SOULMATE

SOULMATE
70


__ADS_3

Pagi ini aku mengirimkan pesan ke A Rangga.


"A Rangga, ada lowongan ga disitu? Buat input gitu, atau buat nata-nata barang, apapun boleh aku bisa. aku mau ngelamar kerja. Di pabrik aku dulu kerja ga ada lowongan, di pabrik lain ada tapi harus pake uang 9 juta. Mau ke dubai mamah sakit, ga ngasih ijin."


Ga ada balasan pesan dari kamu.


Ibu kembali memanggil aku ke kamarnya.


"De bawa aja ibu ke jalan kereta. biar ketabrak kereta sekalian, udah bosen hidup udah ga kuat pusing."


Aku mencoba menenangkan ibu.


"Sabar bu, ga boleh ngomong sembarangan. Ga usah banyak pikiran aku ga apa-apa, kuat. "


"Barang toko abis, uang buat mobil udah ada? "


"Iya ga apa-apa cuma sementara nanti kalo udah ada rezekinya kita belanja lagi, uang mobil ada. Tinggal disetor sekarang."


"Bukan ga ada pembeli, itu dari pagi pembelinya banyak, tapi barang nya abis. Kamu mau jual apa? Kalo nyawa ibu bisa dituker uang, jual aja. Hidup pun ibu udah ga mampu udah lama sama penyakit jantung juga mending ibu mati biar hidup ibu tenang. "


Aku hanya bisa menunduk dan menahan untuk tidak menangis. Aku tidak bisa menjawab apapun.


"Kalo mobil ga mau dilepas, pinjem online aja untuk bulan sekarang, uang yang ada pake buat belanja."


"Riba bu, aku ga mau. Sekarang iya ketolong, bulan depan mau dari mana untuk bayar pinjolnya sedangkan ada bunga juga yang harus dibayar. Kalo mobil mau dilepas aku cari tau dulu, mau dilepas kesiapa. Kalo kembali ke leasing uang cicilan ga akan kembali, sedangkan selama ini aku udah nyicil sekuat tenaga. Terus sekarang aku harus lepaskan dengan mudah."


"Ya sudah pikir aja dulu cari jalan keluar yang terbaik. "


Aku ga tau harus berbuat apa, aku bingung. Aku mengeluarkan mobil ku dan menuju ke toko A Rangga. Aku harus bicara.


Aku bertemu A Eko didepan toko.


"A Rangga kerja ga? "


"Ada teh di gudang. "


"Oh iya, makasih ya. "


"Aku masuk, ternyata kamu ada. Jongkok merapikan stock barang. "


"A Rangga."


Kamu menoleh kepada ku, entah kaget atau tidak.


"Mau apa? "


Aku pegang tangan nya.


"Kita bicara yuk, dibelakang."


"Bicara apa?"

__ADS_1


Aku masih memegang tangan nya dan mengajak nya berdiri.


"Hayu, ikut aku mau cerita."


Anak-anak yang lain hanya melihat tingkah aku yang aneh mungkin. tapi aku tidak peduli.


Akhirnya kamu berdiri aku mengikuti nya ke gudang.


Aku memegang tangan kamu dan berharap kamu mau mendengar kan cerita aku.


Aku jongkok didepannya Dan A Rangga duduk di atas tumpukan dus didepan ku.


"Kenapa? "


Aku hanya menunduk dan nangis.


"Udah kesini sekarang, mau belanja apa mau nangis? "


Aku mencoba menarik nafas ku, coba tenang dan mulai bicara.


"Aku harus gimana? "


"Gimana apanya? "


"Ibu sakit, barang toko abis, uang nya dipake nyicil mobil. "


"Mau pilih mobil apa toko? Pasti belum shalat istikharah kan? makanya gitu."


"Untuk sekarang aku jangan di masukin pilihan ya. "


Aku memukul nya dan mencubit-cubit kakinya.


"A Rangga jahat, jahat banget. "


Kamu hanya teriak sakit.


"Jangan gitu, nanti kaki aku bisa bisulan. "


Itu gak seberapa jika dibandingan kan dengan hati aku, mau bisulan, mau memar bodo amat, hati aku juga udah mati rasa. Andai tidak ada Mawar di hatimu, tapi ya sudahlah bukan waktunya untuk mengurusi percintaan. Yang penting untuk sekarang kamu bisa membantu ku untuk menemukan jalan keluar sudah cukup.


"Mau dilepas mobilnya?"


"Kemana? tawarin A Fadli aja kalo mau. "


"Ga mau a Fadli sayang mobil gitu dipake muatan sembako."


"Ga masalah, dari pada di pake selingkuh. lebih bermanfaat dipake usaha. Terus kalo mobil dilepas aku belanja gimana? antar jemput sekolah gimana? "


"Ada si om, bisa dianter barang belanja an dari sini langsung ke toko, pake ongkos kirim tapi. Jarel pake motor bapak aja antar jemput."


"Bapak gak punya motor. "

__ADS_1


Aku kembali menunduk dan menangis dengan kencang.


"Hey, nangis ga bisa menyelesaikan masalah. "


"Kalo mobil dikembalikan ke mana, ke si itu apa ke dealer? Uang cicilan kembali nggak?"


Aku hanya menggelengkan kepala dan menangis.


"Kalo ga kembali anggap aja selama ini uang sewa mobil karena udah dipake kan.


Tangis ku semakin kencang.


"Kalo Chandra kemana?"


"Mundur. "


"Pasti lah, laki-laki mana yang mau kalo tau hati kamu seperti itu."


"Ya kan itu kenyataan A Rangga aja yang ga punya perasaan. "


Aku kesel, aku tekan-tekan punggung kakinya dengan kunci mobilku.


"Sakit hey. "


"Sakit ya, sama hati aku juga. "


Banyak anak-anak masuk bawa dus-dusan dan orang yang beli juga. Sales distribitor juga. Mereka senyum melihat aku. Aku tidak peduli mereka aku hanya diam saja.


"Mendingan shalat istikharah lagi. "


"Iya. "


"Udah nemu jawaban nya. "


"Bosen, cape. Shalat istikharah atau nggk jawaban nya selalu tertuju padamu a Rangga Aku cape, bahkan tidur pun aku mimpi nya sama kamu. Apa aku ga boleh tidur aja sekalian. "


Kamu hanya tertawa.


Ada yang manggil dari luar.


"A Rangga barang datang. "


"Iya. "


"Ya sudah aku juga mau jemput jarel ke sekolah."


"Iya pulang dulu aja, nanti dibicarakan lagi. "


"Iya. "


Aku pun keluar, masuk mobil dan menuju pulang. Entah mengapa setelah bicara dengan mu hati ku lega. Meskipun tidak mendapatkan solusi.

__ADS_1


__ADS_2