
"Sayang.. " teriak dokter Yopi.
terdengar bunyi gemercik air dari kamar mandi. Aa segera ke arah suara. Pintu itu terbuka.
"oh.. ih.. bikin kaget aja" suara Ineke terdengar sangat kaget dengan keberadaan dokter Yopi.
"Kok Aa gak pulang. Sana pulang. Ine di sini aja gapapa kok."
"Abis ngapain?" tanya dokter Yopi.
Ine berlalu sambil memegang infus di tangannya.
"Abis bersih-bersih lah" ucapnya cuek.
Aa membantunya untuk meletakkan kembali infus ke tiangnya.
"Kan bisa tunggu Aa. Kan bisa Aa bantu"
"Apa sih. Bukan muhrim!" ucapnya marah.
Aa hanya diam. Sabtu sore itu seharusnya hari keluarga bagi mereka. Tapi sudah 1 bulan ini, tak ada hari libur bersama.
"A.. Apa ada hal yang Ine lupakan. Sepertinya Ine tidak asing dengan Alka. Dan bayinya mbak Linda. Kenapa Ine ada perasaan aneh ketika mendekapnya. Jantung terasa berdegup kencang. Siapa mereka A?"
"Sudah malam. Tidurlah."
"Kenapa Aa belum pulang juga? Nanti mami marah. Atau Aa sudah mengabari mami kalau Aa jaga Ine di sini?"
__ADS_1
Aa mengangguk, dan menyelimuti Ineke.
Dalam hatinya, apakah ia harus mengungkapkan identitas dirinya? Identitas anak-anak mereka? Menceritakan bagaimana mereka kembali bertemu?
Minggu pagi, Ineke terbangun dari tidurnya. Ia memandangi isi kamar itu, tapi ternyata tidak ada orang di sana. Pintu kamar diketuk, dan 2 orang perawat datang untuk memeriksa Ineke.
"Selamat pagi, bu." sapa mereka.
"Pagi, sus. Sus.. kapan saya bisa pulang?" tanya Ineke
"Kita tunggu apa kata dokter Yopi. Kan suami ibu salah satu dokter pendamping bu Ineke. Bersyukur sekali, bu Ineke punya dokter Yopi. Saat bu Ineke di ICU, dokter Yopi selalu ada di samping ibu. Beliau tidak memikirkan keadannya. Yang dia tau, bagaimana bu Ineke kembali. Beberapa kali dokter Ferdi memperingati tentang kerapihannya. Tapi selalu diabaikan"
Ineke tertegun mendengar cerita itu, sambil memeriksa tensi dan membersihkan ruangan itu.
"Gimana kabar baby, bu? Pasti bu Ineke kangen sama baby ya."
"Baby, maksudnya?"
Ineke bangun dari sofa dibantu oleh perawat itu.
Setelah mereka keluar dari ruangan, Ineke mencoba mengingat masa lalu.
Bayangan masa lalu, masih menyisakan rasa sedihnya. Rasa rindu mendalam, setelah mereka mengantar kekasihnya ke bandara.
Dokter Yopi memasuki ruangan dengan membawa bungkusan di tangannya.
"Dari mana, A?" tanyanya.
__ADS_1
Dokter Yopi mendekatinya.
Ine mengambil tangan dokter Yopi, sebuah cincin melingkar di jari manisnya.
Dia melihat cincin yang melingkar di jarinya, dan membukanya dari jarinya. Ine melihat tulisan di dalam cincin itu. Yopi. Ya.. cincin itu terukir nama Yopi.
Ineke menangis di pelukan dokter Yopi.
Ia masih memegang erat tangan lelaki itu.
"Maafin Ine, A.."
Dokter Yopi yang tidak tau apa yang terjadi merasa bingung.
"Maafkan Ine. Tapi kenapa Aa gak bilang, kalau kita sudah menikah. Dan bayi kemarin itu, apakah anak kita?"
Dokter Yopi memeluk istrinya. Dia tidak bisa berkata-kata.
"Jawab, A.. itu anak kita?"
"Ya" suara dokter Yopi tersedak karena menahan tangis.
Akhirnya, mereka menangis bersama.
"Ceritakan apa yang masih Ine lupakan, A"
Ucapnya sambkl memeluk lelakinya.
__ADS_1
Akhirnya dokter Yopi menceritakan semua kejadian sejak perpisahan mereka di bandara.
"Jadi.. Anak laki-laki yang di gendong ayah kemarin itu...."