
Hari ini jadwal membawa resep obat ibu ke Apotek. Karena obat yang dari rumah sakit hanya untuk satu minggu aja.
Aku mengantar anakku ke sekolah, setelah itu langsung ke Apotek untuk membawa obat ibu. Aku bawa selembaran CV Taaruf ku yang aku simpen ditoko.
"Bawa apa itu?"
Ayah ku bertanya.
"CV sama fotokopi KTP, mau mampir mesjid Agung, Kali aja ada komunitas Taaruf disana. Mau daftar? "
"Kamu macem-macem aja. "
"Namanya juga ikhtiar, Kalo ayah mau cariin boleh. Jangan diem aja terus nyalahin aku salah pilih orang. Aku balik tanya ayah, bisa ga cariin aku jodoh yang terbaik?"
"Nggak. "
"Ya udah jangan komplen, aku memang percaya jodoh ditangan tuhan, kalo jodoh ga akan kemana, jodoh tidak akan tertukar, kalo jodoh pasti suatu saat dipertemukan, kalo jodoh pasti ada jalannya. Tapi ga ada salahnya untuk ikhtiar agar aku bisa memilih mana yang terbaik yang pantas untuk menjadi pedamping hidup aku."
"Iya " ayah ku menjawab dengan senyum.
"Emang ayah mau gitu, lihat aku seumur-umur ga nikah lagi."
"Ya nggak lah."
"Ya udah kalo udah berusaha semaksimal mungkin, terus pada akhirnya aku tetap harus sendiri, ya aku gak akan pernah menyesal karena aku sudah berusaha. Kita hanya berencana, Allah yang menentukan."
"Sana-sana berangkat, bawel. kesiangan nanti jarel."
"Ok."
"Hati-hati."
"Iya."
Sampai di Apotek yang biasa aku ambil obat ibu, ternyata apoteker nya bilang sudah tidak kerja sama lagi. Pindah ke Apotek yang lain.
Aku tanya ke tukang parkirnya alamat Apotek yang baru, dia pun menunjukan jalannya pada ku. Lumayan lama menunggu obatnya, Aku berpikir.
__ADS_1
"Aduh keburu ga ya ke mesjid Agung."
Akhirnya obat nya selesai. Aku langsung menuju masjid Agung. Ternyata masih dikunci dan tidak ada satu pun pengurus masjid nya yang terlihat. Usaha ku gagal, ya sudah aku pulang. Lain kali bisa mencoba lagi ke sini.
Aku telpon Ayahku untuk jemput Jarel disekolah karena sudah jam 9.40 masih di Mesjid Agung, Pasti ga akan keburu nyampe sekolah.
aku lihat dompet ku hanya ada 300 ribu. Aku mampir Grosir dulu deh, lumayan bisa buat beli snack jajanan anak-anak. Tapi bukan tempat A Rangga karena ga akan cukup belanja dengan uang segitu, ga akan dapet apa-apa.
Aku pulang ke toko dan merapikan barang belanjaanku. Jarel juga udah ada di rumah, dijemput kakeknya.
Aku kembali cek aplikasi Taaruf.co.id. Ternyata banyak sekali pesan masuk. Aku hanya cek pesan dari orang yang masuk kriteria ku aja.
Ada Khoiron Fadhil usia 32 single Dad. Ternyata masih tetangga.
"Kamu kakaknya Leni bukan? "
"Bukan. "
"Oh iya, pasti kamu kenal keluarga aku. Ayah kamu siapa namanya?"
"Coba tanyain kenal bu Didah nggak? "
Aku bertanya kepada Ayah dan ibu, ternyata memang benar mereka tau keluarga nya.
"Maaf kalo boleh tau kamu pake aplikasi ini buat tambah teman atau niat nyari yang serius? "
"Mau nyari calon suami, ngapain hanya buang-buang waktu kalo bukan untuk serius. Karena waktu adalah uang. " haha.. aku ketawa.
"Sama tetangga kampung emang ga apa-apa? "
Aku balas senyum aja.
"Nama mamah kamu siapa?"
"Ibu Nani, mamah aa siapa namanya? "
"Ibu Eti. "
__ADS_1
"Adiknya H Rahmat bukan, kata ibu kenal? "
"Iya."
Chat nya berakhir ternyata ibuku tau keluarga nya orang ini.
Sore nya ada Saudara ke rumah.
"Mau jadi ya mobil nya sekarang, 20 juta gimana? "
"Ya sudah lah, kalo emang ga bisa lebih. "
"Ga bisa, itu penawaran paling tinggi soalnya cicilan kedepan nya masih lama. "
Aku bertanya pada anakku.
"A mobil nya di jual ga apa-apa? "
"Ga apa-apa mah, mobilnya udah jelek kan kemaren ketabrak orang. Mending nanti beli lagi yang baru ya kalo punya uang. "
"Iya siap, aa berdo'a aja ya."
"Iya mah. "
"Om boleh lah sekarang, silahkan aja. " Aku bilang pada saudara ku.
"Ya sudah. Transfer aja ya ga bawa uang cash soalnya. "
"Iya boleh."
Dengan hati tanpa beban aku bertransaksi untuk melepaskan mobil kesayangan ku selama ini. Pada waktunya ternyata tidak begitu sulit, karena mungkin perjuangan aku selama ini sudah lebih dari cukup. Meskipun aku harus kehilangan nominal uang ku yang selama ini telah aku pake untuk cicilan sebesar 120 juta. Itu bukan uang sedikit dan hasil jerih payah juga. Tapi hatiku terasa biasa saja aku ikhlas.
Mobil ku dibawa orang lain. Aku dan jarel hanya bisa melambaikan tangan.
"Dadah mobil, baik-baik ya disana kita sayang sama kamu, tapi waktu bersama kita cukup sampai disini. "
"Dadah. " Anakku melambaikan tangannya sambil tertawa.
__ADS_1