
"Dimana lu gun?" tanya Aa ketika menelpon Igun dari lantai bawah. Dia sengaja tidak memberikan kesempatan untukku mendengar pembicaraan itu.
"Baru sampe rumah, kenapa A?" tanya Igun
"Gue gak tau apa yang terjadi sama Ine, yang gue tahu, dia terpukul. Entah kejadian apa yang buat dia shock seperti itu. Lu tau gak kejadian apa di kantor?"
"Gue juga bingung. Padahal pagi tadi, doi baik-baik saja. Malah kami menyeleksi pegawai sama-sama. Ketika calon terakhir datang, doi mulai terdiam seribu bahasa."
jelas Igun.
"A... " panggilku..
"Ya sayang, bentar." jawabnya.
"Ya udah gun, gue mesti ngehibur Ine dulu. Doi gak tau kalau gue telpon lu"
Kemudian Aa membawakan aku sebungkus nasi padang, dan es krim yang dia beli tadi.
"Sorry, lama.." ucapnya.
"Gapapa" ucapku.
"Aa suap ya bayi besar" ucapnya.
Sambil makan, dia menceritakan kegiatannya di rumah sakit.
"Besok kan libur, kita main ke pantai, gimana? Kita ke Carita aja, satnight kita di sana aja. Alka juga masih di rumah ibu. Kita jalan berdua ya" ajaknya.
"ya." ucapku singkat sambil mengunyah.
*Subuh itu,
kami menyiapkan barang seperlunya.
"Vitamin jangan lupa, sayang. " ucapnya mengingatkanku.
__ADS_1
Aa mengendarai mobilnya dengan perasaan bahagia. Tak lupa dia berhenti untuk sekedar membeli makanan kecil, supaya aku tidak merasa lapar. Rasanya aku sudah tidak sabar bermain di deburnya ombak.
"Bentar sayang, Aa mau register dulu ya. Ine duduk di sini aja dulu." ucapnya ketika sampai di lobby hotel. Kemudian dia menuju ke meja resepsionis.
"Ada yang biaa kami bantu, pak?" tanya petugas itu.
"Saya sudah pesan kamar, atas nama dokter Yopi Adrianus" ucap Aa.
"Boleh kami lihat KTP nya, pak.?" tanyanya lagi.
Aa mengeluarkan dompet dan menyerahkan Kartu pengenalnya. Setelah semua selesai, kami dipersilahkan menuju kamar. Aa membantuku untuk bangun dari tempat dudukku. Kami berjalan sambil berpegang tangan.
"Silahkan, pak, bu" ucap petugas itu.
"Terima kasih, mas" ucapku.
Aa meletakkan tas kami di dalam lemari.
Kemudian dia merentangakan tangannya dan berbaring di atas tempat tidur.
Aku mengangguk, dan membaringkan tubuh mungilku yang sudah tampak perut menonjol.
"Anak papa, lagi apa?" ucapnya mengelus dan mengecup perutku.
"Nanti kita main ke pantai ya sayang," lanjutnya lagi.
"A... laper" aku mulai mual karena lapar.
"Yok. cari makan." ajaknya
"Gak mau keluar, mager. Aa aja yang cari makan."
Dan mau gak mau, dia keluar kamar untuk mencari makan.
Aku mengambil roti yang tadi Aa beli. Ku lihat ponselku, ada beberapa notif masuk.
__ADS_1
Aku lupa mengabari Alka kalau kami sudah sampai di pantai carita.
"Assalamu'alaikum, bu. Ine dan Aa sudah sampai di carita. Alka lagi apa bu?"
"Wa'alaikumussalam, itu lagi disuap bu Min makan. Kamu gak usah khawatirkan Alka. Dia senang kok di rumah ibu. Di sini kan dia bisa main sama tetangga." ucap ibu.
"Ayah mana, bu?"
"Sedang membenahi kebun bunga di halaman depan"
"Bu, masih inget dengan sekretaris mas Herli yang namanya Mikhayla?" tanyaku
"Kenapa sama dia?" tanya ibu lagi.
"Ine sudah bertemu dengannya 2 kali, dan kemarin dia tes wawancara untuk menggantikan posisi Ine. Ine merasa sakit, bu. Kenapa harus bertemu dengannya lagi."
"Sudahlah nak. Itu masa lalu Ine, gak usah difikirkan lagi. Biarlah simpan dan kubur masa lalu itu"
"Tapi, bu..
Setiap Ine melihatnya, ada perasaan yang gak bisa Ine terima." tangisku tak bisa terbendung.
"Perempuan itu yang dibela mas Herli, dan mas Herli lebih memilih dia daripada Ine dan Alka" lanjutku.
"Ine.. sudah nak, semua ini salah ibu. Maafkan ibu nak"
"Ini bukan salah ibu. Tapi salahnya"
"Jangan begitu nak, maafkan kesalahannya, biar tenang jalannya."
Pintu kamar terbuka.
"Ya udah bu, Aa datang, nanti Ine cerita lagi"
ucapku mengakhiri pembicaraan itu.
__ADS_1