SOULMATE

SOULMATE
80


__ADS_3

Tiba-tiba aku terbangun, aku lihat handphone jam 01.10 malam, aku kaget karena aku bermimpi lagi-lagi dengan kamu a Rangga. Mengapa disaat aku mencoba move on, mencoba untuk berdamai dengan keadaan, kamu selalu hadir dalam mimpi ku, dan setelah itu aku sulit untuk tidur lagi.


Aku bermimpi belanja ke tempat mu seperti biasa, aku lihat kamu sedang fokus mengemas minyak curah. Aku tidak menyapa mu. Aku langsung menuju kasir, kebetulan di tempat kasir, ada a Fadli teh Syifa dan A Eko.


Aku memperlihatkan handpone ku kepada mereka, aku promosikan novel ku kepada mereka. A Fadli tertawa karena peran utamanya A Rangga. dan alur cerita nya menggemaskan menurut mereka, tertawa nya ada, ngeselin nya ada, marah, nangis, kecewa. nano nano pokoknya perasaan pembaca nya juga.


Kamu hanya melihat kami bercerita dengan memperlihatkan wajah mu yang sendu, sampai sampai minyak curah yang sedang kamu kemas luber kemana-mana.


A Fadli menggoda nya.


"Yang bener kerja Rangga, itu masa minyak nya tumpah-tumpah. Mata kemana tangan kemana. Fokus kerja fokus."


Aku dan anak-anak melirik ke arah mu dan tertawa. Kebetulan Yuda lewat.


"Mau dibantuin Zara bukan a? Ngomong dong, jangan diem aja."


A Rangga tidak berkomentar, langsung membawa kain lap, untuk membersihkan minyak curah yang berceceran di lantai.


Aku hanya meliriknya dan tersenyum.


Aku langsung terbangun. Oh ternyata ini hanya mimpi, mimpi lagi dan lagi.Terus saja seperti ini ya Allah mau sampe kapan.


Pagi hari aku berniat belanja ke tempat A Rangga, ini nyata ya, bukan mimpi.


Aku lihat dompet ku ada uang 800 ribu, lumayan buat beli snack jajanan anak, dapet banyak.


"Gas abis semua."


Ayah memberitahu aku.


"Aduh, ya sudah sekalian aja. Tabung nya masukin mobil."


Aku biasa ngambil gas langsung dari tempat agen, karena harga nya lebih murah.


Aku langsung menuju toko A Rangga, pulang nya mampir agen Gas elpigi 3 kg. Bagasi mobil sigra ku lumayan muat untuk 15 tabung gas elpiji 3 kg. Belanjaan dari Grosir aku simpan di jok tengah mobilku.


Aku parkirkan mobil ku, aku turun menuju pintu tokonya. Aku lihat A Rangga ada berdiri didepan, menunduk di atas tumpukan beras tanpa menyapa, ekspresi wajah nya persis sama dengan wajah nya yang tadi malam di mimpi.


Aku masuk untuk mengambil makanan yang akan aku beli, Di tempat minyak curah ternyata ada tumpahan minyak yang dihalangi kardus bekas. Persis dengan yang ada di mimpi ku. Mungkin hanya kebetulan, aku pun berlalu.


Ternyata ada Yuda dan wisnu di tempat snack, sedang menata pajangan di rak.


Yuda menyapa.


"Teh, boleh-boleh silahkan ambil aja mau yang mana. "

__ADS_1


Aku tertawa.


"Boleh ya, aku ambil semua barang nya. Suka pengen ngambil semua emang kalo lihat barang pajangan penuh kaya gini di rak. "


Aku memegang snack-snack itu.


Yuda kaget.


"Aduh teh, takut saya sumpah."


"Takut kenapa. " aku bertanya.


"Takut barang nya diobrak abrik." Yuda dan Wisnu pada ngomong yang ga jelas gitu.


"Kalian punya dosa ya sama aku. "


Mereka berdua tersenyum.


"Tenang aja aku bukan orang gila. Aku cuman mau belanja kok. Urusan pribadi nanti belakangan sekarang belanja dulu. Ok. "


"Oh iya teh iya. "


A Rangga keluar dari gudang samping.


Yuda ngomong lagi.


"Iya. "


Aku peringatkan kalian ya.


"Makanya kalian tuh ya, liat-liat dulu kalo mau bercanda atau menggoda wanita. mungkin kalian anggap nya semua yang kalian bicarakan itu sepele. sisi narsis nya kalian dan arogan nya kalian menggoda para wanita yang berbelanja itu ga berpengaruh pada kalian. Tapi mungkin itu sangat berpengaruh pada sisi wanita nya, Termasuk aku. Yang terlalu baper dengan tingkah kalian terutama komandan kalian."


Dari omongan-omongan yang dianggap biasa, candaan, godaan, rayuan. Wanita mana yang ga bisa didapatkan oleh sang komandan. Pasti semua hati wanita luluh. Tapi ingat dibalik itu semua ada hati wanita yang tersakiti.


Jangan sampai suatu saat kalian kena batunya ya.


Aku lebih suka A Hilmi. Kerja ya kerja tanpa basa basi busuk, nyata membantu dan perhatian nya wajar. bercanda nya wajar.


Aku kembali ke tempat kasir. ternyata ada kemajuan ya sekarang, pake scan barcode, Good job. Nah gitu dong otak nya dipake. Mau sampe kapan pake metode lama. Usaha kan harus mengikuti zaman apalagi pasar retail. Untuk bisa tetap bertahan di pasar ya kita harus pinter mengikuti sistem minimarket modern.


Jangan hanya mengejar keuntungan, tapi kenyamanan konsumen saat berbelanja juga harus diperhatikan. Kebersihan tempat juga, Perilaku pegawai nya juga. Belum penataan barang juga, Rapi, bersih, teratur. Ujung-ujungnya omset juga pasti naik kok.


Hilmi mengemas barang belanjaan ku. Aku godain dia.


"Cie gaya pake scanner. Awas grogi."

__ADS_1


"Si teteh bisa aja."


Aku tertawa dan melihat a Rangga di samping masih berdiri didepan tumpukan beras. Dia pun pergi keluar entah kemana.


Aku menunggu A Hilmi selesai mengemas barang belanjaan ku.


Aku teringat dulu ketika A Rangga duduk di meja kasir ditoko ku. Saat pertama kali kita dekat saat a Rangga memperbaiki Printer ku. A Rangga sangat suka mencoba scan barcode ku dengan Segala produk yang ada dibelakang meja kasir ku. Dia terus mencoba nya satu persatu.


Dan berkata pada wisnu yang ketika itu menemaninya ke toko ku.


"Wisnu, liat keren tau. tit.. suaranya tuh denger."


Wisnu tertawa.


"Coba pake aja nanti di tempat kita a"


"Susah, barang nya kan banyak. Terus yang digudang juga gimana."


Aku memberi masukan.


"Pasti bisa ko, dus dusan juga bisa scan aja kan ada yang tanpa kabel alat nya. Jadi semua nya teratur. Mengurangi resiko barang hilang. Jangan sembarangan orang masuk ke gudang terus ambil sendiri barangnya.


"Iya ya. "


"Ini sih sekedar mainan aku aja, jauh jika dibandingkan dengan toko kalian, jujur aku malu kalian ada disini. Barangkali aku salah ngasih harga jual. Kan beda dengan kalian. Kalian kan bos.


Aku tertawa pada saat itu.


"Ga apa-apa, Justru aku suka penataan barangnya rapi. Nanti suruh mang Dedi nata-nata mie Instan nya kaya gini ya." A Rangga berkata kepada wisnu.


"Harus sama Zara a kalo mau rapi sama persis kaya gini."


Aku bilang pada A Rangga pada saat di toko ku dulu.


"Cariin calon ya, kalo A Rangga ga mau. Yang lain juga ga apa-apa."


Wisnu menjawab.


"Si om aja ya a, jomblo."


"Hush, jangan masa sama si om." A Rangga menyela pembicaraan Wisnu.


"Ya udah, karena A Rangga lagi nyari calon mau nya seperti Zara, dan Zara nyari calon maunya seperti a Rangga. Apa susah nya kalian ngomong langsung. Ga usah berbelit belit lagi. Pusing saya a, mending pulang deh. " Wisnu kesel.


"Jangan gitu dong. tungguin. "

__ADS_1


"Kacau teh A Rangga, kemana-mana harus dianter saya. nelponin dari kemarin coba mau di anter. saya ga kerja makanya baru bisa sekarang kesini. Ga mau sendiri katanya."


Aku tertawa dengan tingkahnya. Tak pernah menyangka sekarang akan seperti ini.


__ADS_2