SOULMATE

SOULMATE
Profesional


__ADS_3

Suara itu, siapa itu?


Aku mendongakkan kepalaku.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku.


"Permisi, mbak. Saya dipanggil untuk hadir di sini, sebagai posisi sekretaris pak Indra."


Aku membelalakkan mata.


Bukan Kekey?


Kok bisa?


Dari pembicaraan itu, aku menangkap, bahwa Kekey lah yang akan menduduki kursi sekretaris menggantikan aku.


Aku masih tidak percaya.


"Sebentar. bisa saya lihat CV nya?" tanyaku


"ya mbak." kemudian perempuan itu menyerahkan cv itu.


"Anindita Tri Alinda, hm.. sebentar, saya ke pak Indra ya" ucapku.


Ku lihat dia merapihkan pakaiannya.


tok. tok. tok.


Aku memasuki ruangan.


"Permisi, pak" ucapku


"Langsung ajak masuk saja, ya" ucap Igun

__ADS_1


Aku mempersilahkan sekretaris baru itu, untuk masuk ke ruangan Igun.


"Ine.. tunggu sebentar. Silahkan duduk di sana dulu." ucap Igun.


"Baik, pak" ucapku formal.


Setelah dijelaskan semua kepada sekretaris baru itu, Igun memanggilku.


"Jadi, semua pekerjaan silahkan konsultasikan ke mbak Ineke, ya. Sebelum mbak Ineke resign, kami meminta mbak Ineke untuk mengajarkan segala sesuatu untuk Anindita," ucap Igun lagi.


"Baik, pak. Terima kasih, pak" ucapnya, dan kami pun berpamitan menuju meja kami.


Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ingin rasanya aku menanyakan langsung ke Igun, tapi tidak sekarang. Ini masih jam kantor. Tapi rasanya tidak sabar.


"Ini meja kita, untuk saat ini. Nantinya bakal jadi meja kamu, Anindita." ucapku formal.


"Dita aja mbak. Terima kasih mbak. Apa yang harus saya kerjakan mbak?" tanyanya.


Dan mulailah aku dengan tugasku mengajarkan banyak hal kepadanya.


Seluruh berkas-berkas ku tunjukkan ke Dita.


"Ini jadwal pak Indra untuk minggu Ini. Jangan lupa sebelum pak Indra pulang, laporan kegiatan yang akan dikerjakan ya." ucapku.


Hari sudah sore. Aku siap-siap untuk pulang. "Mbak Ine, pulang sendiri atau dijemput?" tanya Dita.


"Alhamdulillah, dijemput suami. Saya duluan ya." ucapku dan berjalan menuju mobil CRV putih milik Aa.


Aa melihatku, kemudian dia turun, dan membukakan pintu untukku. Dan dia menjalankan mobilnya.


"Gimana hari ini? Bahagia sekali kelihatannya?" dia mulai kepo.


"Sayang.. hari ini, benar-benar speechles.. " ucapku semangat.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyanya.


"Ternyata yang gantiin posisi sekretaris Ine, bukan mantan sekretaris mas Herli. Ine kaget benar tadi. Padahal kan, Igun sepertinya sudah klop sama Kekey. Apa yang buat Igun berubah pikiran ya?" tanyaku.


"Dapat ilham kali dia" dan aa pun tertawa lebar.


Aku menunjuk lesung pipinya itu.


" Seru benar ketawanya, tapi benar deh sayang. Kok bisa ya?" tanyaku lagi.


"Udah nanya ke Igun langsung belom?"


Aku menggeleng. "Gak sempat"


"Bentar." Aa mengeluarkan ponselnya


"Gun.. bini gue mau ngomong" Aa menyerahkan ponselnya kepadaku.


ishhh.. desahku kesal.


"Apa bawel. Mo nanya si Anindita itu? Kenapa gak tanya gue tadi" Igun tertawa.


"Ya gak enaklah, kalau di kantor kan gue bawahan elu. Profesional."


Aa yang mendengarkanku, mengusel-usel kepalaku.


Aku meliriknya, dan bukan dia menjauhkan tangannya, malah dia tambah mencubit pipiku.


"Besok ajalah gue cerita, gue mau istirahat dulu. Seharian di bawelin sekretaris gue, sakit kuping gue" ucapnya dan terus tertawa.


"Eh.. Yaaaa.. dimatiin.. lunjak bener emang si Igun ini" gerutuku.


"Dah.. gak usah dipikirkan. Besok kita tidur di rumah papi kan. Berarti, malam ini, Aa boleh minta jatah dong. Kan Ine juga lagi bahagia" ucapnya yang seperti tidak punya dosa.

__ADS_1


Aku hanya melirik dia dengan sinis. Dan lagi, dia mengusel kepalaku.


__ADS_2