
Ada whats app masuk dari Ditto.
"Ada leasing telpon ke aku barusan."
"Bilang aja mobil nya di Pa Anton sekarang. "
"Suruh bayar cicilannya, Leasing nya nelpon terus ke aku. Jadi aku yang pusing. "
"Iya. Ya udah ga usah pusing, santai aja kali." aku membalas pesan Ditto. "
"Kan kontrak kreditnya nama aku dodol, ntar aku yang dicari Leasing nya. "
"Ya udah sabar aja, slow gitu. Nanti aku tanya pa Anton nya. Tadinya kan ga akan aku keluarin tuh mobil, berhubung ga jadi nikahnya, ya gitu. "
"Tanggung jawab. "
Aku balas emot ketawa.
"Baca Novel aku tuh, biar tenang hati mu Ditto. " aku tertawa.
"Tenang gimana, itu leasing nelpon nya ke aku. Ga perlu baca itu cerita dari versi kamu."
aku balas emot ketawa lagi. Iya lah orang aku penulis nya, ga mungkin aku tulis dari sisi pelakornya. Karena aku bukan pelakor. uppss... keserempet maaf, he... he..
"Pusing aku jadinya. " balas Ditto.
aku balas emot ketawa aja.
"beresin bukannya malah ngekek. "
"Bisa bahasa inggris kan kamu Ditto? "
"Maksudnya? "
"Bacain kontrak novel aku tuh. "
Ditto ga membalas, pusing kali dia ditelpon orang leasing. Aku over mobil ku ke pa Anton. Ya aku rasa apapun masalah mobil itu sekarang urusan nya dengan pa Anton aja. Aku udah ga akan ikut campur lagi.
Jarel dateng langsung merekam Voice note untuk Ditto.
"Ayah. "
"Jarel lagi apa? "
"Baru beres makan. "
Jarel mengirimkan foto selfienya kepada Ditto.
"Ha.. ha... ganteng aa, udah gede. " balas Ditto
"Kan jajannya banyak."
"Ya udah ayah mau makan dulu. "
"Iya Dadah. "
Keesokan harinya Ditto kirim pesan lagi.
__ADS_1
"Leasing telpon lagi. Kalo belum bayar nanti mobilnya otomatis ditarik. "
"Ya biarin, udah jadi urusan pa Anton, mobilnya aja di pa Anton. "
hadeuh nih Ditto dateng lagi bawa huru-hara, males banget aku ladeninnya juga.
"Masalahnya kontrak nya nama aku, aku yang kena penalti, ngaco. "
aku balas emot ketawa.
"Ruwet. "
aku balas emot ketawa lagi.
"Malah bikin masalah."
aku balas emot ketawa lagi.
Otak mu di simpen dimana ya Ditto sayangku, sampe ngomong kaya gitu. Aku yang bikin masalah, apa kabar yang selingkuh dari bulan oktober. Ha..ha. .manusia ini memang lucu sekali.
"Rumah aku jual aja, besok pindah. "
aku balas emot ketawa juga.
Hayo omongan Ditto udah kemana-mana, pusing apa nyesel udah ninggalin aku dan Jarel.
"Stresssss."
Aku balas emot ketawa lagi aja.
"Ga akan lah." emang nya kamu siapa sekarang Ditto, kamu ga akan bisa ngatur-ngatur aku lagi mengerti.
"Ya silahkan. "
"Ya udah bilang aja ke pihak leasing nya, Mobil itu udah ga ada di tangan kamu dan ga ada di aku juga, mobil nya udah di tangan pa Anton, masalah cicilan sekarang sampe nanti lunas udah jadi tanggung jawab pa Anton. Selesai. Gitu aja ko sewot. ha.. ha.. " aku tertawa.
"Terus kalo orang leasing nya nagih terus ke aku gimana? "
"Ya bilang aja suruh hubungin pa Anton. " Gitu aja ga bisa, Ditto... Ditto.. bukannya kamu tuh pinter ya, masa gitu aja takut sih.
"Malah bikin masalah tau ga, males aku ditelpon terus tiap bulan. "
"Hey. ..Emang aku aja yang bikin masalah? Introspeksi diri aja masing-masing. ok…"
"Loh.. itu mobil yang dapet duitnya kamu."
"Yes. "
"Harusnya buat Jarel duitnya. "
"Kamu aja belum ngasih uang jajan Jarel lagi sampai sekarang seperti yang di surat perjanjian. Santai aja, uang nya aku modalin kok, Jarel sehari-hari aja makannya dari uang toko. Masa iya uang 10 juta dimakan Jarel sekaligus, kan ga mungkin. "
"Ya udah pokoknya itu buat jarel. "
"Masya Allah, uang nya dimodalin dulu beb, biar berkembang. Nanti juga balik lagi, kalo ga muter Jarel makan apa, emang kamu ngasih makan Jarel gitu?Mengerti tidak? dengan emot ketawa.
"Tenang aja nanti kalo aku udah ketemu MD Entertaiment aku beli deh rumah ku. Biar kamu nyesel sekalian. Ini kan belum. "
__ADS_1
"Amin.. " Ditto membalas.
"Do'ain aja aku sukses, semoga ketemu pa Manoj punjabi ya. Surat cerai udah diambil belum dari pa Amil?"
"Emang udah jadi? coba tanya pa Amil. "
Eh malah tanya balik, aku kira Ditto udah ambil akta cerainya buat nikah dengan Lidya, ternyata belum juga.
"Masuk ke pengadilan aja ga tau udah apa belum. "
"Udah kali, udah bayar kan ke pengadilannya? "
"Tanya aja. "
Haduh kacau, Ditto memang menyerahkan semua proses perceraian ini ke pengacara. Entah sudah selesai apa belum aku juga belum dapet informasi lagi.
"Nanti deh aku tanyain pas mau daftar nikah aja. "
"Ok. "
"Ayah. "
Jarel mengirimkan voice note lagi ke Ditto.
"Ayah. "
"Lagi apa Jarel. "
"Lagi makan. "
"Makan yang lahap ya. "
"Iya. "
Jarel kembali mengirimkan foto selfie nya kepada Ditto.
"Ganteng anak ayah. "
"Iya lah. "
Alhamdulilah komunikasi Jarel dan Ditto lancar. Masalah kedua orang tuanya jangan berpengaruh kepada anak. Kita profesional aja ya.
Aku fokus dengan usaha ku, kembali menata barang di toko karena si Om juga baru dateng mengirim barangnya.
Alhamdulilah perlahan-lahan usaha pun mulai bangkit, semoga tidak ada lagi ujian yang berat di depan sana untuk aku. Masalah Jodoh perjodohan aku serahkan semuanya ada di tangan tuhan. Apapun yang terjadi nanti, aku tidak akan mencari lagi, karena aku sudah merasa lelah.
Aku memutuskan untuk menghapus kontak dan chat aku bersama a Rangga juga. Bismilah semoga aku bisa benar-benar melupakan Rangga. Karena Rangga itu hanya tumbuh dalam ilusi ku saja, tidak untuk kenyataan. Jika memang dia mempunyai perasaan yang sama kepada ku, mungkin dia sudah kembali padaku, tapi sampai sekarang pun tak ada usaha yang dia lakukan, hanya janji yang sekedar janji, kata hanya sekedar kata, yang tidak diikuti dengan tindakan sama sekali. insya Allah nanti ke rumah. entah nanti nya kapan bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi, Tak apa.
Aku hapus semua memori tentang Rangga. Bismillah aku pasti bisa. Karena tidak selamanya yang terbaik adalah bertahan, terkadang melepaskan juga menjadi hal terbaik ketika bertahan terasa menyakitkan.
satu persatu aku lepaskan, Ditto sudah aku lepaskan, mobil sudah aku lepaskan, terakhir aku lepas kan Rangga. Bismillah.
Relakan apa yang sudah terjadi, yang salah segera perbaiki. Tinggalkan yang tidak terlalu penting, dan hiduplah dengan damai tanpa menggantungkan harapan di pundak orang lain.
Teruslah berusaha sampai mereka yang tidak tau kisahmu hanya bisa berkata: "betapa beruntung nya dia", kutipan Guntur Badjideh.
Jika pada akhirnya aku menyerah, percayalah aku pernah mati-matian untuk bertahan. Namun dikalahkan oleh keadaan.
__ADS_1