SOULMATE

SOULMATE
As soon as posible


__ADS_3

"Mandilah duluan ya" ucap Aa.


Aku mengikuti perintahnya.


Di kamar mandi ketika aku menghidupkan air, aku kembali menangis, entah sakit itu sangat menyiksaku. Aku terduduk di bawah pancuran air hangat itu.


Waktu yang lama ketika aku di kamar mandi, membuat Aa gusar.


"Sayang.. " panggilnya ketika aku menunduk sambil menangis.


Dia memelukku.


"Sudah, cukup. Aa gak bisa lihat Ine seperti ini" kemudian dia memandikanku layaknya memandikan Alka.


Dia mengambil handuk untukku dan membawa aku keluar kamar mandi.


"Pakai baju Ine. Jangan sampai Ine sakit, sudah sayang.. Aa gak mau lihat Ine terpuruk seperti ini" dia memelukku lagi, dan aku kembali menangis. Rasanya air mata ini tidak bisa berhenti ketika teringat masa itu. Penghianatan dalam rumah tangga yang aku alami, membuat aku tersiksa.


Tangisku membuat aku lelah. Aku membaringkan badanku di atas tempat tidur, kepalaku terasa berat.


"Kepala Ine sakit, A" ucapku.


"Istirahatlah sayang" kemudian dia menyelimutiku, mengecup keningku dan menepuk punggungku pelan. Entah kapan akhirnya aku tertidur dengan mata sembab.


Setelah aku pulas, Aa bergegas ke kamar mandi. Dia menyesali keadaan yang harus menimpaku. Dialah orang yang tahu saat aku tertawa ataupun terpuruk dalam kesedihan.

__ADS_1


"Ya Allah, jagalah dia untukku, buatlah dia selalu bahagia." ucapnya diakhir sujudnya.


Dia memandang wajahku yang tenang dalam tidurku. Aa keluar dari kamar,


"Bangun tidur, Ine pasti lapar" dia menuju restoran hotel dan memilih beberapa menu, dan meminta di hantarkan ke kamar kami.


"Gun, lagi apa lu?" suara Aa dari ponselnya menelpon Igun.


"Gak ada, rencana mau ke lapangan basket aja, udah janji sama teman-teman. Lu udah lama gak ke sini." kata Igun.


"Minggu depan kali gue minap di rumah papi. Jumat besok kan mau acara 4 bulanan kehamilan Ine. Gun, emang ada kemaren pelamar nama Mikhayla?" tanya Aa.


"Hm, sebentar." kemudian Igun pun mengingat nama itu.


"Ya, ada, kalau tidak salah orang terakhir karena terlambat datang. Ada apa A?" tanya Igun.


"memangnya ada apa A? Setelah Mikhayla pulang, memang muka Ine langsung berubah. Tapi Ine tidak cerita apa-apa ke gue. Ada masalah apa A?" tanya Igun penasaran.


"Panjang, Kapan penerimaan sekretaris baru?" tanya Aa.


"As soon as posible. Gue takut Ine kenapa-kenapa, makanya gue nyari secepatnya."


"Bisa tolong pending, sampai 2 minggu lagi? Gue harus ngobrol panjang dengan Ineke" ucap Aa.


"Oke deh. tapi janji, lu cerita masalahnya ya"

__ADS_1


ucap Igun.


"Ya, nanti kan mulai kamis gue pulang ke rumah papi." ucap Aa.


"Gue sekarang ada di Carita, ngehibur dia yang lagi terpukul"


"maksudnya? Kok gue semakin bingung, A"


"Ya sudah, pokoknya nanti panjang ceritanya.


Salam buat teman-teman ya. Minggu depan kita latihan bareng, Udah lama jg badan gue gak gerak" ucapnya yang terakhir.


Aa masuk ke dalam kamar, dan menemukan aku yang masih terlelap.


Dia duduk di sebelahku, menggenggam tanganku, dan menyisihkan rambut yang menutupi wajahku.


Aku sadar, sebuah tangan menggenggam tanganku. Aku terbangun.


"Assalamu'alaikum, istri solehah Aa."


"Wa'alaikumussalam. Jam berapa ini A?" tanyaku


"Hampir jam 7" jawabnya


Aku segera bergegas mengambil wudhu.

__ADS_1


"Pelan-pelan, sayang. nanti jatuh" ucapnya khawatir.


__ADS_2