SOULMATE

SOULMATE
Bagai disambar petir di siang bolong


__ADS_3

Pagi itu, adalah saat dimana kami harus benar-benar menyeleksi sekretaris yang akan menggantikanku. Igun tidak keberatan untuk tetap menggajiku, asalkan aku mengajarkan kepada sekretaris yang baru bagaimana cara kerjaku.


"Ne, ntar lu yang panggilin ke ruang gue ya. Berkas lamaran udah dikumpulin belum?"


tanya Igun.


Aku lupaaaaa..


Ku kumpulkan semua berkas yang ku letakkan di laci mejaku.


Beres.


"Sarah, nanti kalau pelamar datang, kamu berikan berkas mereka, ya. Dan kalau ada yang belum datang, kabari saya ya. Jadi saya bisa laporan ke bos" ucapku kepada Sarah, yang berada di meja recepsionis depan.


Pelamar yang ingin menjadi penggantiku hari ini, ada 10 orang, 5 pilihan dariku, dan 5 pilihan dari Igun. Kami sengaja membagi 2 pekerjaan itu, karena yang melamar hampir 40 surat lamaran.


Di depan ruang Igun, sudah ada 8 pelamar yang datang. Mereka berpenampilan rapi, cantik, layaknya sebagai sekretaris. Aku tersenyum melirik mereka. Semoga ada diantara mereka yang mau bekerja dengan baik. Berkas yang mereka ambil dari meja Sarah sudah dikembalikan mereka di mejaku lagi, aku membaca berkas itu lagi.


Satu persatu mereka ku panggil ke ruang Igun. Aku memperhatikan bagaimana mereka berbicara, dan menyelesaikan pertanyaan yang harus mereka jawab.


"Habis?" tanya Igun. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang.


"Lu belum makan, ne. Nanti laku lu marah pula sama gue, karena nahan lu makan." lanjutnya.


"Gue belum laper. Belum dapat berkas masuk dari Sarah lagi." ucapku, tak lama kemudian

__ADS_1


tok. tok. tok


"Permisi mbak Ine, ini berkas ke 9, orangnya baru datang."


ucap Sarah sambil menyerahkan berkas itu.


"Oh, sekalian bawa masuk aja deh" ucapku sambil menyerahkan berkas terakhir tanpa ku buka dulu.


"Siap, mbak. Silahkan masuk" ucap Sarah kepada pelamar ke 9 itu.


"Permisi, pak" ucap pelamar itu.


Suara itu, sepertinya tidak asing.


Aku menoleh ke arah suara. Mataku membelalak.


Igun melihat raut mukaku yang tidak enak.


Aku tersenyum, menyembunyikan keterkejutanku. Bagai disambar petir di siang bolong.


"Silahkan" ucapku mempersilahkan si pelamar itu ke meja Igun.


Igun memperhatikan gerak gerikku yang seolah risih dan salah tingkah.


"Oke. Saya kita sudah selesai. Nanti kami panggil lagi, nanti mbak Ineke yang akan menghubungi ya" ucap Igun.

__ADS_1


"Terima kasih, pak. Saya berharap banyak akan bisa bergabung di sini" ucap pelamar itu lagi.


Aku bangun dari tempat dudukku, dan mengarahkannya ke pintu keluar.


Aku hanya diam.


Setelah di depan pintu, dan pelamar itu berlalu, aku membereskan berkas-berkas itu.


"Gimana menurut lu, Ne? Dari 9 pelamar yang datang hari ini, siapa yang berkompeten buat pengganti lu."


Aku masih diam.


"Ne.. " panggil Igun. Ternyata itu panggilan ketiganya.


"Maaf Gun. Sorry. Gue kurang minum kali ya." Dan aku langsung minum.


"Ya sudah, kita makan sambil membicarakan hasilnya yuk.. Perut gue juga udah laper bener," ajak Igun.


Aku segera mengambil tasku, dan mengikuti langkah bosku.


Diperjalanan, aku masih diam dan merasa bingung juga heran dengan kejadian tadi.


"Lu kenapa sih Ne, seperti abis lihat setan aja. Tiba-tiba jadi pendiem gitu." Igun memulai pembicaraan.


"Udah, nyetir yang bener aja, nanti ada apa-apa lagi." ucapku ke bosku yang sekaligus temanku.

__ADS_1


Kami sampai di tempat makan ayam kalasan. Ya, karena tempat ini yang lumayan dekat dari kantor dan masakannya enak.


#Terima kasih teman-teman yang masih setia membaca novel ini, jangan lupa like dan komentar nya ya, supaya author lebih semangat lagi..


__ADS_2