
"Aa mau ikut ke Sukabumi ga?" aku bertanya kepada anakku Jarel.
"Mau apa mamah? "
"Bawa CPU udah beres katanya. "
"Mau ikut, jalan-jalan. " Anakku seneng banget di ajak keluar.
Aku berangkat naik angkutan umum bersama anakku seperti biasa. Lalu berjalan kaki ke kantor Pos membeli materai lagi karena kali ini memang lagi dibutuhkan anak-anak untuk daftar masuk SMA di deket toko ku, jadi penjualan materai nya lagi kenceng banget, alhamdulilah.
Anakku seneng banget berjalan kaki disepanjang jalan trotoar jalan Raya. tengok kanan kiri rame juga.
"Aa mau jajan? "
"Nggak."
Anak ku memang bukan tipe anak yang banyak jajan, tidak suka banyak beli mainan pula. Lebih suka membeli buku cerita dan membeli buku untuk belajar menulis dan membaca, Alhamdulilah di usia nya yang Oktober nanti 6 tahun udah pinter baca tulis, dan berhitung, terutama berhitung barang dagangan di toko karena sering di toko, dan suka juga untuk ikut melayani pembeli dan menata barang di rak pajangan.
Aku sampai di toko komputer. Aku memberikan kertas bukti pengambilan service dan menyerahkan ke karyawannya.
"Mba mau ambil CPU."
"Oh iya sebentar di cek dulu. "
Karyawan toko nya kebelakang untuk membawa CPU aku yang sudah diperbaiki mungkin.
"Ini CPU nya udah selesai mba. "
"Oh iya, berapa ya mba? "Deg-degan aku, takut biaya nya mahal.
"25 ribu aja, bayar langsung dikasir aja ya mba."
"Oh iya. "
Alhamdilulilah, bersyukur banget ya Allah. Aku tidak harus mengeluarkan uang berjuta-juta lagi.
Aku menghampiri meja kasir nya dan memberikan nota service nya.
"25 ribu aja ka. "
"Oh iya, ini ka. " aku membayar dengan perasaan lega.
"Udah selesai ka terimakasih. "
"Iya sama-sama. "
Aku keluar toko membawa CPU, pas didepan toko ada angkutan umum lewat, aku langsung naik bersama anakku, Alhamdulilah tidak berjalan terlalu jauh.
"Aa pegangin CPUnya ya. "
"Iya mamah. "
Anakku memegang CPU nya di dalam angkot.
"Aa nanti kita belanja dulu ke toko a Rangga ya. Aa duduk dikursi depan, jagain CPU nya, sambil main game, mamah ke dalem belanja gimana? "
"Ok siap."
Anakku seneng banget kalo dikasih izin main game, karena aku selalu membatasi anakku untuk main handphone, hanya pada saat-saat tertentu saja dan tidak lebih dari satu jam dalam satu hari nya.
Aku turun didepan toko A Rangga.
"Aa duduk disini, mamah belanja dulu ya. "
"Iya. "
Anakku mengerti, aku juga meletakkan CPU di depan anakku.
"Jagain ya? "
"Ok. "
Aku masuk kedalam toko, membawa keranjang belanjaan yang ada di pintu masuk. Aku juga melihat a Hilmi yang lagi sibuk mengemas minyak curah.
__ADS_1
Tiba-tiba Wisnu memanggil.
"A Rangga... A Rangga. "
Terdengar suara a Rangga dari gudang.
"Iya. "
Duh, langsung kena di hati jika mendengar suara khas nya a Rangga, tolong Zara fokus belanja, hanya belanja.
Aku mengambil barang belanjaan yang aku perlukan, aku mendengar suara a Rangga di ruang sebelah yang sedang ngobrol dengan Yuda dan juga A hilmi.
aku bicara sendiri dalam hati.
"Fokus Zara fokus, belanja hanya belanja. Inget a Rangga tuh pacar orang. "
Ketika aku membawa keranjang belanjaan ke kasir aku melihat A Rangga di depan pintu jongkok bersama anak-anak lain. Meskipun pikiran mengharuskan mata ku untuk jangan perhatikan dia, jangan melihat dia. Tapi hati ingin sekali untuk aku bisa menatap dia. aku lihat A Rangga memakai kaos biru, rambut nya diikat. Sesederhana itu, tapi tetap saja sangat sempurna untukku.
A hilmi langsung menghampiri aku,
"Mana belanjaan nya Zara? "
"Ini aja. "
"Ok siap. " Aku lihat tangan a Hilmi yang masih ada bekas minyak nya, karena tadi sedang mengemas minyak curah, tapi dia selalu membantu ku, jika aku belanja. Baik banget memang orang nya. Tidak seperti A Rangga yang terkadang kelakuannya seperti es Balok yang beku dan sangat dingin.
"Pake dus-dusan ga? " a Hilmi bertanya lagi.
"Nggak, besok aja di anter si om ke toko. "
"Oh iya siap. "
"Aku bawain ke depan ya belanjaan nya. "A Hilmi mengemas barang belanjaan ku."
"Iya boleh, aku mau bayar dulu. Makasih ya. "
"Iya. "
"Aku menunggu antrian untuk membayar belanjaan ku. "
Dia tersenyum kepada ku.
Ya tuhan, dari tadi aku berusaha untuk menghindar. Eh malah diberikan senyuman. Dan senyuman itu selalu membuat hati aku meleleh.
Aku hanya menganggukan kepala ku, karena jika aku tersenyum pun tidak akan terlihat juga.
"Inget Zara, tarik nafas kamu. Tahan perasaan kamu, jangan baper. " aku bicara dalam hati ku.
Bapak-bapak yang di samping ku malah mengajak a Rangga ngobrol, jadinya a Rangga tetap berdiri di samping aku.
Aduh aku benar-benar harus bisa mengendalikan diriku saat ini.
"Permisi ya. "A Rangga berlalu didepan aku. Dia keluar dari toko.
"Oh iya. " aku menjawab.
Aku melihat anakku masih duduk dikursi depan, asyik dengan game nya.
"Aa ke sana dulu yuk. "
"Kemana mah? "
"Ke toko Frozen food. "
"Ayo. "
Masa iya aku bawa-bawa CPU belanja kesana. Aku lihat A Rangga ada didepan juga, ga sibuk. Ya sudah lah aku titip aja ke dia.
"A Rangga titip CPU ya, Aku kesana dulu. "
"Iya boleh, Jual aja ya." Sambil ketawa dia.
"Jangan lah. " aku berlalu bersama anakku.
__ADS_1
Aku berjalan bersama anakku ke toko frozen food yang tak jauh dari toko a Rangga untuk membeli nugget-nugget dan sosis kesukaan anak-anak sekolah.
Aku kembali ke toko A Rangga. Aku lihat a Rangga duduk di depan bersama Yuda, CPU aku ada di samping a Rangga.
Mau ga mau aku menghampirinya dan bicara.
"Sini CPU nya mau dibawa pulang? "
"Udah Bagus lagi ga. " A rangga bertanya.
"Udah beres, 25 ribu aja. "
"Ini apa Zara? " Yuda bertanya padaku. "
"CPU. "
"Kirain Dispenser tadi. " Sambil ketawa dia.
"Bukan. "
"Mau dibenerin A Rangga bukan? " Yuda bertanya.
"Nggak, udah beres. Mau di bawa pulang."
"Ih, apaan ya segini aja, harus bawa jauh-jauh kesukabumi. Aku Juga bisa." A Rangga menyela pembicaraan ku dengan Yuda. "
"Sekarang bilang bisa, kemarin pas aku Whats app bilang nya ga bisa. "
A Rangga hanya tersenyum sambil membawa satu kardus bekas.
"Itu buat apa? " Aku bertanya kepada A rangga.
"Buat ini lah, biar ga lecet bawahnya. mau naik angkot kan? " A rangga mengikat sobekan kardus itu pada CPU aku.
"Oh gitu ya. "
"Biar aman bawanya. "
aku jongkok didepan A Rangga, memperhatikan dia yang sedang mengikat CPU aku.
"Cie,, beda ngiket nya juga kalo buat wanita cantik. Ga kaya buat ibu-ibu. " Yuda menggoda A Rangga.
"Hehh,, biasa aja perasaan ga ada yang aneh. " Sambil ketawa A Rangga menjawab.
Aku tersenyum dan mencoba biasa saja, jangan terlalu bereaksi berlebihan. Memang mereka seperti itu.
"Mana barang belanjaan nya? " A Rangga bertanya.
"Tuh.." aku menunjukan satu kantong semen yang ada dibelakang nya.
Gimana bawa nya ini, aku bawa satu kantong rokok, satu kantong frozen food, CPU dan kantong semen. Aku mencoba membawa semuanya langsung.
"Sini-sini sama aku aja berat. " A Rangga mencoba membantu.
"Anterin ke depan, naik angkot."
"Iya ayo. " A Rangga beranjak dari tempat duduk nya.
"Ayo bareng. "
"Iya ayo, Duluan. "
"Kamu duluan."
Eh, situasi macam apa ini. Canggung sekali tapi seneng juga.
Kita berjalan bareng ke depan, menunggu angkutan umum lewat.
"Udah simpen sini aja. " Aku menyuruh a Rangga meletakkan barang belanjaan ku dipinggir jalan.
"Hati-hati ya. "
"Iya makasih. "
__ADS_1
Tumben banget angkotnya lama. Perasaan aku udah ga jelas ini, pengen cepet-cepet naik angkot aja. Jangan lama-lama deket a Rangga. Takut baper lagi, takut sakit lagi. Cukup bahagia nya dari kejauhan aja. Karena jika sudah mendekat takut untuk tidak bisa melepasnya lagi.