
"Sayang, yakin? Hari ini mau kerja?" tanya Aa ketika seusai sholat subuh.
"Yakin, Ine sehat kok. Periksa saja" ucapku sambil menyiapkan bajunya.
Tanpa aba-aba, dia menggendongku dan meletakkanku ke atas kasur.
"Aa mau periksa dan memastikan Ine sehat"
Dia mengambil stetoskopnya dan mulai memeriksaku.
"Ine harus tepat makan, vitamin diminum, dan tidak boleh terlalu lelah. Kalau semua ditepati, Aa perbolehkan untuk kerja hari ini" ucapnya.
Aku bangun dan mengecup bibirnya.
"Tenang pak dokter, pasti semua dikerjakan."
Dia menggaruk kepalanya, tidak akan bisa melarangku kalau aku mau.
"Nanti Aa kirim makan siang" ucapnya sambil mengancing lengan panjangnya.
Aku yang sedang di depan kaca riasku bangun, dan membenahi kerah bajunya yang tidak rapi.
"Nunduk" perintahku.
Dan aku membenahi kerah bajunya, dan merapihkannya.
Dia mencium bibirku,
__ADS_1
"Terima kasih sayang"
Aku yang tidak memperdulikannya langsung melanjutkan riasanku.
Kami meluncur tempat kerja kami, setelah sarapan pagi. Karena belum belanja, bu Min hanya menyediakan sarapan telur mata sapi dan sambel tumis.
"Ini uang belanja, bu. Pak Min nanti tolong antar bu Min belanja keperluan dapur ya" Aa meletakkan uang belanja di atas meja makan yang minimalis itu.
"Nanti Aa kirim makan ya sayang," ucapnya ketika aku hendak turun dari mobil. Aku membalikkan badanku, dan memeluknya.
"Boleh lama-lama gak peluknya?" tanyanya
"Lah... kenapa tiba-tiba gini."
"Ine masih meu mencium aroma parfum Aa" ucapku manja.
"Dah.. Ine turun ya. Ati-ati di jalan ya sayang, jangan ngebut. Sampai di rumah sakit, kabari Ine ya"
"Iya istriku" ucapnya, dan dia berlalu pergi.
Aku masuk ke ruanganku, dengan membawa tas plastik, berisi kacang bali dan pie susu yang akan kami makan bersama nanti. Aku menyisihkan oleh-oleh untuk keluarga Igun.
"Sayang, suami Ine ini sudah sampai rumah sakit dengan selamat, Selamat kerja istriku, jangan kecapekan ya. Aa mau meeting dl ya sayang. Love you to the moon and back"
begitulah isi percakapan singkat, yang membuat aku tersenyum.
Hari itu seperti biasa, pekerjaanku, menyiapkan agenda bosku, menyortir berkas dan bagian yang harus di tanda tangan.
__ADS_1
#Dalam ruangan Igun,
"Gun, bini gue disuruh makan ya, dia lagi gak sehat, gue takut dia drop." ucap Aa ketika menelpon Igun.
"Kenapa disuruh kerja?" tanya Igun.
DY :"Dia bilang kasian sama lu, ngurus kerjaan sendiri. Tolong perhatiin bini gue ya, dan kabari gue kalau ada apa-apa"
I :"Bini lu itu ya, profesional bener kerjanya, gak salah pilih gue, untuk jadiin dia sekretaris gue"
DY: " Tapi lu mesti cari sekretaris baru ya, kalo bini gue hamil. Hahahah"
I : "Iya.. BtW, makasih oleh-olehnya ya."
DY: "Ya sama-sama, gue juga nanti pulang mau ke rumah papi."
I : "Apa Ine bareng gue pulangnya, jadi lu gak usah jemput doi ke kantor"
DY: " Gak lah, gue kangen bini gue. hahaha"
I : "Bucin banget sih lu A.. gak berubah kalo sama si Ine. Dipelet apa lu sampe begini ke dia"
Aku mengetuk pintu ruangan Igun. Dan ternyata Aa dan Igun sedang telponan.
I : "panjang umur bini lu, diomongin udah masuk ruang gue aja, udah ya, nanti lagi ngobrolnya, kalo orang yang di gibahin gak ada"
Aku yang bingung, pura-pura tidak mendengar.
__ADS_1