
Prosesi acara nuju bulan, alias doa bersama karena pada masa 4 bulan kehamilan, ruh ditiupkan ke dalam rahim, dilaksanakan dengan hikmat. Untaian ayat suci terdengar sangat indah. Aa tidak melepaskan tanganku. Dia berharap, apapun jenis kelamin calon anak ini, yang diinginkannya, kami selalu sehat. Prosesi terakhir adalah berpura-pura berjualan rujak. Lucu dan seru.
Ayah, ibu, papi, tertawa melihat cara Aa yang berpura-pura menjajakan rujak kepada undangan yang datang.
"Semoga selamat dan sehat. Lancar saat melahirkan ya" tamu-tamu pun berpamitan satu per satu.
"Gak cocok lu jadi pedagang. Muka lu A'... " ucap Adit dan dia pun tertawa.
"Haha.. gapapa, demi anak gue, rela gue begitu." ucapnya dengan muka memerah. Aku pun memegang tangannya.
"Nanti malem jadi kan?" tanya Igun ketika berpamitan pulang.
"Hm.. oke.. tar gue kabarin ya. Kalo dah beres, gue kabarin secepetnya." jawab Aa.
Ayah dan ibu juga akhirnya berpamitan, karena semua sudah beres lagi.
"Alka mau ikut eyang, atau tinggal sama mama dan papa?" tanya ibu ke Alka.
"Biarkan saja, bu. Alka masih mau main di sini. Ya nak?" tanya Aa ke Alka.
"Eyang punya mainan baruu" ucap ayah membujuk Alka.
"Apa yang?" tanya Alka.
__ADS_1
"Ada deh" jawab Alka.
Kemudian Alka menghampiriku, dan mencium perutku.
"Dek, abang main ke rumah eyang dulu ya. Ma, abang mau ikut ke rumah eyang, boleh?"
Aku tertawa melihat kedewasaan Alka.
"Ya sudah, kalau Alka mau begitu. Tunggu ya, mama siapkan tas dulu." ucapku.
"Sayang, biar Aa aja, Ine udah lelah. Duduk aja." ucap Aa.
Aku duduk diantara ayah dan ibu. Alka masih berlarian.
"Ayah senang melihat kebahagiaan Ine. Semoga Ine selalu seperti ini." ucap ayah.
"Alka, ayo kita pulang" ajak ibu.
Setelah berpamitan ke papi dan semua keluarga, ayah dan ibu pun pulang dari rumah papi.
Di perjalanan, ayah dan ibu mengenang acara tadi. Alka yang kelelahan, akhirnya tertidur memeluk bantalnya.
"Ibu perhatikan tidak? Ineke, sangat bahagia"
__ADS_1
ibu masih diam.
"Tapi mereka tidak sekaya almarhum" ucap ibu sinis.
Akhirnya perdebatan terjadi.
"Ibu! Apa maksud ibu? Ibu belum merelakan Ine bersama Yopi? Hanya karena Yopi tidak seperti Herli?" ucap ayah meninggi.
"Kekayaan dan jabatan, akan membuat Ineke bahagia" ucap ibu lagi datar.
"Sejak kapan ibu menjadi matrealistis seperti ini? Ibu menanggalkan kebahagiaan anak kita dengan harta dan tahta? Apa buktinya? Perceraian. Penghianatan. Itu yang ibu mau? Lihat ketulusan Yopi. Ayah menangkap cinta yang besar untuk Ineke. Ayah masih belum habis fikir tentang apa yang ada di otak ibu. Apa ibu akan memisahkan kembali, Ineke dan Yopi?"
Ibu membelalakkan matanya, seolah tak percaya apa yang sudah ayah ucapkan.
"Ya, kalau ada yang lebih baik dari Yopi, apa salahnya?" ucap ibu lagi.
"Berkaca dari kesalahan, buu.. Apa ibu rela menghapus kebahagiaan anak semata wayang kita, demi keegoan ibu?" ayah berkaca-kaca.
"Pekerjaan Yopi, apakah cukup untuk membiayai ine dan 2 anaknya nanti?" ibu menangis.
"kenapa ibu jadi begini? Seperti tidak percaya dengan kekuasaan Allah. Ayah lihat, Yopi seorang dokter yang hebat. Ayah yakin, dia akan menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Percaya ayah, bu. Ayah tau itu. Jangan seperti itu, bu. Sudah cukup lama ibu tidak menyetujui pernikahan mereka. Nanti ibu akan menyesal sendiri." ucap ayah.
Ibu hanya melihat ke luar jendela, sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
Ibu masih belum bisa menerima pernikahan kami.
#Terima kasih teman-teman yang masih setia dengan cerita ini. Saya masih menunggu jempolnya dan komennya ya.. terima kasih 😊😊