SOULMATE

SOULMATE
Sebentar lagi, adik lahir


__ADS_3

Aa meletakkan piring yang masih berisi batagor pesananku.


Dia mulai menjalankan aksinya.


Perlahan tapi pasti, dia melepaskan hasratnya. Memuaskan nafsu lelakinya. Rasa tidak nyaman dengan perut besarku, membuat kami kadang tertawa di sela permainan kami.


Setelah semua kewajibanku terlaksana, dia menutupi tubuh kami dengan selimut.


Masih tangannya mengelus perutku yang membesar. Pergerakan si dedek, makin kuat ketika tangannya meraba perutku.


"Ouh.." teriakku pelan.


"Kenapa sayang?"


"Biasa.. sakit.. "


"Sering?" tanyanya..


"Lumayan dari jam 8 malam ini?"


"Seberapa sering? Kalau sakit lagi, bilang ya sayang" ucapnya, dia mau menghitung jarak sakitnya.


"Jangan-jangan, dedek dah.. " mukanya langsung bingung.


"Rasanya belom, sayang.. Udah jangan khawatir. Ine yang mau lahiran, kok Aa yang takut"


"Aa bukan takut, sayang.. Aa takut kehilangan Ine" suara pelan itu sangat menghanyutkan.


"udah, jangan dipikirin. Doain Ine sehat, dan bayi kita sehat." ucapku sambil mengecup bibirnya. Kali ini aku menguasainya, dan kami melakukannya lagi.

__ADS_1


Bau keringatnya, membuat aku ingin terus memeluknya.


"Mandi ya sayang..Ayo. " kemudian, karena alasan takut aku ada apa-apa di kamar mandi, dia mengikutiku sampai di kamar mandi. Setelah selesai, rasa kantukku sudah tidak tertahankan.


Azan subuh sudah berkumandang.


Aa terjaga dari tidurnya. Tidurnya sangat lelap.


"Ine.. kok sudah bangun?"


Aku tersenyum.


Sebenarnya, aku sudah bangun duluan untuk meminta kepada Allah, agar aku diberi kekuatan dan kesehatan saat melahirkan. Cerita Aa membuat aku takut. Tapi sebisa mungkin, aku menutupi semua dari Aa.


"Sholat yuk" ajakku.


"Loh.. anak mama sudah bangun?" kulihat dia di depan kamar kami.


"Abang mau ikut sholat bareng"


Aa memelukku dari belakang.


"Ayo, sayang.. kita sholat" Aa memeluk Alka dan menggendongnya masuk ke dalam kamar.


Setelah sholat, kami bersiap untuk jalan pagi. Karena weekend, maka kami selalu menghabiskan waktu bersama.


Alka sudah tau jadwal weekend. Dan dia selalu ikut menemani kami untuk jalan pagi.


"Dedek.. nanti main sama abang ya" Alka mencium dan mengelus perutku saat kami istirahat di pinggir jalan.

__ADS_1


"Sayang.. itu tukang sayur bawa bayam merah. Sebentar ya sayang" Aa menghampiri tukang sayur keliling komplek.


"Nah.. sudah ada. nanti tinggal minta tolong bu Min masak ya sayang" ucapnya sambil kami berjalan pulang.


Di rumah, bu Min sudah merebuskan telur ayam kampung.


"Bu Min.. tolong masakan sayur bayam ini ya." ucap Aa sambil membuatkan susu untukku dan Alka.


"Ayo diminum, sayang. Mau roti?" tanyanya..


"shh" aku menarik nafas, menahan rasa sakit di perutku.


Aa melihat mukaku dengan cemas.


"sakit lagi?"


aku mengangguk.


"Kita ke rumah sakit ya sayang" ajaknya.


"Nanti saja." ucapku tersenyum , sambil menyantap sayur bayam merah.


"Nak Ine.. sekarang kan anak kedua. Tidak sesulit ketika melahirkan Alka. Sebaiknya nak Ine ke rumah sakit saja" ucap bu Min.


"Tas Ineke, sudah disiapkan ya bu? Tolong siapkan pakaian dinas saya untuk berapa hari ya bu.. gantung saja di mobil. Semua peralatan dimasukkan ke dalam mobil saja, pak Min, tolong bantu ya." suaranya langsung gelagapan,


"Alka, mandi ya nak. Papa mau siapkan mama. Sebentar lagi, adik lahir" ucapnya menenangkan Alka, karena Alka menangis melihatku kesakitan.


Setelah mandi, aku langsung sholat dhuha, dan sholat taubat. Aku meminta kepada Allah, agat diberi kemudahan, dan diampuni segala kesalahan yang sudah aku lakukan selama ini.

__ADS_1


__ADS_2