SOULMATE

SOULMATE
Stress akibat pekerjaan


__ADS_3

"Selamat pagi, duniaku"


aku menarik nafas ketika bangun tidur dan membuka jendela kamar.


"Sudah bangun, sayang?"


suara itu mengagetkanku.


"hm" aku mengangguk.


"Ine mau ke kantor. Apapun itu keputusan kantor, itu yang terbaik." ucapku sambil berjalan ke kamar mandi.


Dia mengusel-usel kepalaku.


"Thats my Ineke" ucap Aa.


"Tolong ambilin handuk, ine ya sayang" teriakku.


Aa menggeleng kepalanya, dan tersenyum. Dia tak pernah protes bila penyakit lupaku kumat.


"Kok belum pakai baju kerja?" tanyaku yang ketika keluar kamar mandi, melihat dia belum siap.


"Itu baju, Aa. Kan udah Ine siapkan" ucapku.


Aa tersenyum.


"Bangun.." ku ajak dia berdiri.


Kupakaikan bajunya dan mengancingkan bajunya.


"Ganti celananya." perintahku.


Sementara aku memakai baju kerjaku, dia mengikuti perintahku.


"Heh" teriakku karena dia mendekapku saat aku berada di depan meja riasku.


"Semangat, sayang. Do your best" ucapnya.

__ADS_1


Ya, aku tahu, dia sebenarnya takut aku memikirkan hal yang bisa membuat aku terpuruk lagi.


Aku memeluk tangannya. Dan mengangguk pelan.


"Sini sisirnya" ucap Aa. kemudian dia menyisir rambut pendekku.


"Dah.. Yok turun" ajak Aa.


"Bu Min.. kami berangkat ya. Jangan dibangunkan Alka. Dia lelah habis main semalam" ucapku kepada bu Min.


Aa memberhentikan mobilnya tepat di depan kantor.


"Snack nya sudah dibawa, sayang?" tanyanya


"Udah. Love you A.. gonna miss you" ucapku.


Aa tersenyum.


"Telepon Aa kalau ada apa-apa ya sayang"


Dan mobil putih itu berlalu.


"Udah sehat?" tanyanya


"Udah dong.. Gue aja udah di sini" jawabku.


"Kapan keputusan perusahaan buat pengganti gue?" tanyaku.


"Secepatnya." jawabnya.


"Kalau calon itu udah berpengalaman, gue gak perlu ajarin ya, Gun. Kalau perusahaan mau yang anak baru, gue bersedia ngajarin. Oke" akhirnya syarat itu keluar dari mulutku. Paling tidak aku tidak menyesalinya di akhir cerita.


"Oke, deal" jawabnya.


Di rumah sakit, hari itu sangat sibuk. Anak pemilik Rumah Sakit Bahagia, ketika melahirkan, anak yang dilahirkannya, meninggal. Dokter Yusuf yang turut membantu jalannya operasi itu, merasa sangat sedih.


"Sangat sulit, dok.. Prematur bayinya." cerita Dokter Yusuf.

__ADS_1


"Kenapa bisa prematur, dok?" tanya Aa.


"Terlalu stress memikirkan pekerjaan."


Seketika, dokter Yopi membelalak, dan wajah seorang Ineke terlintas di depannya.


"Kenapa, dok?" tanya dokter Yusuf.


"Gak dok.. Semua sudah jalannya. Maaf saya duluan, dok" ucap Aa langsung ke meja kerjanya.


Aa langsung tertunduk. Dia melihat aku yang terpuruk kemarin.


"Halo, sayang. Semua baik-baik saja kan?"


suara Aa dari panggilan ponselku.


"Ya sayang, Kenapa tanya gitu. Aa baik-baik aja?" tanyaku balik.


"Ine harus kuat dan sehat demi Aa, Alka, dan calon anak kita ya sayang." ucapnya


Aku bingung. Kenapa dia begitu. Suaranya menunjukkan kalau dia sedang terpukul.


"Ya sudah, nanti Aa jemput ya. Jangan kemana-kemana" ucapnya yang mulai over protective.


"Sayang, titip ketoprak ya di kantin rumah sakit." tiba-tiba aku kepingin ketoprak.


"Ya, nanti Aa pesankan ya. Aa mau visit ke pasien dulu ya sayang. Love you"


"Hm.. semangat sayang, love you too" ucapku.


Aku mengingat kalimatnya, dan.. sudahlah.. nanti pasti dia akan cerita.


Aku mengetuk pintu ruangan Igun.


"Permisi, pak. Ini jadwal besok, kita harus berjumpa dengan pihak lapangan di kawasan Sentul."


"Oh ya.. Saya minta tolong, hubungi nomor ini, ya.. Rabu saya tunggu" ucapnya sambil menyodorkan berkas.

__ADS_1


"Udah dapet, pengganti gue?" tanyaku kaget.


"Udah bawel. Dah sana, gue mau kerja" ucapnya


__ADS_2