
"Bu.. Kami mau ke rumah sakit. Doain ya bu. Ine udah ngerasa sakit" ucap Aa mengabari ibu.
Kemudian Aa mengabari mbak Linda.
Mobil dikendarai oleh pak Min. Aa tetap setia di sampingku. Terkadang, aku tidak sadar meremas tangannya, karena menahan sakit.
"Assalamu'alaikum, dok. Ya dok. Saya menuju rumah sakit. Bantu persalinan istri saya, ya dok. Ya dok.. Terima kasih, Assalamu'alaikum" Aa menutup telepon ke dokter Yusuf itu, dan memelukku.
"Sabar, sayang, sebentar lagi. Ayo pak Min, cari jalan yang tidak macet." perintahnya.
Alka yang duduk dipangku bu Min, bolak balik melihat ke arahku.
"Mama... Jangan menangis. Mama harus kuat ya ma.. Alka akan menunggu mama" ucap anakku, aku tidak pernah menyangka dia dengan umur 5 tahun itu, bisa berbicara seperti itu.
"Ya sayang. Doaka mama ya nak" ucap Aa.
Aku hanya tersenyum
Mulutnya tidak berhenti menyebut asma Allah. Dia mengarahkanku untuk terus memanggil nama Allah. Sambil mengelus perutku, dia mencoba menenangkanku.
"Ya mbak.. Yopi sedang menuju rumah sakit, Ya mbak.. Doanya ya mbak.. Ya mbak.. Sampai ketemu di rumah sakit, mbak" ucap Aa menerima telepon.
"Mbak Farah, sayang."
ucapnya, sambil terus memegang tanganku.
__ADS_1
Saat aku merasa sakit, entah kenapa, Aa yang mengeluarkan keringat yang teramat banyak. Seolah dia juga merasakan apa yang aku rasakan.
Tepat jam 12 siang, kami sampai di rumah sakit. Aa mengurus ruangan dan segera menelpon dokter Yusuf. Seluruh keluarga sudah ada di ruang perawatan bagian kandungan.
"Ibu dan ayah mendoakan keselamatan untuk Ine. Jangan fikirkan yang lain." ibu menciumku.
"Maafkan kesalahan Ineke, ayah, ibu. Restui Ineke."
Ayah dan ibu memelukku. Aku tau, mereka menahan tangisnya.
"Papi... "panggilku.
Papi mendekat, diikuti keluarga dari pihak Aa.
"Maafin Ineke, kalau belum sempurna menjadi anak papi, menjadi adik dari mbak dan abang semua. Doakan Ineke ya"
"Papi menunggu Ine di depan pintu persalinan, nak. Papi dan mami bangga punya menantu seperti Ine." ucap papi.
"Jangan berfikir macam-macam ya dek. Kami ada di sini" mereka memelukku.
"Alka.. " panggilku.
"Ya ma.. abang sayang mama. Dedek.. abang tunggu dedek ya" kemudian dia memeluk perutku. Aku mencium dan memeluk Alka kecilku.
Dan akhirnya, aku diarahkan ke ruang persalinan.
__ADS_1
"Hanya suami yang boleh masuk. Keluarga silahkan tunggu di luar ya" ucap perawat yang menjaga ruang persalinan.
Aku melambaikan tanganku. Ibu melambaikan tangannya sambil memeluk ayah.
Bidan yang bertugas siang itu memeriksaku.
"Bagaimana, bu?" tanya Aa yang tak kalah takutnya dengan diriku yang akan berjuang.
"Kita tunggu dokter Yusuf, ya dok.. sebentar lagi beliau akan kemari" ucap bidan Siska.
"Sayang... Aa di sini" kalimat itu yang terus terdengar saat aku merasa sakit,
Tak lama, dokter Yusuf datang, dan pemeriksaan pun dilakukan.
"Bagaimana, dok" tanya Aa kepada dokter Yusuf.
"Kita sama2 berdoa ya. Semoga lancar dan selamat jbu dan bayi." ucapnya.
"Bukaan lengkap. Ayo bu Ine.. tarik nafas.. ya.." lanjutnya dan persalinan itu pun terjadi.
"Mudahkan segala urusan ini yaa Allah. Lindungi istri hamba yang sedang berjuang" Air matanya tak terbendung, saat tangisan bayi terdengar.
"Alhamdulillah," ucap syukur dari ayah, ibu, papi, dan seluruh keluarga yang menunggu di luar kamar persalinan.
"Dok.. bu Ineke tidak sadarkan diri!!"
__ADS_1
#Terima kasih buat pembaca setia novel '"Soulmate" Jangan lupa buat kasih like dan komen nya ya.. 😊😊