
Ada pesan whats app dari adik sepupuku.
"Teh, neng di lobi, langsung ke lantai 4 apa tunggu dulu disini."
"Tunggu sebentar, teteh turun sekarang ya."
"Oh iya."
Aku menjemputnya dilobi.
"Gimana keadaan ua sekarang?"
"Alhamdulilah, mendingan. "
"Syukurlah kalo gitu."
Neng langsung masuk keruangan ibu, dengan membawa makanan. Yang ujungnya neng juga curhat sama ibu dan aku. Kalo sekarang usaha nya lagi jatuh, apalagi usaha Om, hancur tak tersisa. Belum setahun Om meninggal usaha nya di pindah tangan kan ke tante dan adik laki-lakinya, tapi tante tidak bisa menjalankannya. Sampai sekarang semua nya hancur tak tersisa.
Seperti inilah hidup, setiap orang punya masalah. Masalah nya berbeda-beda. Hanya bisa saling menguatkan satu sama lain. Dengan berbagi cerita kita bisa bertukar pikiran, saling memberikan solusi yang terbaik.
Padahal hidupku juga sekarang tidak sedang baik-baik saja, tapi orang-orang disekitar ku sangat nyaman jika bercerita dengan ku. Dan mendapatkan pencerahan dari apa yang aku sampaikan kepada mereka. Aku pun tidak menyadarinya kenapa aku bisa jadi seperti ini. Aku hanya bisa tersenyum kepada mereka.
Jam 4 Sore tidak ada tanda-tanda ibu untuk pulang hari ini. Aku pulang ke rumah kakakku menjemput Jarel.
Sampai dirumah ku, ibu-ibu pengajian memanggilku.
"Zara..Ayo Pengajian nya di rumah bu Euis sekarang."
__ADS_1
"Oh.. Maaf ibu-ibu aku libur dulu ya, ga ikut."
"Baru pulang dari mana? "
"Dari Rumah sakit, Ibu masuk IGD Sabtu malam bu. "
"Oh, sekarang siapa yang nunggu? "
"Ayah."
"Kebagian bolak-balik ya, Jarel dibawa ke rumah sakit? "
"Nggak, dititip di rumah kakak. "
"Aduh Repot dong kakak juga ya, kan punya anak kecil. "
"Ya udah cepet sembuh ya, bilang salamin ke Ibu. Di do'ain cepet sembuh ya. "
"Iya bu makasih. "
Aku masuk rumah.
"Hayo a mandi dulu yu. Nanti kita buka toko semoga aja ada yang beli, barang dagangan seadanya. "
"Iya mah. "
Selesai shalat magrib dan makan aku membuka toko ku, lumayan ada aja yang beli. Walaupun barang seadanya. Tak apa, tidak bisa memaksakan jika memang tidak ada ya tidak ada.
__ADS_1
Pagi hari aku berangkat ke sekolah ada pemotretan Anak-anak disekolah. Ada yang wisuda juga untuk masuk ke sekolah dasar tahun ini. Jarel belum, masih satu tahun lagi di TK.
Aku pusing melihat anak-anak yang seliweran kesana kemari. Gimana Ibu guru yang setiap hari mengajar anak-anak ini. Aku hanya beberapa jam saja sudah pusing. Salut untuk ibu guru TK, kalian orang-orang hebat.
Anak-anak kelas B didampingi Ayah dan ibu nya untuk foto Wisuda.
Jarel bertanya.
"Mamah aa ga di foto kaya gitu sekarang kan? "
"Nggak, nanti tahun depan."
"Iya, kalo sekarang kan ayah nya ga ada ya. "
he.. he.. aku hanya tersenyum tidak menjawab.
"Ayo masuk, Jarel fotonya bareng teman-teman semua tuh banyakan."
"Ok."
Dia masuk dengan tertawa bersama teman-teman kelasnya yang lain.
Ibu-ibu memanggilku, aku kebagian kelompok gizi besok. Aduh, untuk saat ini aku tidak bisa memberikan tambahan makanan aku ga punya uang, mana ga bisa ikut masak lagi, mau kembali ke rumah sakit. Aku minta maaf kepada mereka. Aku berikan minyak, beras dan kelapa aja yang ada di rumah. Karena menunya Ayam Serundeng, capcay, dan jeruk. Kalo untuk tambahin uang untuk saat ini asli aku ga bisa. Ga seperti 4 bulan yang lalu, jika aku punya aku ga akan susah untuk membantu.
Jam 11 baru selesai pemotretan, aku kembali menitipkan Jarel di rumah kakak. Aku berangkat ke Rumah sakit lagi, membawa makan siang untuk ayah.
Aku lihat kondisi ibu semakin membaik, aku tunggu diluar sambil melanjutkan menulis novel. Apalagi yang bisa aku kerjakan saat menunggu ibu di rumah sakit. Kalo bukan menulis novel. Daripada waktunya terbuang sia-sia.
__ADS_1