang juga menjemput anak-anak.


"Hay, Jarel kebagian nari apa nanti pentas seni." Mamah Salwa bertanya."


"Gundul-gundul pacul, ini bawa apa banyak banget?" aku lihat mamah Salwa bawa banyak keresek.


"Kostum buat nari, rempong deh anak cewek. Harus bikin mahkota, bikin pernak-pernik nih segala macem buat nanti properti narinya." Mamah salwa memperlihatkan barang bawaan nya.


"Aku sih simple aja Jarel cuman beli kaos doang, buat nari nya. Anak cowok ya gitu."


"Punya bekas kalender ga dirumah, buat bikin mahkota."


"Ada kalender Ice cream, nanti aku bawain ke sekolah."


"Sekarang aja deh, pulang bareng aja yuk aku mampir ke toko mu Zara."


"Iya boleh."


Aku pulang naik motor mamah Salwa sekalian bawa kalender di toko, lumayan bisa buat bikin mahkota untuk anak-anak nari.


Sorenya aku ngabarin Ditto, memberi tahu kalo Jarel udah mau naik kelas sekarang. Kayanya udah waktunya aku berdamai dengan Ditto. Ga ada salahnya, meskipun kita udah punya jalan hidup masing-masing tapi Jarel masih tetap anak Ditto.


Aku kirim pesan ke Ditto.


Ditto langsung membalas pesannya.


"Jam berapa acaranya, aku mau ke Bandung ke tempat Hana."


Hana nama adik Ditto yang kuliah di Bandung.


"Jam 8."


"Pagi."


"Iya."


Aku kirim foto Jarel bersama teman-teman kelasnya yang waktu kemarin wisuda.


"Soft copy nya dapet ga? kalo ada mintain biar aku cetak sendiri. Nanti aku kasih kado buat Jarel. Ada saran ga kado apa?"


"Nggak ada sih kayanya kemarin dikasih fotonya yang udah dicetak. Terserah kado apa aja. "


"Coba tanyain, Jarel lagi mau apa? "


"Ga mau apa-apa Jarel nya juga. "


"Mainan masih suka nggak? "


"Nggak, paling sepatu aja deh atau tas kalo mau ngasih. "


"Ya udah ntar dicariin. Minta ukuran sepatu nya. By the way berarti TK lagi tah? anaknya udah mau SD belum? "


"No 30, TK B aja, SD belum bisa, Usianya masih kurang."


"Iya sih. "


Tiba-tiba Ditto mengirimkan Voice note.


"Jarel mau minta kado apa dari Ayah. "

__ADS_1


Aku memanggil anakku yang sedang menonton TV.


"Aa ada WA dari ayah mau ga?"


"Mana-mana?"


Dengan semangat nya Jarel mendengarkan suara Ditto, Alhamdulilah akhirnya Jarel mau bicara dengan ayahnya. Senang banget ekspresi wajahnya juga.


Jarel langsung merekam suara nya sendiri.


"Sepatu."


"Iya nanti dicariin." Ditto membalas Voice note nya.


"Iya. "


"Emang sepatu nya nomor berapa, tau nggak? "


Jarel berlari mencari sepatu nya dan melihat size nya.


"29 ya mamah. "


"30 aja, tambahin 1 nomor, itu kan udah agak kecil. "


"Ok. "


Jarel kembali merekam suaranya.


"30, Ayah aa mau nari nanti. "


"Nari apa? Emang bisa? "


"Bisa, nari gundul gundul pacul. "


"Wihhh pinter, iya nanti dikasih hadiah sama ayah. Mau mobil-mobilan apa sepatu? "


"Sepatu. "


"Nanti tanyain ke mamah nomor berapa, soalnya no 30 takut kegedean."


Memang Ditto ga tau nomor sepatu Jarel orang terakhir beliin juga pas Jarel bayi. Aku hanya bisa ketawa mengingatnya.


"Kan kaki aa panjang sekarang, banyak makan. "


"He. he.. Ya udah nanti dibeliin, ayah nya mau mandi dulu ya. Jarel mandi belum? "


"Uuudaahhh."


"Ya udah dadah, mmmuuaachhh."


"Dadah ayah. "


Jarel memberikan handphone nya kepadaku.


"Mamah udah, Ayahnya bilang mau mandi dulu. "


"Oh iya. "


"Ayah mandi nya dimana ya. "


"Dikosan mungkin."


"Oh iya. "


Anakku bertanya lagi.


"Mamah ada lagi ga WA dari ayah."


"Belum. "Jarel menunggu pesan dari ayahnya.


"Oh ya udah, si ayah suka lama sih ya mandi nya. "


"Iya, mungkin besok kirim pesan lagi. Sekarang kan udah malem juga. Aa nya tidur aja yuk. "


"Ya udah. "

__ADS_1


Mungkin anakku masih kangen suara ayahnya. Masih mau ngobrol dengan ayahnya. Tapi ya mau gimana lagi sekarang situasi nya sudah tak sama seperti dulu. Aku harap anakku bisa mengerti nanti nya.


__ADS_2