
Jumat pagi itu, kesibukan kami dimulai. Rumah papi, disulap. Segala sesuatu sudah dipersiapkan EO. Tapi, walau begitu, kami tidak tinggal diam. Aa yang hanya memakai kaos oblong putih itu, tampak bolak balik melihat persiapan diikuti oleh jejak Alka.
"Abang.. sama mama aja sayang," perintahnya.
Aku yang hanya duduk dan melihatnya bersiap dengan semangat, tersenyum kala dia melirikku dan melempar senyuman manisnya.
"Alka.. duduk di sini sama mama. Susunya dihabiskan nak." botol susu yang dipegang Alka tidak habis-habis.
Di dapur, sudah ada mbak Ike, mbak Linda, dan istri bang Hengki. Aku menghampiri mereka.
"Udahlah dek. Istirahat aja. Hari ini bakal capek loh." ucap mbak farah, istri bang hengki.
"Gapapa mbak.. masak apa kita siang ini?" tanyaku.
"Yang gampang aja, kan buat makan siang doang. Ayam goreng, dan capcay aja. Ayamnya udah di ungkep, tinggal goreng aja" jelas mbak Ike.
"Sayuran juga udh selesai nih. Tinggal eksekusi aja. Biar aku aja yang masak ya" ucap mbak Farah.
"Telat dong" ucapku.
"Sayaaang" suara Aa memanggilku.
"Bentar ya mbak. Aa udah manggil." ucapku.
"Hahaha.. di bawel itu kalau tidak lihat istrinya, seperti kebakaran jenggot saja. Tapi memang beda ya sekarang. Yopi akhirnya kembali ceria, gak seperti waktu belum kembali sama Ineke." ucap mbak Ike.
__ADS_1
"Memangnya kenapa, Ke?" tanya mbak Farah.
"Setahu mbak, Ineke kan ninggalin Yopi untuk menikah dengan papanya Alka" ucap mbak Farah.
"Ya, dek. Waktu mereka SMA, sampai Yopi tamat kuliah, mereka pacaran lama. Yopi tugas ke Bali. Ine dijodohkan oleh ibunya untuk menikah dengan papanya Alka. Ine sempat kabur ke sini. tapi, saat itu, Yopi sedang sibuk dan tidak bida dihubungi. Tapi sudahlah, tidak usah dibicarakan lagi. Sekarang, adik kita sudah menemukan cintanya lagi. Kebahagiaan dia, sudah kembali. Cintanya tidak akan salah, dan dia sudah menemukannya kembali." jelas mbak Linda.
"Dari mana? Kok Aa cari gak ada?" tanyanya.
"Ish.. Ine di dapur, sayang. Gabung sama mbak Linda, mbak Farah, mbak Ike." kemudian aku menyeka keringat yang ada di keningnya. Dia mencuri bibirku dengan kecupan pelan.
Ku dorong dia.
"Ih.. dilihat yang lain. Malu ih" ucapku singut.
Dia hanya tertawa.
"Tuh kan, ada Andrea" ucapku pelan.
Tiba-tiba dia menggendongku.
Spontan aku berteriak.
"Turunin Ine.. turunin Ine" ucapku sambil memukul dadanya. Dia menggendongku ke dapur.
"Turunin Aa.." teriakku.
__ADS_1
"Yopiiii... apa-apaan sih deeekkk.. Itu di perut Ine ada jabang bayi. Nanti ada apa-apa pula." jerit mbak Linda.
Dia tetap tidak menurunkanku.
"Syukur, dimarahin mbak Linda. Turunin Ine"
Dia menurunkanku pelan-pelan.
Aku memukul tangannya, dan mencubit tangannya.
"Aw... bukan terima kasih di gendong, malah mukul dan nyubit. Buatin Aa susu panas ya sayang" tanpa dosa dia duduk di meja makan.
Semua yang ada dan melihat kelakuannya. hanya menggelengkan kepala.
"Adek mbak tuh, suka iseng. Marahin mbak" ucapku sambil segera menyiapkan sarapannya.
"Ini tuan Raja" aku menyodorkan beberapa kue dan susu panasnya.
"Terima kasih bidadariku" ucapnya.
"Seperti dunia milik dia doang" ucap mbak Ike singut sambil tertawa kecil.
"Ine.. mesti sabar sama kelakuan bocah itu ya. Anak manja itu, gak berubah sifatnya. Udah mau jadi papa aja masih gitu." ucap mbak Ike lagi.
"Biarin, bini sendiri ini" jawabnya sambil mengelus perutku.
__ADS_1
"Sehat ya nak." lanjutnya lagi.