
Seperti biasa, Alka memilih menu yang ada mainannya, dan es krim.
Pak Min, memilih menu ayam dan nasi, dengan air mineral.
Dan aku memilih menu burger. Karena tadi kenyang makan seporsi ketoprak.
Aku melihat Alka dalam-dalam. Seandainya Alka tahu, siapa yang aku temui tadi. Alka harus terpisah dengan papa kandungnya, karena mereka yang ingin aku dan papanya Alka berpisah. Tiba-tiba air mataku menetes melihatnya. Alka yang mandiri, sedang makan dengan lahapnya. Aku tidak bisa menceritakan kejadian ini kepada Aa. Aku harus menjaga perasaannya. Karena itu masa lalu, dan tidak seharusnya aku mengingat, tapi jangan salahkan aku, orang dari masa laluku yang pahit, datang tidak diundang.
"Mama jangan nangis" ucapnya.
Ternyata anakku memperhatikanku.
"Gak sayang,"
"Abang gak nakal kok ma"
"Bukan sayang, mama terharu, Abang sudah besar, sudah bisa makan sendiri. Pinter sekali anak mama"
"Kan abang, udah mau punya dedek. itu di perut mama. Dedek mamamnya pake apa, ma?" tanyanya.
"Ini mama mamam burger, jadi dedeknya mamam burger juga"
Selesai makan, kami menuju sebuah supermarket, tiba-tiba aku ingin makan coklat dan snack. Alka senang sekali, karena dia juga mengambil makanan yang biasanya aku larang.
Sampai di rumah, badanku terasa berat. Akhirnya aku memutuskan untuk istirahat di kamarku, dan Alka tidur di kamarnya.
Sebelum tidur, aku menyempatkan untuk sholat dzuhur terlebih dahulu.
Siang itu aku bermimpi seperti melihat almarhum di masa lalu, sedang bercanda gurau dengan Kekey. Sakit hati itu sampai membuat aku sesak dan akhirnya aku menangis.
"Sayang, Ineke.. bangun sayang"
__ADS_1
Ternyata aku terbawa dalam mimpi itu,
"sayang.. sayang.. bangun"
Aku terbangun, dan kulihat Aa di depanku masih menggunakan jas putihnya.
Aku menangis dan memeluknya.
"Kenapa sayang, mimpi apa? Minum dulu ya"
tanyanya kemudian dia mengambil air mineral botol di dalam tas kerjanya, dan menyodorkan kepadaku.
"Terima kasih, A" ucapku.
"Aa kapan pulang?"
"Baru aja, dan ketika masuk kamar, Ine sedang sesegukan. Sedih sekali. Ine mimpi apa?"
Aku harus bilang apa? Tapi, kejujuran, harus tetap kami jaga,
"Udah, ambil wudhu dulu ya sayang, sholat. Pasti belum sholat Asar kan?"
ucapnya yang masih duduk di tepi tempat tidur, dan mengecup keningku.
Aa memperhatikan setiap gerakanku.
Setelah sholat, Aa mengajakku duduk di tepi tempat tidur, sedangkan dia tiduran.
aku mencium punggung tangannya.
"Sudah lega?" tanyanya.
__ADS_1
aku mengangguk.
"Ine cantik kalau memakai mukena."
"Oh.. cuma saat memakai mukena? Oke" ucapku pundung.
Dia tertawa, dan memelukku.
"Sini, samping Aa."
ajaknya dan dia memelukku lagi.
"Ine cantik, sampai kapanpun, di mata Aa, Ine adalah perempuan tercantik yang pernah Aa lihat"
"Gombal"
"Waduh, kok banyak snack gitu, kan gak sehat beli itu. sayang. Kalau coklat gapapa." lanjutnya.
"Ine pengen, tadi abis makan sama Alka, Ine mampir ke supermarket. Sepertinya enak sekali."
"Tapi jangan banyak-banyak ya sayang." nasihatnya
Aku mengangguk.
Dan dia tersenyum. Lesung pipinya terlihat ketika dia tersenyum, manis sekali.
"Mulai deh, ngeliatin Aa gitu. Kenapa, sepertinya ada sesuatu nih" ucapnya yang sudah mulai suudzon.
"Dih" ucapku
"Mandi sana, bekas rumah sakit, nanti bawa virus lagi" lanjutku.
__ADS_1
"Biasanya gapapa, biasanya peluk-peluk kalo Aa pulang kerja" kemudian dia membuka bajunya, terlihat bidang dadanya.. Dan aku..
Ah.. apa-apaan.. Akhirnya aku membereskan tempat tidur, dan pura-pura tidak melihat apa yang dia lakukan.