SOULMATE

SOULMATE
Runtuhnya ego ibu


__ADS_3

"Sudah, tidak apa-apa, dok. Percayakan dengan dokter Febri. Dia yang akan mengurus semuanya. Takutnya, malah dokter Yopi, main perasaan. Namanya istri sendiri. Sudah. Semangat." ucap dokter Andra, Dokter Andra, tau bagaimana Aa mencintaiku.


"Aku hanya takut kehilangan dia. Aku menjadi seperti ini, karena dia. Ternyata, firasatku dulu tidak salah. Cita-citaku ingin menjaganya, seperti ini. Maaf, saya terlalu lemah kalau urusan Ineke" jelas Aa.


"Terus doakan kesehatannya. Tidak ada yang tidak mungkin dimata Allah." Dokter Andra terus menyemangatinya.


"Sudah.. banyak Istighfar, banyak dzikir, perbanyak sedekah, inshya Alloh, Ineke sehat kembali" ucapan dokter Andra membuat Aa teringat sesuatu. Ya, memang bulan ini, dia belum menghampiri panti asuhan yang setiap bulan dia datangi.


Aa tersenyum kepada dokter Andra.


"Thanks, bro" ucap Aa.


Aa berjalan ke ruang praktiknya, dan menelpon ruang perawatanku.


"Selamat pagi" ucap suster Vita.


"Pagi, sus. Apa istri saya sudah bangun? Bagaimana keadaannya?" tanya Aa


"Oh, dokter. Ya dok, bu Ineke sudah bangun. Kondisi masih sama. Daya tahan tubuhnya masih lemah." ucapnya pelan.


Aku melihat suster vita berbisik di telepon itu.

__ADS_1


Tapi aku tidak menghiraukannya.


"Baiklah, sus.. Nanti saya telepon istri saya, tolong sampaikan, ponselnya jangan diletakkan jauh-jauh" perintah Aa kepada suster Vita.


"Baik, dok"


Tak lama, suster Vita menghampiriku.


"Saya letakkan ponsel ibu, di sini ya. Pesan dokter Yopi, nanti beliau akan menghubungi ibu." ucap suster vita


Aku tersenyum.


"Saya keluar sebentar ya bu" ujar suster itu, dan aku mengangguk.


"Bagaimana kondisi istri dokter ganteng?" ucap suster Ana.


"Belum banyak perubahan, beberapa kali, bu Ine hampir jatuh ketika ingin ke kamar mandi." jelas suster Vita.


"Saya kembali ke ruangan lagi ya, kasihan bu Ineke." kemudian suster Vita mengambil ponselnya dan kembali ke ruang perawatanku.


"Dokter Yopi, sangat mencintai istrinya. Denger-denger kabar yang beredar sih, bu Ineke, pacarnya dari SMA. Mereka menikah setelah menyandang status janda dan duda. True love banget ya, Dan sekarang, dokter Yopi sudah gak jutek 100 % lagi. Mungkin karena watak bu Ineke, jadi merubah sifat lama ke sifat aslinya" ucap suster Ratna kepada suster Ana yang hanya stay di ruang jaga itu.

__ADS_1


tok. tok. tok


Seorang wanita hampit paruh baya, memasuki ruanganku.


"Permisi sus, saya ibunya bu Ineke" ucap ibuku.


"Oh ya, bu.. kalau begitu. saya permisi dulu ya bu" ucap suster Vita.


"Terima kasih, sus"


Dan ibu menghampiriku.


Ibu memandangiku.


"Anakku, maafkan ibu." di rapihkan rambut yang menempel di mukaku.


Karena obat yang diberikan, aku tertidur.


Ibu mengingat pesan ayah.


"Jangan menangis di depan Ine, cukup doakan Ineke. Ikhlaskan Ineke dan Yopi. Sampai saat ini, ayah tidak melihat gerak gerik Yopi yang akan menyakiti Ineke. Justru ayah melihat ketulusan hati Yopi kepada Ineke. Sudah lah bu, buang jauh pikiran ibu. Untuk harta, memang almarhum Herli lebih dari Yopi, tapi, cinta Ineke ke Yopi lebih besar. Dan Yopi juga terlihat sangat mencintai anak kita. Yopi juga bukan pengangguran. Dia mewujudkan cita-citanya, karena melihat kondisi Ineke dari SMA itu lemah. Tidak usah egois dengan keputusan kita. Kasihan mereka. Ikhlaskan mereka menjalani kehidupan mereka." Ibu mengingat pesan ayah dan akhirnya menangis. Ibu mana yang tega melihat anaknya menderita, Ibu mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia, dan akhirnya, runtuhlah ego ibu saat itu.

__ADS_1


"Maafkan, keegoisan ibu, nak"


__ADS_2