
Time to say goodbye, Bali.
Semoga kami bisa mengunjungi pulau ini lagi. Terima kasih sudah memberikan kesan yang indah untuk keluarga kecil kami.
Setelah check out, dan mobil sewaan dikembalikan, kami menuju bandara, diantar oleh petugas hotel.
Aa sengaja tidak menelpon ayah, karena takut merepotkan.
Seperti pada umumnya, kalau berangkat bawa barang seperlunya, tapi ketika pulang dari jalan-jalan, bawaannya malah 2 kali lipat.
Tapi, dokter Yopi tidak pernah mengeluhkan semua.
Sampai di Bandara, kami semua menunggu di lobby keberangkatan, mataku masih mencari tempat untuk mengisi perut.
"Alka laper, gak? Kok mama laper ya." sebenarnya cuma ngode dia.. kira-kira peka gak kalo aku ngomong gitu.
Dia menoleh ke arahku.
"Mau makan apa, sayang? Yok kita cari makanan" ajaknya.
Dasar anak kecil, yang terlihat hanya ice cream.
"Papa.. Ice cream. Boleh?" tanyanya
Aa mengangguk dan menggendongnya untuk memilih varian rasanya. Kami duduk dan akhirnya aku menikmati ice cream vanila feat manggo.
"Mau bakso gak?" tanyanya.
"Hm.. maunya salad lagi. cariin ya sayang" ucapku manja.
Dia tersenyum dan mencari apa yang aku mau.
__ADS_1
"Ineke?" sapa seorang perempuan,
Ketika aku menoleh, ternyata dia Indah. Mantan pacar mas Herli.
Aku tersenyum.
"Kebetulan sekali ya kita ketemu. Sama siapa?" tanyanya.
Jangan sok ramah deh. Please. Kamu yang menghancurkan rumah tanggaku.
"Boleh aku duduk di sini, udah lama kita gak ketemu" ucapnya lagi,
dan aku hanya tersenyum sambil membersihkan mulut Alka.
"Sayang, ini saladnya" Aa menghampiri kami dan memberikan saladnya.
"Wow, siapa ini?" ceplos Indah.
"Saya suami Ineke. Mbak ada keperluan apa di sini" tanyanya dingin.
"Owh.. sudah nikah lagi, hebat sekali kamu ya, ne" ujar perempuan tidak tahu malu itu.
"Maaf mbak, kalau tidak ada keperluan lagi, silahkan tinggalkan kami"
Dan Indah pun pergi dengan rasa malunya.
"Sayang, jangan begitu" ucapku.
"Aa gak suka aja, lihat gayanya yang sok begitu. Lagian kenapa dia ada di meja kita, siapa itu?" tanyanya
"Dia pengacara, namanya Indah." jawabku.
__ADS_1
"Oh, temannya mas Herli ya? Tapi kenapa begitu, mas Herli sepertinya baik, kok temannya begitu" ucapannya sedikit julid.
"Dia mantan mas Herli, dan dia sangat mencintai almarhum, tapi ceritanya cinta bertepuk sebelah tangan."
"Kenapa putus, dan nikah sama Ine, ngerebut Ine dari Aa" nadanya agak sedikit meninggi.
"Sudahlah, tidak usah dibahas. itu cerita lama, gak usah diungkit lagi. Boleh?" tanyaku.
Sementara kami berbincang, ternyata Indah memerhatikan kami,
"Mudah sekali dia melupakan Herli, dan sekarang dia sudah menikah, dasar perempuan perebut kekasih orang. Untung Herli sudah pergi, daripada dia selalu memikirkan Ineke, dan menjadi suaminya kembali, lebih baik dia mati" gumamnya dalam hati.
"Tapi, sepertinya keluarga itu sangat bahagia. Enak sekali hidup si Ineke. Kenapa aku tidak pernah mendapat kebahagiaan. Apa aku terlalu egois?"
Sementara Indah dengan ocehannya, kami menyantap makanan yang ada di depan kami.
"Assalamualaikum, nak. Udah mau berangkat ya? Ayah dalam perjalanan menuju bandara. Ayah yang jemput ya" Sebuah pesan singkat yanh dikirim oleh ayah.
Aku menunjukkan pesan itu ke Aa.
"Sayang, baca" ucapku sambil bersender di bahunya.
"Sayang, gak minta dijemput, kan? Kasian ayah"tanyanya.
Aku menggeleng.
"Ya sudahlah, mau diapakan, nanti ayah tersinggung kalau kita menolak."
Pesawat yang kami tumpangi siap berangkat.
Dan akhirnya kami meninggalkan pulau Bali.
__ADS_1