
Setelah aku mengamati A Rangga dari awal sampai sekarang Memang benar kelakuan nya itu baik di awal namun mengecewakan di akhir.
Aku ingat kata-katanya.
"oh iya, maaf banget ya. Maaf kalo setiap kamu kirim pesan jarang aku bales atau bahkan ga di balas sama sekali. Bukan apa-apa, takutnya kamu pikir aku ga suka atau aku marah, bukan.
Mungkin karena keadaan, maksudnya karena keadaan yang udah biasa sendiri, yang ga pernah chat ataupun yang lainnya.
Terlalu lama menikmati sendiri, jadinya hal yang sekarang dilakukan terasa aneh maaf banget ya. Aku harap kamu mengerti. "
Waktu itu aku pikir a Rangga memang laki-laki baik, yang hanya fokus kerja tanpa memikirkan wanita.
Aku juga mendengar A Rangga lagi jadi bayawak sekarang mencla mencle kesana kemari, Buaya.
Aku tidak menghiraukan perkataan Yuda waktu itu, masih tetap beranggapan kalo a Rangga itu orang baik.
A Rangga sendiri bilang kepada mang Dedi ketika Zara belanja.
"Mang, orang baik ya mang. Orang baik. " Dengan tingkah arogannya. Mungkin a Rangga merasa di atas angin karena banyak wanita yang mengejarnya waktu itu, terutama Zara.
Mang Dedi hanya senyum waktu itu.
Aku melihat ada dua sisi yang berbeda didalam diri a Rangga. Perkataan dan perbuatannya itu jauh berbeda. Apa memang orang ini pintar berpura-pura. Entahlah. Mungkin ada sesuatu hal dalam dirinya yang membuat dia seperti itu.
__ADS_1
Mungkin ada luka lama yang belum sembuh dalam dirinya, sehingga dia berbuat seperti itu. Terlihat kuat diluar walau sebenarnya hatinya sangat rapuh seperti seekor kepiting. Tapi dia tidak ingin menunjukan sisi lemahnya dihadapan semua orang sehingga Rangga bertindak keras terhadap dirinya sendiri. Semoga Kamu sembuh ya. Jangan berpura-pura terus ya. Bahagia kan dirimu. Jadilah apa adanya dirimu, sembuhkan dulu luka mu. Sehingga kamu bisa menemukan kebahagiaan mu yang sesungguhnya ya A Rangga.
Mungkin Arjuna pun tidak akan selamanya bersinar, akan tiba masanya nanti dimana sinarnya redup, seiring usia yang semakin bertambah.
A Rangga, Aku menunggumu sejak lama, kusebut namamu berkali-kali dalam do'a, ku jaga hatiku baik-baik, Dimana aku menyimpan perasaan yang ditumbuhkan oleh tuhan. Semuanya kulakukan sejak aku jatuh Cinta dengan mu waktu itu.
Kita sempat bertukar pesan, sempat bercerita tentang perjalanan hidupku. Aku sempat mengagumi mu, meski kamu tidak pernah peduli.
Kita sama-sama diam pada akhirnya, diam itu justru menghadirkan perpisahan. Katanya jika tidak berjodoh bisa saling mengingatkan dalam hal apapun, nyatanya kamu memilih menjauh dariku.
A Rangga, kamu telah menemukan orang lain yang lebih dulu membuatmu yakin, lebih dulu membuatmu percaya bahwa dialah yang dikirim tuhan untukmu. Entah Mawar atau yang lainnya, Aku tidak tau.
Aku sudah terlalu lama menunggu kehadiranmu, aku menunggumu setidaknya mengutarakan apa yang ada pada hatimu secara langsung kepadaku, atau sekedar menjenguk ibuku yang sakit. Sampai detik ini tak ada hal baik yang kamu lakukan untuk aku. Untuk menemuiku, mungkin tak akan pernah terjadi. Hanya sekedar ucapan saja, yang tak berarti apapun.
Zara percaya sebaik-baiknya Cinta adalah menjaga, menjaga perasaanmu padaku agar tetap utuh hingga waktunya tiba, Semuanya berakhir hanya menjadi sebuah cerita tanpa realita yang nyata.
Ya Allah Jika memang Rangga dan Zara hanyalah dua yang tak berakhir jadi satu. Maka tolong engkau hadirkan pada dua cukup sebatas perasaan dan jangan menjadi harapan. Karena semuanya tidak pernah jadi kenyataan.
Kini, aku lupa bagaimana cara untuk mencintaimu sekedarnya saja. Tidak apa-apa, Allah sudah menjawab segala tanya yang selama ini ada, tentang teka-teki yang belum terpecahkan, Tentang bagaimana Rangga sesungguhnya.
Mungkin sekarang waktuku telah habis untuk menunggumu, tetapi Rangga tak kunjung datang pada Zara. Sampai pada akhirnya Tuhan dan semesta memaksaku mundur perlahan untuk menjauh dari hidupmu A Rangga. Tuhan menyadarkan Zara bahwa Rangga sudah tidak layak untuk aku tunggu dan aku perjuangkan pada akhirnya.
Semoga dari situ Zara menemukan sesuatu yang mendewasakanku. Tuhan memang mempertemukan Zara dengan orang yang salah dahulu, sebelum akhirnya nanti dipertemukan dengan Cinta sejati yang Telah Allah persiapkan untukku.
__ADS_1
Seperti yang pernah aku katakan pada A Rangga dulu.
"Ibarat kalo aku bertamu, untuk sekarang aku mau nunggu di teras rumah aja. ga akan memaksa masuk, malu. Kalo disuruh pulang ya aku akan pulang. ga akan berani untuk sekedar mengetuk pintu. Dulu mungkin aku salah, sudah memaksa masuk tanpa izin. Ga sopan kan ya. Maaf ya. "
Dan sekarang aku telah menemukan jawaban nya.
"Cukup ya, ga usah kirim pesan whats app kesini lagi. "
Seakan akan kamu menyuruh ku pulang ketempat asalku, dimana aku tidak mengenalmu dulu a Rangga.
Terima kasih banyak a Rangga atas pelajaran hidup yang telah kamu berikan padaku, sampai akhirnya aku mampu menyembuhkan lukaku sendiri.
Aku akan pergi dan akan benar-benar pergi, karena mungkin pergi adalah salah satu cara terbaik ketika perjuangan dan pengorbanan hanya di anggap lelucon.
Dalam hidup, setidaknya satu kali, kita akan bertemu seseorang yang begitu kita cintai sekuat hati kita. Namun dirinya tidak akan pernah mampu kita miliki walau hanya sekejap, tidak akan pernah mampu kita genggam walau hanya sedetik, tidak akan pernah bisa kita sentuh walau seujung. Hanya mampu kita do'akan dan selesai.
A Rangga selamat tinggal, ucapan ini bukan perkara mudah bagiku. Karena didalamnya ada pertarungan Hati dan logika. Disaat Logika ingin pergi jauh melepaskan tapi hati selalu menahan untuk tetap tinggal.
Tapi, aku sudah tak sanggup lagi bertahan. Mungkin memang aku tidak akan bisa membenci mu karena rasa cintaku lebih besar dari pada rasa benci ku kepadamu Rangga.
Aku juga menemukan kata-kata Ittakrn penulis Novel Eccedentesiast.
"Menulis cerita adalah balas dendam terbaik. Dan membuat orang yang pernah mengusikku menderita di dalam tulisanku termasuk kepuasan batin yang sederhana, tapi cukup memuaskan.
__ADS_1
Melihat Dari situ aku juga bisa mengungkapkan bagaimana A Rangga sebenarnya, Dan aku merasa lega sekarang meskipun pada akhirnya Rangga dan Zara tak bisa bersama. Setidaknya Zara tau sifat dan karakter Rangga seperti apa. Sampai aku memiliki kekuatan untuk mengucapkan selamat tinggal Rangga.
Aku pergi dari hidupmu sekarang, Semoga bahagia ya. Sampai jumpa si keras kepala dan keras hati. Semoga kamu bahagia dan menemukan pasangan hidup yang kamu ingin kan a Rangga.