SOULMATE

SOULMATE
Udara Bebas


__ADS_3

"Laksh.. Keluarlah dari sini, kau telah bebas" ucap sipir itu dengan lantang.


Laksh menoleh, dia membuka mulutnya sedikit seolah tak percaya dengan perkataan sipir itu.


"Laksh" ucap Akash yg baru saja datang, dia langsung menghampiri dan memeluk erat tubuh sahabatnya itu.


Laksh benar-benar bingung saat Akash memeluknya dengan sangat kencang dan terdengar suara isakan tangis.


Laksh menatap lirih ke arah suara tangisan itu, dia tersenyum saat melihat ibunya berdiri di hadapannya.


Laksh melepaskan pelukannya kepada Akash, dia langsung menghampiri ibunya, dia menundukkan kepalanya dan menyentuh kaki ibunya untuk meminta berkat. Ibu Laksh langsung menarik tubuh Laksh ke dalam pelukannya.


"Ibu"


"Ibu sangat menyayangimu sayang, akhirnya kau bebas juga"


Laksh menangis karena sangat bahagia, setelah sekian lama kebebasan yg selalu dia dambakan kini menjadi kenyataan.


Laksh melepaskan pelukannya dan mengecup kening ibunya.


"Ibu.. Bagaimana bisa aku bebas bu? Apa yg terjadi?" tanya Laksh bingung.


Annapurna hanya menangis, Laksh kemudian menoleh Akash.


"Katakan Akash? Apa yg terjadi? Kenapa aku tiba-tiba bisa dibebaskan?"


"Meethi.. Dia mencabut gugatannya Laksh, setelah sekian lama akhirnya dia mencabut gugatannya dan menghentikan proses hukum yg sedang berjalan, lagi pula setelah polisi meninjau ulang kasusmu dengan memutar rekaman CCTV di jalan itu tidak terlihat jika kau sengaja menabrak Rohit, itu terlihat seperti sebuah kecelakaan yg tidak disengaja, jadi hukuman atas dirimu dibatalkan karena kau terbukti tidak bersalah"


Laksh tersenyum lega, akhirnya setelah sekian lama dia menunggu kini dia dapat menghirup udara dengan sangat bebas. Tak ada lagi jeruji besi yg membatasi aktivitasnya nanti.


Annapurna menatap sedih wajah putranya yg sangat berantakan, brewoknya sudah sangat tebal dan kulitnya terlihat kusam, dia merasa iba karena selama ini putranya menderita mendekam di penjari hampir setahun lamanya.


Tubuhnya terlihat lebih kurus karena tulang rahangnya semakin terlihat. Annapurna benar-benar iba dengan kondisi anaknya itu. Matanya menatap lirih kalung mangal sutra yg masih terlilit di pergelangan tangan Laksh.


Selama hampir setahun Laksh masih belum bisa melupakan mantan istrinya itu, Annapurna membulatkan matanya saat melihat putranya tersenyum bahagia dengan mencium selembar foto. Dia mengernyitkan alisnya.


"Foto siapa itu Laksh?" tanya Annapurna penasaran.


"Putraku bu" jawab Laksh singkat.


Annapurna mengerutkan dahinya, Laksh menyodorkan selembar foto itu kepada Annapurna. Anna tersenyum bahagia saat melihat foto bayi mungil itu.


"Dia sangat tampan, wajahnya persis seperti dirimu dulu waktu bayi"


Laksh tersenyum.


"Siapa yg mengirimkannya Laksh?" tanya Akash bingung.


"Ragini" jawabnya pelan.


"RAGINI?" ucap Akash dan Anna berbarengan.


Laksh hanya mengangguk.


"Kemarin dia mengirimkan surat dan foto ini untukku"


"Coba ibu lihat suratnya, nak"


Laksh dengan ragu memberikan surat itu kepada Anna.


Annapurna meneteskan airmatanya saat membaca surat itu, hatinya terasa pilu. Jika dia saja mampu meneteskan airmata saat membaca surat yg benar-benar menggoreskan luka di hatinya bagaimana dengan Laksh. Seketika Annapurna menghampiri putranya dan memeluknya erat.


"Ibu yakin.. Semua akan indah pada waktunya, nak. Kau yg sabar jika kau dan Ragini berjodoh sekuat apapun Ragini berusaha mengelaknya kalian pasti akan bersatu kembali" ucap Anna meyakinkan.


Laksh hanya mengangguk, matanya berkaca-kaca dia menahan luapan emosi di dalam dadanya. Sudah cukup dia menangis, dia bukan pria yg lemah. Apalagi saat ini dia sudah menjadi seorang ayah, dia harus lebih menguatkan hatinya lagi mungkin nanti akan terjadi hal yg lebih menyakitkan dari ini.


***


"Ayoo.. Masuklah Ragini"


Ragini melangkahkan kakinya perlahan memasuki rumah Ratan. Bola matanya berputar mengitari setiap sudut ruangan itu, dia berdecak kagum saat melihat rumah Ratan yg terlihat bukan seperti rumah melainkan sebuah istana, sangat megah dan mewah.


Ratan hanya menggelengkan kepalanya saat melihat ekspresi kekaguman Ragini.


"Apa yg terjadi dengan wajahmu? Mengapa ekspresimu seperti itu?"


Ragini hanya menunduk malu.


"Ayoo kemarilah.. Oh iya.. Kau duduklah disini dulu, aku akan panggilkan ibu dan juga adikku. Jangan takut. Dahhh jagoan paman pergi dulu sebentar yah" ucapnya mengedipkan matanya kepada Rohit.


Ragini menatap punggung Ratan yg perlahan menjauh, bola matanya masih berputar. Dia membulatkan matanya saat melihat foto keluarga yg terpajang sangat besar di ruang tamu itu.


"Kenapa bisa ada orang yg wajah mirip sekali denganmu, Rohit?" gumam Ragini.


Ragini memperhatikan setiap foto yg terpajang di dinding itu. Benar-benar keluarga yg sangat harmonis. Ragini tiba-tiba teringat dengan keluarganya, dia sangat merindukan ayah dan ibunya. Entah apa yg akan mereka lakukan jika tiba-tiba Ragini datang untuk mengunjungi mereka dengan membawa seorang anak, mungkin mereka akan langsung mengusir Ragini.


"Ibu.. Ruhi perkenalkan ini adalah Ragini. Dia teman baruku mulai hari ini dia akan tinggal disini" jelas Ratan.


Ibu dan adiknya Ratan sangat terkejut, terlihat sangat jelas pada raut wajah mereka.


Ibu Ratan menarik lengan Ratan menjauh dari sana, hanya tertinggal Ruhi yg masih berdiri, menatap Ragini dari ujung kaki hingga kepala. Menatapnya dengan tatapan yg sinis, Ragini benar-benar takut ditatap seperti itu. Dia hanya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa yg kau lakukan Ratan? Dia akan tinggal di rumah kita?"


"Iya bu, kasihan dia dan anaknya jika harus kembali ke Baadi, ibu tau kan tempat seperti apa Baadi. Apalagi dia baru saja melahirkan bu, bayi mungil itu akan kasihan jika dia hidup di lingkungan kumuh seperti itu, sangat berpengaruh pada kesehatannya"


"Ratan.. Ibu tahu jika kau putra ibu yg sangat baik, tapi apa kau pikir rumah kita ini panti sosial, hm? Ratan kau baru saja kembali dari London dan kau tak mengenal dengan baik siapa gadis itu, apa latar belakangnya, bagaimana keluarganya? Bagaimana jika ternyata dia orang jahat dan mengincar harta kita? Ratan kau masih terlalu polos untuk memahami semua ini, nak. Kau belum mengerti tipe wanita seperti apa dia! Lagian apa kau tak melihat, lihat dia usianya ibu yakin masih seumuran adikmu. Tapi kau lihat dia, dia sudah memiliki seorang anak di usia semuda itu? Apa kau pikir dia wanita baik-baik, hah? Ibu yakin dia punya maksud tertentu untuk mendekatimu"


Ratan hanya terdiam, dia benar-benar tak menyangka jika sikap ibunya diluar ekspetasinya. Bola mata Ratan berputar melihat Ragini yg masih duduk di sofa dengan menundukkan kepalanya. Dia menggelengkan kepalanya saat melihat adiknya menatap Ragini dengan tatapan yg sangat sinis.


"Jadi ibu tak mengizinkan Ragini dan auntuka untuk tinggal disini?"


Ibunya Ratan menggeleng.


"Baiklah.. Ratan akan membawanya pergi dari sini"


"Bagus, ini baru anak ibu"


Ibunya Ratan mengelus bahu Ratan pelan dan merapihkan jas Ratan.


"Ratan akan bawa mereka untuk tinggal di apartement ku"


Ishita kembali membulatkan matanya.


"Apaa??"


"Iya jika ibu tak mengizinkan mereka untuk tinggal disni tak masalah, Ratan akan mengajaknya ke apartement-ku"


Ishita memegang dahi anaknya.


"Apa kau sudah kehilangan akalmu, Ratan?"


Ratan tak memperdulikan ucapan Ishita. Dia melengos pergi.


"Ayo Ragini, kita pergi dari sini"


Ratan menarik koper Ragini dan membawanya pergi.


"Kita mau kemana lagi, Ratan?" tanya Ragini bingung.


"Jangan banyak tanya, kau ikutlah denganku"


"Kakak" teriak Ruhi.


Namun Ratan tak memperdulikan teriakan adiknya itu.


"Anak itu benar-benar sudah kehilangan akalnya" ucap Ishita yg tiba-tiba datang.


"Ibu.. Aku rasa kakak menyukai gadis itu"


Ruhi menundukkan kepalanya.


"Belum pernah Ratan melawanku seperti itu, apa yg terjadi kepadanya" gumamnya.


"Cinta mom.. Kakak sedang jatuh cinta"


Ishita menatap sinis Ruhi.


Ruhi berlari pergi karena takut jika ibunya akan memarahinya.


***


"Aaaahhhh"


Laksh menghirup udara di kamarnya. Kamarnya masih sama tak ada yg berubah, foto pernikahannya dengan Ragini masih terpajang di dinding kamarnya.


Laksh tersenyum miris dia mengalihkan pandangannya. Dia mengambil sesuatu di dalam lacinya. Dia memasang foto putranya itu di dalam sebuah frame dan memajangnya di nakas samping ranjangnya.


"Kau tampan sekali sayang, ayah sangat merindukanmu. Ayah harap suatu saat nanti kita akan segera bertemu yah" ucapnya dengan mengelus foto jagoan kecilnya itu.


Mata Laksh tertuju pada cincin kawin Rohit yg terletak di nakasnya, dia mengingat bagaimana cincin itu bisa berada disana.


"Maafkan aku Rohit! Maaf aku tak bisa menepati permintaan terakhirmu itu" ucapnya lirih.


Laksh melirik ke patung Dewa Ganesha yg terpanjang di nakasnya, dia ingat perkataan Ragini. Dewa Ganesha itu milik Ragini, dia membawanya dari rumah Rohit.


"Jika kau menginginkan sesuatu kau bisa berdoa kepada Dewa, kau tau Dewa pasti akan mengabulkan semua permintaanmu asalkan kau yakin kepadanya, jika kau sedang ada masalah ataupun hatimu gelisah kau berdoalah kepadanya Laksh, minta pertolongan kepadanya. Dia pasti akan mendengarkan dan mengabulkan doamu, coba saja"


Perkataan Ragini tiba-tiba terngiang di telinganya.


Laksh mengatupkan kedua telapak tangannya dan mulai memejamkan matanya.


"Aku mohon Dewa, persatukanlah aku dengan Ragini dan juga putraku. Aku tak bisa hidup tanpa mereka, mereka hidupku jangan pisahkan kami"


Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, Laksh membuka matanya. Dia tak mengerti firasat apa yg diberikan alam untuknya.


"Ku mohon Ragini, kembalilah. Jangan membenciku, aku tak sanggup bila harus terus menerima kebencian darimu" ucapnya lirih.


***


"Nah.. Disini kau dan jagoan kecil ini akan tinggal. Apa kau suka dengan tempat ini?"


"Ratan.. Tapi ibumu, dia nampaknya tak menyukai diriku, aku takut jika aku terus menerus bersamamu dia pasti akan memarahimu Ratan, kau tak usah pikirkan tentang aku dan Rohit, aku dan Rohit akan tinggal di Baadi, lagi pula barang-barangku masih banyak berada disana, kau tak usah khawatir, Ratan"

__ADS_1


Ratan menghela nafasnya panjang, dia mengambil jagoan mungil yg sudah terlelap itu dan menaruhnya di ranjang. Dia mengecup pelan jagoan mungil itu. Dan kembali menghampiri Ragini. Ratan menggengam tangan Ragini, matanya menatap lekat wajah Ragini.


"Aku peduli dengan kalian, jadi aku harap kau mengerti dengan apa yg aku lakukan Ragini, disana tidak akan baik untuk perkembangan Rohit, lebih baik dia tinggal disini, hm?"


"Ratan.. Kau sudah sangat baik kepadaku, aku takut jika aku tak bisa membalas seluruh kebaikanmu kepadaku, aku...."


"Ssstt.. Berhenti bicara. Kau ingin tau mengapa aku melakukan semua ini?"


Ragini mengangguk, Ratan tersenyum. Dia menarik lengan Ragini dan menaruh telapak tangan Ragini tepat di atas dadanya.


"Apa kau tak bisa merasakan getaran yg sangat kencang di dalam sini?"


Ragini menoleh dan menatap Ratan bingung. Ratan hanya tersenyum, dia mencubit gemas hidung Ragini.


"Aku mencintaimu Ragini.. Ya aku mencintaimu" ucapnya tegas.


Ragini seolah tak percaya dengan ucapan Ratan, dia hanya terdiam. Kedua mata mereka saling beradu dan saling tatap.


"Apa kau juga merasakan hal yg sama seperti yg sedang aku rasakan saat ini?"


Ragini hanya terdiam, Ratan tersenyum saat melihat wajah Ragini dan menunduk dan bersemu merah.


Ratan menyentuh pipi Ragini dan mulai mendekatkan wajahnya, Ragini memejamkan matanya. Dia merasakan bibir lembut Ratan menyentuh bibirnya, dia hanya terdiam saat Ratan mulai berani menciumnya seakan dia menikmatinya, dia merasa jika Ratan itu adalah Rohit, pria yg sangat dia cintai.


***


"RAGINIIIII" teriak Laksh.


Laksh terbangun dari tidurnya.


Nafasnya berhembus tak beraturan, keringat mengucur deras dan mengalir ke lehernya.


Dia mengusap wajahnya kasar, dan meremas rambutnya.


"Kau dimana Ragini? Mengapa aku bermimpi jika kau akan semakin menjauh dariku, apa ada orang lain yg sudah berada di hatimu setelah Rohit, apa kau tak pernah mencintaiku?"


Laksh menangis, airmatanya mengalir sangat deras. Dia benar-benar merasakan perih di dalam hatinya.


"Andai kau tau betapa aku sangat mencintaimu, bahkan jika Dewa mengharuskan aku menukar nyawaku demi dirimu aku rela melakukan itu"


Laksh terus menatap kalung mangal sutra mukik Ragini dan mengecupnya pelan.


***


Ragini tersadar, dia mendorong tubuh Ratan. Dia bangkit dari tempatnya dan berlari untuk mengambil Rohit. Ratan bingung, dia masih terdiam di sofa itu.


Ragini menyeret kembali kopernya.


"Ragini.. Kau mau kemana?"


Ragini terdiam dan tak menjawab.


"Ragini maafkan aku jika tadi aku lancang, aku tak bermaksud tapi entah mengapa aku benar-benar ingin bersamamu, aku mencintaimu, maaf jika yg tadi aku lakukan salah. Ku mohon Ragini.. Tetaplah disini, aku berjanji jika aku akan menjaga sikapku dan tak akan berbuat seperti itu lagi, aku mohon"


Ragini terdiam, dia memejamkan matanya. Entah mengapa dia juga merasakan rasa yg sama dengan Ratan.


Ragini memutar tubuhnya dan memeluk erat tubuh Ratan.


"Apa kau yakin akan tetap mencintaiku walaupun aku sudah memiliki anak?"


Ratan hanya mengangguk.


"Aku menyukai anakmu, jadi aku jatuh cinta kepadamu"


"Ohh jadi kau jatuh cinta kepadaku karena Rohit?"


Ragini mencubit perut Ratan.


"Aawww sakit.. Entah mengapa aku tiba-tiba menyukai dirimu gadis galak"


"Awas kau"


"Sstt.. Lihat itu Rohit sedang tidur, nanti dia terbangun karena kau selalu berisik"


Ragini menimang bayi Rohit dan menyanyikan lagu untuknya. Ratan hanya tersenyum melihat bayi mungil itu terlelap.


***


Sementara itu di kamar Laksh masih merasakan sakit yg teramat di hatinya. Dia benar-benar gelisah. Entah apa yg dia rasakan, seolah dia merasakan jika Ragini-nya tak akan pernah mungkin kembali kepadanya.


"Kapan kau akan berpihak kepadaku, Dewa? Kapan kau akan memberiku kebahagiaan?" ucap Laksh lirih.


Laksh masih mendekap foto pernikahannya dengan Ragini.


"Aku sangat mencintaimu, Ragini. Sangat mencintaimu" ucapnya sambil meneteskan airmatanya tepat di foto Ragini.


"Jika bermimpi adalah satu-satunya cara agar aku bisa bersamamu, maka aku tidak akan pernah mau untuk membuka mataku lagi"


Laksh kemudian memejamkan matanya, dia tertidur di lantai dengan tangan yg masih memeluk erat foto pernikahannya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2