SOULMATE

SOULMATE
125


__ADS_3

Hari ini aku belanja ke tempat a Rangga langsung, karena hari senin biasanya rame si Om pasti nganter barang nya sore, Aku butuh rokok dan barang-barang rencengan lainnya.


Sebelumnya aku kirim pesan Whats app a Rangga.


"Besok toko buka ga? apa masih libur lebaran."


"Buka."


"Oh ya udah."


Tiba ditoko a Rangga aku langsung masuk bersama Jarel, ternyata benar yang belanja banyak sekali sampai penuh orang-orang di depan kasir.


Setelah aku mencari barang belanjaan ku, aku menghampiri meja kasir. Eh ternyata a Rangga ada di situ, jongkok dibawah, sedang packing barang belanjaan dan scan barcode nya juga.


Aku melewatinya dan mencari barang lain. Ternyata yang belanja semakin banyak aku tidak bisa bergerak kemana-mana.


Ya sudah aku bediri dibelakang A Rangga sambil nunggu antrian yang lain juga. Zara perhatikan A Rangga dari belakang. Begitu sibukah dia bekerja sampai-sampai badan nya terlihat semakin kurus.


Jarel berdiri di samping a Rangga sambil memperhatikan A Rangga yang sedang sibuk dengan scan barcode nya.


"A ambilin permen tuh, mamah susah ngambilnya." Aku menyuruh jarel, karena tidak bisa bergerak saking banyak nya orang yang belanja."


Dengan senang hati anakku mengambil semua makanan dan di simpan di keranjang disamping a Rangga.


Aku berdiri dibelakang a Rangga sambil terus memperhatikan cara kerja dia seperti apa. Sesekali a Rangga merapikan rambutnya dengan bando lalu mengikatnya dengan rapi.


"Om." aku menyapa si om yang dateng sambil senyum membawa rokok dari luar.


"Rangga tuh barang nunggu diluar." Si om memberi tahu a Rangga.


"Biarkan saja om, mau ditungguin ga apa-apa sampe magrib juga katanya. Beresin ini dulu." A Rangga menjawab.


"Oh ya udah."


Sekarang giliran barang belanjaan ku yang di packing a Rangga.


Sepatah kata pun tak keluar dari mulutnya untuk sekedar menyapa ku, tidak sama sekali. Orang ini benar-benar. Seasing itukah Rangga dan Zara sekarang bahkan untuk menyapa pun tak bisa.


Tak apa, perlahan aku mencoba terbiasa karena ternyata setelah lama menunggu A Rangga tak kunjung berubah. Mungkin memang A Rangga orang asing bagiku selamanya akan tetap menjadi orang Asing.


Aku ke gudang untuk melihat snack, supaya besok tinggal pesen ke si om. Ternyata gudang nya penuh sekali dengan barang sekarang, tak ada celah tempat dimana aku dulu menangis dihadapan a Rangga waktu itu, Tak ada lagi. Mungkin memang semuanya telah berubah. Waktu nya aku terbangun dari mimpi ku, A Rangga tak sama lagi seperti dulu. Keadaan pun tak sama lagi seperti dulu. Aku harus sadar dan menerima kenyataan bahwa memang Zara dan Rangga tak kan pernah bisa bersama.


Takdir bisa mengubah yang tidak Cinta menjadi Cinta, tetapi Cinta tidak bisa mengubah yang bukan takdir menjadi takdir. Itulah kenapa kamu perlu berdo'a, agar ketika kamu jatuh Cinta kepada yang bukan takdir, ikhlas akan selalu hadir di akhir. Bukan Allah tidak mengabulkan do'a Zara, tapi mungkin memang Rangga tidak ditakdirkan untuk bersama Zara.


Aku kembali dari gudang dan membayar barang belanjaan ku.


"Zara nanti ini barang nya di anter." Teh syifa menyimpan bon ku disamping nya.


"Teh Zara hadir loh."


"Oh..iya ada, kirain di anter." Teh syifa tersenyum padaku.


"Hadir." sambil aku tunjuk tangan.


"Ya udah ditunggu sebentar rokok nya di siapin dulu."


"Iya."


Aku berdiri didepan A Eko menunggu rokok. Dibelakang ku ada a Rangga yang masih sibuk dengan scan barcode nya.

__ADS_1


"Zara nyate ga kemarin" A Eko bertanya padaku.


"Nyate sampe pusing, kena asap nya a. " Sambil tertawa aku ngobrol dengan a Eko dan temannya juga.


A Eko salah ngambil kantong, terlalu kecil. Kurang fokus dia karena sambil bercanda juga. Seru sih orang nya baik. Tidak seperti orang yang di belakang ku itu ga bisa di ajak komunikasi baik-baik.


A Rangga kembali dari luar membawa barang belanjaan ku.


"2 kan? aku tunjuk tangan aja, tanpa bicara. "


"Iya." A rangga menjawab.


Orang nya aneh sih, orang yang paling aneh yang pernah aku temui. gak suka di ajak ngomong, ya sudah lah mungkin memang orang nya begitu. ga perlu dipikirin lagi. Dari pada ikut pusing kebawa g jelas nanti aku nya.


Sampai di luar, aku angkat ternyata belanjaan ku berat juga. Aku bawa satu ke dalam angkot.


"Mang tunggu sebentar ya. Satu lagi barang nya belum diambil. " aku bicara kepada sopir angkotnya.


"Iya boleh, ditunggu. "


Aku kembali untuk membawa barang belanjaan ku. Untung ada a Hilmi didepan yang baik hati.


"A bantuin angkat barang belanjaan ku yuk berat. "


"Siap. "


Memang a Hilmi baik, ga neko neko kaya Yuda orangnya.


"Makasih ya a."


"Sama-sama, hati-hati ya. "


A Hilmi membantu ku membawa barang belanjaan ke dalam angkot.


Sampai di toko ku aku merapikan belanjaan ku bersama ayah.


"Aki apaan coba A Rangga, ngebarcode nya tuh satu-satu ga bisa langsung kaya mamah." Jarel heboh menceritakan a Rangga kepada kakeknya.


"Emang gimana? " Ayah ku bertanya.


"Gini ya, mana coba sabun mah sabun. A Rangga barcode nya satu, dua, tiga sampe sepuluh gitu. Kan lama, aa pusing liat nya juga." Jarel membawa sabun dan mempraktekan nya ke mesin scanner.


Aku ketawa ternyata anakku mengamati kerja A Rangga juga.


"Pinteran mamah deh dari pada a Rangga, Kalo mamah kan satu kali scan barcode terus nanti tinggal di ketik aja ada berapa barang nya. Iya kan mah? bukan satu satu gitu, lama. Kan barangnya juga sama. "


Aku dan ayah ku tertawa melihat kelakuan Jarel. Pinter juga ini anak, udah belajar jadi kasir dari TK.


"Beda sistem nya mungkin a, Yang A Rangga sama yang mamah pake itu beda sistem kasirnya jadi cara kerja nya beda. " aku menjelaskan ke Jarel.


"Ah kelamaan, mending punya mamah cepet. Kalo liat a Rangga kaya gitu, pusing aa nya juga. "


Aku gak bisa berhenti ketawa. Pinter banget kamu Jarel tau cara menghemat waktu.


Tiba-tiba ada telpon dari pa penghulu yang mengurusi perceraian ku bersama Ditto.


"Assalamu'alaikum pa. "


"Wa'alaikum salam, gimana Zara sehat?"

__ADS_1


"Alhamdulilah."


"Ini pa amil tuh mau tanya masalah mobil, kemarin Ditto nelpon saya, katanya mobil nya di over sama Zara, terus Ditto mau laporin Zara ke polisi gara-gara melanggar perjanjian."


"Oh iya pa."


Aku menceritakan semua kronologinya tentang mobil, dan juga Rencana Ditto untuk menggugat aku ke polisi. Akhirnya pa penghulu pun paham dengan semua penjelasan ku.


"Terus surat cerai nya gimana pa, udah bisa diambil?" Zara bertanya."


"Belum."


"Loh kenapa pa?"


"Baru mau diurus sekarang."


"Astagfirullah Zara kira semuanya sudah selesai ternyata baru diproses sekarang."


"Berhubung talak nya 3 sekaligus, terus alasan perceraian nya pun tidak bisa diterima karena hanya alasan ga mau nyicil mobil, terus udah ga mau hidup bersama lagi. Makanya proses nya di tunggu sampai 4 bulan dulu. Baru bisa diproses, Ditto di anggap ga ada.


"Janda mati gitu pa?"


"Bisa jadi, karena mau nyusul Ditto pun entah dimana keberadaan nya sekarang kan ga tau. Nah makanya untuk apa Ditto sekarang mau muncul melaporkan Zara ke polisi. Sama aja mau menyerahkan dirinya sendiri. Sedang kan Ditto udah di anggap mati. Supaya selesai urusan perceraian nya. Semua di urus pengacara."


"Ya ampun aku tidak pernah menyangka proses perceraian ku akan dibuat seperti itu. Aku kira semuanya selesai di bulan februari waktu itu. Dan aku anggap Ditto telah mati. Dan sekarang ucapan ku jadi kenyataan bahkan dari pihak pengadilan pun Ditto dianggap mati sekarang. Sama halnya leasing menggangap Ditto mati juga. Aku tidak pernah bermaksud untuk memperburuk nama Ditto. Tapi semua orang menganggap Ditto seakan-akan telah mati padahal masih ada di dunia ini."


Keadilan akan terungkap ketika tiba waktunya yang sangat tepat. Allah maha kuasa atas segala sesuatu yang terjadi. Aku tidak bermaksud membalas segala perbuatan buruk Ditto kepada ku, karena aku tau Zara pun adalah manusia penuh dosa. Tapi Allah sangat adil. Sekarang nama Ditto di blacklist dimana-mana.


Siapa yang menanam kebaikan akan dibalas kebaikan, siapa yang menanam keburukan akan mendapatkan balasan yang buruk pula.


"Saya tahan Ditto untuk tidak menggugat kepolisi, karena untuk apa. Ga ada gunanya. " Pa penghulu bicara seperti itu.


"Memang sih pa Zara juga ga mengerti pemahaman Ditto seperti apa."


"Minta foto KTP sama KK Zara aja sekarang kirimin ya. Mau diproses perceraiannya. "


"Iya pa. " Aku kirimin ke pa penghulu semuanya.


Pantas saja aneh, kenapa pa penghulu dulu bilang masa iddah ku berakhir tanggal 22 Juni 2022, sedangkan perhitungan ku 22 Mei 2022. Padahal memang benar jika hitungan janda Mati itu 4 bulan.


Ya sudah lah, lagian aku sudah tidak menunggu masa iddah ku selesai kapan terserah. Dulu ketika aku menunggu 3 bulan itu rasanya lama sekali karena a Rangga.


"A Rangga Nikah yuk. " aku selalu bilang seperti itu.


A Rangga menjawab.


Kan udah bilang alasannya, kamu masih menjalani masa iddah. Nanti insya allah kalo jodoh, kita bertemu di depan penghulu. Masih ngerasa belum bisa bertanggung jawab sepenuhnya. Sepenuhnya dalam kewajiban sebagai suami, kamu bantu sepenuhnya dalam kewajiban sebagai istri. tanggung jawab yang lain dijalankan berdua."


Intinya, karna kamu masih dalam masa iddah. Aku ga mau terburu-buru yang ujungnya malah buruk. Kasarnya gini ya, pasti ga mau kan kalo misalnya jadi sama aku, terus tau keburukannya aku terus kamu ga bisa nerima kekurangan dan keburukannya aku yang pada akhirnya gagal lagi.


Pasti ga mau kan? sambil berjalan aja, toh masih banyak waktu.


Dan setelah masa iddah itu selesai tiba-tiba Mawar muncul.


"Maaf, masih bisa berteman. " Dengan mudah nya kata-kata itu muncul setelah segala perjuangan ku, ternyata semuanya sia-sia.


"Buka hati ya, lalu bagaimana dengan dia. Sama aja mainin perasaan kamu dan dia kalo gitu caranya. Perasaan ga bisa dipaksa Zara. Sekarang Zara minta hilangkan perasaan itu kepada Allah. Allah yang memberi pasti Allah juga yang menghilangkannya."


Hebat ..hebat ...a Rangga super duper hebat luar biasa. Karena selama masa iddah ku Mawar masih ngumpet dibelakang layar. Tapi setelah masa idah selesai Mawar muncul. seakan akan ini loh pacar gue Angel baby gue.. waww amazing... Tepuk tangan semuanya untuk a Rangga.

__ADS_1


Jangan bermain-main dengan perasaan orang lain. Jangan, itu. menyakitkan. Dan besok lusa bisa jadi giliran perasaan kita yang dijadikan mainan orang lain. Itulah kehidupan. Dunia penuh tipu daya. Hanya Allah yang maha mengetahui segala sesuatu yang tidak kita ketahui. Yang kita anggap baik belum tentu baik di mata Allah.


__ADS_2