SOULMATE

SOULMATE
Akan sedih bila Ine sedih, dan bahagia bila Ine bahagia


__ADS_3

Pintu kamar hotel berbunyi. Aa segera keluar dan mengambil makanan yang sudah dipesannya.


"Ine pasti lapar, kan?" tanyanya.


Aku tersenyum malu.


Kulipat mukena dan sajadah, dan segera duduk di sebelah Aa.


"Makan yok"


"Banyak sekali pesanannya. kan kita hanya berdua" ucapku. Terkadang Aa suk memesan makanan lebih. Memang habis, tapi uangnya sayang kalau berlebih begini.


"Kita tidak berdua kok. Kan ada dedek yang harus makan juga. Ine makan, dan nutrisinya dimakan oleh dedek." ucapnya sambil mengelus perutku.


"Ine mau makan ayam itu aja"


Aku menunjuk ayam yang ada di depan Aa.


"Sayur juga ya sayang" ucapnya sambil mengambilkan sayur untukku.


"Makan yang banyak. Biar sehat. Mama dan dedek harus sehat"


"Kok Aa gak makan?" tanyaku.


"Ya nanti. Ine makan dulu" ucapnya.

__ADS_1


Aku menggeleng,


"Allahumma bariklana fiima rozaqtana waqina Azabannar" ucapku kemudian hendak menyuapinya.


Aa tersenyum dan akhirnya kami makan bersama,


"Matanya masih sembab. Janji sama Aa, gak boleh nangis lagi ya. Aa sedih, kalau Ine sedih. Aa bahagia kalau Ine bahagia" ucapnya.


Aku membersihkan sisa makanan yang menempel di bibirnya, dan tersenyum padanya.


Malam itu, seusai makan, kami memutuskan hanya menonton acara televisi. Mataku yang belum bisa terpejam, masih terang dengan acara music yang ada. Ku lihat, Aa menutup matanya. Aku tahu dia lelah, perjalanan dari Jakarta, dan sampai di sini, dia belum beristirahat. Ku selimuti dia yang memakai baju kaos oblong warna putih dan celana tidur panjang warna putih. Ku sisihkan rambutnya yang menutupi wajahnya.


Ku lihat dia tersenyum dalam tidurnya. Lelaki itu..


Ku biarkan televisi itu hidup dengan suara paling kecil.


Aku tertidur sambil mendekap bukuku.


"Sayang, bangun. Sudah subuh." ucapnya sambil memegang tanganku.


Aku tersadar, bukuku masih ku pegang.


Aku bangun dan meletakkan kembali ke dalam tasku.


Seusai sholat subuh berjamaah, Aa duduk di sofa kamar hotel.

__ADS_1


"Sayang, sini. Aa mau bicara"


Aku menghampiri.


"Sini" dia memangkuku.


"Masih enteng." ucapnya.


"Pagi ini kita langsung ke rumah papi ya, kita mau belanja keperluan jumat. Oke." ucapnya memelukku dari belakang.


"Kita berdoa, untuk keselamatan Ine dan dedek yang ada di sini" tangannya mengelus perutku.


"Geli ih" ucapku,


Tangan Aa menggelitik perutku.


Aa mencium pundakku, bulu kudukku berdiri.


"Love you, ineke" ucapan itu yang akhirnya menjadi awal kami bercinta. Di atas sofa, dia mulai menggerayangiku. Tak cukup sampai di sana, dia menggendongku sampai ke atas tempat tidur. Bibir kami saling beradu, dan dia mulai dengan aksinya. Aksinya tidak seganas kala aku belum mengalami kehamilan ini. Karena dokter Yusuf, selalu menasehatinya. Tapi walau demikian, dia melakukan dengan benar, sehingga kami merasa sama-sama dipuncak kebahagiaan. Merasakan air murni yang hangat masuk ke dalam bagian yang aku punya. Dan di akhir, dia memelankan gerakannya walau tetap mencium bagian-bagian yang membuat aku melayang. Dan terhenti ketika kami sama-sama kelelahan. Dia mengusap keringat yang ada di keningku,


"Capek?" tanyanya.


Aku menggeleng dan tersenyum, Ku peluk pinggangnya dan berbaring di dadanya.


Dada yang memiliki kesabaran yang luar biasa untuk menghadapi semua tingkah lakuku.

__ADS_1


__ADS_2