
Aku bersama ibu dan kakakku pergi ke rumah saudaraku, menjenguk nya karena baru saja melahirkan. Tante melahirkan ketika ibuku dirumah sakit juga. Jadinya aku baru bisa menemui sekarang.
Pulang dari rumah saudara aku menjenguk bayi tetanggaku,
"Bu maaf nih Zara baru bisa menjenguk dede nya sekarang."
"Iya ga apa-apa makasih banyak ya. "
"Sama-sama bu. "
"Gimana sama Rangga nya jadi nggak? "
"Lah kok ibu tau? " aneh, padahal aku ga pernah cerita sama bu Dina tentang Rangga. Baru ketemu sekarang juga dengan bu Dina.
"He... he... ibu ngikutin novel mu Zara. "
"Ibu baca juga ya?"
"Iya, kamu hebat Zara melewati semua ujian mu sendiri. "
"Ada Allah bu yang selalu membantu Zara. "
"Oh iya bukannya Rangga tuh adik nya Syifa ya, pemilik Toko Grosir itu?"
"Ga tau bu, A Rangga bilang sih masih sodara nya."
"Iya deh, setau ibu sih gitu."
"Ha. .ha. .ga tau bu Zara, setau Zara sih a Rangga kerja disitu itu aja sih."
"Masih komunikasi lancar, aduh ibu kepo ya Zara." kata bu Dina sambil tertawa.
"Ga terlalu sih bu, paling sekedar ketemu pas belanja aja, jarang belanja nya juga, kan suka di anter si om kesini belanjaannya."
__ADS_1
"Oh iya, ibu juga suka lihat yang di mobil itu kan."
"Iya bu, karena kan Zara udah ga ada mobil, a Rangga bilang ga usah khawatir, barang bisa suruh si om aja yang nganter ke toko."
"Mungkin tunggu Zara berkembang dulu usahanya, baru nanti Rangga nya ke rumah, melamar Zara."
"Ha..ha.. ga mungkin bu orang A Rangga nya aja punya pacar."
"Masa sih?"
"Iya, makanya kemarin ibu masuk ICU, saking kagetnya dikira beneran nunggu masa iddah selesai, ga tau nya udah punya pacar."
"Kok gitu ya?"
"Ga apa-apa pengalaman hidup bu. Karena memang Zara ga tau latar belakang Rangga gimana, terus tertutup juga orangnya."
"Misterius ya."
"Iya pasti, ikhlaskan aja."
"Iya bu."
Zara dan Rangga memang terhubung dari mimpi petunjuk dari shalat istikharah. Zara berusaha berkali-kali membuktikan apa petunjuk istikharah itu benar atau tidak, mungkin benar untuk pelajaran hidup, tapi salah mengartikan untuk menjadi teman hidup.
Karena pertama kali yang muncul dalam mimpi itu suara a Rangga. Yang berkata ayo pulang, aku ikut. Bukan wajahnya. Dan selama 3 bulan masa iddah, Zara dan Rangga hanya bertemu satu kali secara dekat, komunikasi yang baik. Ketika memperbaiki printer. Jika bertemu di tokonya, itu hanya keperluan belanja, tidak membahas masalah pribadi. Seperti halnya ketika aku pertama kali mencarinya untuk membicarakan cicilan mobil, Rangga berlalu meninggalkan ku yang terpaku dalam mobil, dia hanya bilang hari minggu nanti kita bicara di rumah. Ternyata tidak kunjung datang sampai hari ini.
Tapi, suaranya motivasinya yang a Rangga berikan melalui pesan whats app, mampu menemani masa iddah ku sampai selesai, menjadikan ku pribadi yang lebih baik, bahkan menuntunku untuk berhijrah secara tidak disengaja. Dan aku melakukan semua itu atas dasar naluri alami yang terjadi pada diriku setelah bertemu Rangga.
Dalam mimpiku aku melihat bangunan 2 lantai. A Rangga bilang kita isi bareng-bareng bangunan itu aku akan pindah dari tempat ku sekarang ini milik kakakku.
Bangunan itu bukan bangunan yang siap pake, tapi bangunan tua, yang gelap, penuh lumut hijau, tanpa kaca dan pintu tidak ada lampu penerang juga. Bangunan kosong yang tua perlu renovasi untuk kita bisa mengisi bangunan tua itu. Hanya terlihat nama toko nya di atas yang nampak terlihat sangat kokoh, berbeda dengan kondisi bangunan nya masih perlu di renovasi. Aku mengartikan mungkin masih banyak yang harus diperbaiki dalam diriku maupun diri a Rangga pribadi untuk mencapai sebuah pernikahan entah menikah nya Zara dengan Rangga, atau Zara dengan orang lain, Rangga dengan Orang lain, entahlah hanya tuhan yang tau. Tetapi diperjalanan ini aku telah merasakan Cinta sejati yang begitu Indah, mencintai seseorang tanpa menuntut harus memilikinya. biarlah dia bahagia, aku juga bahagia, mungkin itulah yang disebut perjalanan menemukan Cinta sejati dalam keindahan skenario tuhan.
Setelah masa iddah berlalu aku bermimpi lagi tentang a Rangga, aku melihat jelas wajahnya. Sampai aku membuktikan kebenaran mimpi itu, aku menemui nya di gudang toko. Akhirnya Zara dan Rangga ngobrol nyambung. A Rangga memberikan ku dua pilihan antara toko dan mobil. Akhirnya aku memilih toko dan melepaskan mobil. Apapun yang A Rangga katakan untukku memang baik untuk ku walaupun terkadang caranya menyakitkan. Maka dari itu aku tidak pernah bisa untuk membenci nya, meskipun dia tidak mencintai ku, tak apa. Tapi aku akan selalu mencintainya tanpa mengharapkan balasan dari nya. Di akhir pertemuan ku dengan nya digudang waktu itu A Rangga berkata nanti kita bicara lagi di rumah Zara. Sekarang kamu istirahat dulu. Sampai saat ini Rangga tidak pernah datang.
__ADS_1
Setelah ibu ku pulang dari rumah sakit. Aku bertanya kepada A Rangga kapan akan menemui ibuku. A Rangga menjawab sambil menatap ke jalan waktu itu. Insya Allah nanti kalo udah ga sibuk ke rumah. Mungkin inilah yang membuat keadaan nya Never ending story. seperti masih ada sesuatu yang aku tunggu walaupun hasil nya aku tidak pernah tau. Tak apa lah hanya tuhan yang tau takdir hidupku seperti apa.
Yang penting sekarang aku menjalani hari-hari ku sebaik mungkin, terus memperbaiki diri. mengembangkan usahaku, sisa nya serahkan kepada Allah, yang maha kuasa, maha membolak-balikan hati manusia, maha menghendaki atas segala sesuatu hal di muka bumi ini.
Terakhir tadi malam aku bermimpi, ada sebuah acara pesta yang diikuti banyak orang di rumahku, aku di dandani oleh sodara ku, di kamar ku sendiri. Aku melihat a Rangga sedang sibuk didapur rumah ku, memasak, Aneh ya kok a Rangga memasak di rumah ku. Setelah aku selesai make up aku menemui nya di dapur rumah ku.
"A Rangga lagi apa? "
Sambil tersenyum a Rangga berkata.
"Aku sedang memasak untuk semua tamu. "
"Waww banyak banget. "
Aku melihat banyak sekali makanan yang telah ia masak dengan sendirinya tanpa bantuan orang lain.
"Ga apa-apa, nanti kalo udah selesai, kita jalan-jalan ya. " sambil tersenyum.
"Kemana? " Zara bertanya.
"Ke suatu tempat yang Indah, aku akan tunjukan pasti kamu suka. "
"Ok. " aku tersenyum bahagia dan kembali ke kamar ku.
Tak lama aku keluar mencari a Rangga. Aku lihat a Rangga berdiri dipintu pagar rumahku sedang melihat toko ku yang rame sekali pembeli nya sampai ngantri keluar-luar.
"A Rangga. " aku memanggil nya dari pintu rumah ku.
Dia berbalik menoleh melihat wajahku dan tersenyum.
Latar rumahnya, rumah ku sekarang, keadaan tokonya memang toko ku sekarang. Penampilan A Rangga nya persis penampilan a Rangga sekarang. memakai kaos putih celana hitam. Rambut nya yang gondrong tidak diikat tapi rapi.
Aku terbangun dari tidur ku. Aku tidak mampu lagi untuk mengartikan mimpi itu, aku takut salah lagi. Mungkin itu mimpi hanya sekedar mimpi.
__ADS_1