
"Ruhi.. Dimana kakakmu? Bukankah tadi dia keluar rumah bersamamu"
"Kakak bilang dia akan ke kantor dulu bu, ada urusan yg harus dia selesaikan"
"Astaga.. Anak itu, mengapa di saat seperti ini dia masih mementingkan pekerjaan"
Ruhi hanya mengedikkan bahunya.
Ragini gelisah duduk di mandap, matanya masih tertuju kepada Laksh dan Tanya, lebih tepatnya Laksh karena dia yg sedari tadi menggendong Rohit, sesekali terlihat Laksh tersenyum saat melihat tingkah menggemaskan anaknya. Hati Ragini merasa sejuk saat melihat senyuman Laksh, masih terlihat sama dan sangat tulus.
Entah mengapa timbul rasa penyesalan di dalam hati Ragini karena telah menyia-nyiakan pria seperti Laksh, bahkan Rohit sebelum meninggal pun menitipkan Ragini kepada Laksh. Tapi karena dia begitu angkuh atau terlanjur membenci Laksh dia seakan tak menghiraukan pesan terakhir Rohit.
Bola mata Ragini berputar menatap api suci yg telah menyala, bayangan pernikahan dirinya dan Laksh berkelebat di pikirannya. Entah apa yg dia rasakan saat ini, entah mengapa hatinya menginginkan Laksh sekarang.
Aneh memang!
Dia menerka perasaan yg dia rasakan kepada Ratan, mengapa tak sedalam saat dia mencintai Rohit. Atau Ragini hanya terlena karena wajah mereka mirip?
Apakah Ratan hanya pelarian saja?
Berbagai pertanyaan mencuat di benak Ragini.
Hatinya pilu saat mengingat peristiwa kelam saat Rohit menghembuskan nafas terakhirnya.
Tapi hatinya seakan perih dan teriris saat melihat kebahagiaan yg terpancar di raut wajah Laksh.
Dia telah menyadari jika dia salah melangkah dan salah dalam mengambil keputusan. Bahkan dia merutuki dirinya sendiri karena menuliskan surat yg begitu menyakitkan untuk Laksh.
Ragini masih termenung, matanya masih terus saja menatap Laksh yg sedang bergurau dengan putranya.
Airmata Ragini perlahan jatuh, jika Dewa mengizinkan ingin dia memperbaiki semuanya, namun sekarang akan terasa sangat terlambat karena Ragini memilih menikah dengan Ratan.
Bola mata Ragini tertuju pada pergelangan tangan Laksh. Matanya membulat sempurna saat dia melihat Laksh melilitkan kalung mangal sutra milik Ragini di pergelangan tangannya.
Hatinya kembali terasa perih, dia merasa jika dirinya sangat kejam. Masih teringat dengan jelas gurat kesedihan Laksh saat Ragini memberikan kalung mangal sutra itu kepada Laksh dan mengatakan ingin berpisah dengannya.
Peristiwa kelam itu tiba-tiba mengingatkannya, entah hati pria itu terbuat dari apa hingga dia sudi untuk datang ke pernikahan orang yg telah menyakitinya.
Ragini masih menatap seksama Laksh dan pandangannya beralih saat melihat sekelompok polisi datang.
"Apa disini ada keluarga dari Ratan Balla?"
Ishita dan Ruhi dengan cepat menghampiri polisi yg sedang berbicara itu.
"Ya pak, ada apa aku ibunya?"
"Maaf nyonya kami ingin memberitahukan jika Ratan mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat kejadian"
"APAAA???"
Ragini sangat terkejut, airmatanya menetes dengan deras, dia langsung berlari turun dari mandap dan menghampiri polisi itu.
"Pak.. Mungkin kau salah orang, Ratan dia sedang menuju kesini, dia pasti secepatnya akan sampai"
__ADS_1
"Maaf nona, tapi apa ini dompet miliknya? Kami menemukan identitas ini di tubuh korban dan setelah pihak rumah sakit mengidentifikasi dengan sidik jarinya, jasad itu adalah Ratan Balla. Menurut saksi yg melihat kejadian itu, mobil Ratan Balla melaju sangat kencang dan terlihat kehilangan kendali, dia membanting stir ke kiri hingga mobilnya jatuh ke jurang yg meledak sedangkan jasad Ratan Balla terhempas keluar dan kepalanya terbentur dengan sebuah batu besar dan mengalami pendarahan, dia menghembuskan nafas terakhirnya di tempat kejadian"
Ishita menangis histeris, Ruhi memeluk ibunya.
"RATAAANNNN" teriaknya.
Ragini masih terdiam mematung, airmatanya menetes hatinya terasa pilu, dia seakan tak kuat menjalani kehidupan seperih ini.
Perlahan pandangannya buram dan menjadi gelap, dia kemudian pingsan.
Laksh yg melihat buru-buru memberikan Rohit kecil kepada Tanya dan langsung menangkap tubuh Ragini.
"Ragini.. Ragini.. Bangunlah" ucapnya sambil menepuk pipi Ragini pelan.
***
Dia seakan merasa dejavu saat melihat jasad Ratan yg terbaring kaku akan segera di kremasi, peristiwa ini mengingatkannya kepada peristiwa kelam saat dia juga harus menyaksikan jasad Rohit di kremasi.
Dua orang yg wajahnya sangat mirip itu harus meninggal karena kecelakaan. Masih tergambar jelas di pikiran Ragini saat pertama kali bertemu dengan Ratan saat dia menyelamatkan nyawa Ragini, membiayai Ragini bersalin bahkan saat dia menyatakan cinta.
Senyuman Ratan yg selalu mengingatkannya dengan Rohit kini tak akan pernah lagi bisa dia lihat, kini Ratan sudah kembali dengan damai.
Laksh di kejauhan melihat Ragini dengan sangat iba, Laksh dapat merasakan kesedihan yg mendalam yg dirasakan oleh Ragini.
Saat dia harus menanggalkan baju pengantinnya dan menghapus riasan di wajahnya dan kini penampilannya berubah berganti dengan pakaian serba putih dan tanpa make up yg melekat di wajahnya.
Hanya mehendi yg masih melekat di kedua tangannya. Laksh menatap pilu orang yg sangat dia cintai, jika diperbolehkan ingin rasanya dia mendekap dan menghapus airmata Ragini.
Tapi dia urungkan niatnya, karena akan membuat keluarga Ratan risih dan membenci Ragini.
Kobaran api mulai membakar jasad Ratan, Ragini memejamkan matanya. Dia tak kuat melihat calon suaminya dilalap oleh api. Tiba-tiba tubuh Ragini oleng, dia terjatuh dan tak sadarkan diri.
Tak ada yg memperhatikan mereka hanyut pada keharuan mereka masing-masing, Laksh yg menoleh dan melihat tubuh Ragini sudah tergeletak, dia langsung menghampiri Ragini dan menggendongnya.
***
Perlahan Ragini membuka kedua matanya, bola matanya berputar menatap sekeliling kamarnya.
Laksh yg berdiri di sudut kamar itu menyunggingkan senyuman di bibirnya saat melihat Ragini tersadar dari pingsannya.
"Akhirnya kau sadar juga"
Ragini hanya terdiam, dia menatap lirih Laksh.
"Laksh.. Ratan.. Dimana dia?"
Laksh berjalan menghampiri Ragini, dia kemudian duduk di tepi ranjang Ragini dan menyentuh bahu Ragini.
"Abu kremasi Ratan sudah dibawa oleh ibu dan juga adiknya ke sungai Gangga"
Ragini menangis di dekapan Laksh. Laksh tak tega dia memeluk tubuh Ragini dan mengelus rambutnya. Dia berusaha untuk menenangkan orang yg amat dia cintai.
Laksh melepaskan pelukannya dia menatap wajah Ragini dengan seksama dan menghapus airmata yg mengalir di kedua pipinya.
__ADS_1
Laksh menggeleng dan mencium kening Ragini lembut, Ragini memejamkan matanya.
"Ohh.. Jadi kau malah bersenang-senang disini di hari kematian calon suamimu" suara lantang Ishita membuat Ragini dan Laksh terperanjat.
"Aku bersyukur karena putraku meninggal, akan lebih baik dia meninggal daripada melihat pengkhianatan seperti ini, ckck. Aku tak menyangka jika kau memang wanita jalang"
Laksh mengepalkan tangannya dan mengencangkan rahangnya, dia benar-benar tak suka saat Ragini disebut seperti itu.
"Oh iya kau tidak lupa kan Ragini jika ini adalah apartement putraku? Dia sekarang sudah tiada dan aku harap kau tau posisimu saat ini, enyahlah dari sini karena aku tak sudi apartement putraku dijadikan tempat mesum untuk kalian berdua"
Ragini menatap tajam Ishita dia benar-benar merasa sedih saat dihina seperti itu.
"Maaf nyonya, tak perlu kau usir Ragini dan Rohit akan pergi dari apartement ini, aku tak menyangka jika perkataan seorang pengusaha sukses seperti anda seperti perkataan seorang gelandangan yg tak pernah disaring, ckck"
Ishita melotot ke arah Laksh.
Laksh mengambil koper di lemari itu, dia mulai mengemasi barang-barang Ragini dan Rohit.
Setelah selesai mengemasi barang-barangnya, Laksh menarik lengan Ragini.
"Ayo Ragini.. Kita pergi dari sini"
Ragini menatap lirih Laksh, Laksh menganggukkan kepalanya.
Ishita hanya tersenyum sinis saat melihat Ragini dan Laksh pergi.
"Kakak.. Kau dan Ragini mau kemana?"
"Tanya ayo kita pergi dari sini"
"Kemana kak?"
"Tentu ke apartementku"
Tanya menatap Ragini yg hanya menundukkan kepalanya.
Laksh kembali menarik lengan Ragini, Tanya melihatnya tersenyum.
"Sayang lihat.. Bibi yakin ayah dan ibumu akan segera bersatu kembali nantinya" bisiknya.
Rohit kecil itu tersenyum dan tertawa seakan dia mengerti perkataan Tanya.
"Anak manis, kau sangat menggemaskan"
Tanya masih menatap lekat Ragini dan Laksh yg berjalan di depannya.
"Dewa.. Ku mohon persatukanlah mereka kembali" ucapnya pelan.
Bola mata Ragini masih menatap Laksh yg terus menatap jalan, entah mengapa Ragini merasa keteduhan saat melihat wajah Laksh. Laksh menoleh saat melihat dirinya diperhatikan oleh Ragini, mata mereka saling beradu pandang.
Tanya dibelakang hanya tersenyum melihatnya.
"Aku yakin jika kalian berdua itu berjodoh" gumamnya.
__ADS_1
To be continued....