
"Dah.. mandi sana" kemudian aku berlalu.
"Aneh" gerutunya.
"Sayang, kalau baksonya udah sampai, bayar ya" ucapnya.
Aku masuk ke dalam kamar lagi,
"Kan balik lagi, hahaha.. ini dompetnya sayang." lanjutnya
Aku mengambilnya dan turun ke lantai bawah.
Aku menunggu di teras depan, sambil melihat Alka yang sedang main basket bersama pak Min. Alka tertawa melihat pak Min mendrible bola, setiap bola yang dipantulkan, tidak dapat di pegang kembali.
Klakson motor tepat berada di depan pagar. Aku segera membuka pintu, dan benar saja, itu pesanan kami.
"Bu.. tolong ambilkan 5 mangkok ya. Kita makan di sini saja." Dan bu Min pun mengambil mangkok yang aku minta.
Aa membawakan air minum di belakang bu Min.
"Ayo makan dulu" ucapku sambil menuangkan bungkusan bakso itu.
Ini sih hamil gak hamil, namanya bakso, aku juaranya. bisikku dalam hati. Semoga kehamilan kedua ini, tidak menjadikan aku lemah seperti hamil Alka waktu itu.
Aku menghabiskan seporsi bakso.
"Nah.. gitu.. makannya diabisin. kan seneng Aa liatnya, ya kan bu Min" ucap Aa.
__ADS_1
Bu Min tersenyum melihat kami.
"Sayang, besok Ine boleh kerja gak?"
Aa melotot melihatku.
"gak aneh-aneh deh sayang."
"Tapi gak bisa langsung begini, sayang. Kasian Igun. Paling tidak, Ine menyiapkan sekretaris baru untuk Igun. Dan mengajarkan semua keperluan Igun. Boleh ya?"
Aa tidak menjawab sepatah kata, aku tahu, dia tidak suka. Tapi tanggung jawabku mengharuskan aku melakukannya.
Malam itu setelah makan malam, Aa langsung masuk ke kamar kami. Sejak tadi sore, Aa diam. Aa tidak pernah marah padaku, pelampiasannya pasti lapangan dan bola basket, Aku sangat mengerti dia.
Aku mendekatinya, dan dia masih sibuk dengan ponselnya.
Tanpa banyak bicara, Aa mengambil minyak kayu putih yang ada di meja rias.
Aku membuka kancing bajuku, dan tidur telungkup. Dia membaluriku dengan minyak kayu putih dan mengurutku.
"sudah, sayang. Mana lagi?" tanyanya.
Aku membalikkan badanku.
"Perutnya juga."
"Ini mah gak tanggung kalo urut yang lain" ucapnya dengan keringat dan ketegangan terjadi.
__ADS_1
Aku merasa enak dengan pijitan plus nya. Ketika aku mengerang, antara enak dan nikmat, dia menikmati gunungku yang mulai tegang. Tangannya meraba bagian lainnya.
"Wah.. tukang urutnya keringetan ini." kemudian dia melepaskan kaos oblongnya dan melanjutkan mengurutku.
Nafasku mulai tidak dapat ku kendalikan. Ku buka pelan-pelan, celana yang masih dipakainya, dan juniornya sangat tegang. Pelan tapi pasti, malam itu kami menikmatinya.
Bulan purnama itu terlihat sangat indah. Kami yang tengah dimabuk asmara, menatap rembulan itu dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Aku menidurkan tubuhku, di atas dadanya. Dengan selimut, kami menutupi tubuh kami yang tidak memakai selembar kain pun.
"Bulannya sangat cantik ya, sayang" ucapku.
"Ya, bulan yang selalu Aa lihat, ketika Aa merindukan Ine." dia membelai rambutku.
"Apa yang dilakukan ketika melihat bulan itu?" tanyaku.
"Aa berdoa, akan dipertemukan kembali dengan belahan jiwa Aa. Aa selalu menceritakan pada bulan, betapa Aa merindukan Ine" jawabnya singkat.
"Kenapa?"
"Karena hanya dengan bulan, yang bisa menyampaikan rasa rindu Aa melalui mimpi kepada Ine, Ine dulu sering mimpiin Aa gak?"
tanyanya lagi.
"Sering, apalagi, ketika Ine merasa tertekan, Ine selalu memanggil nama Aa" Aku memeluknya.
"Jangan tinggalin Ine lagi ya." lanjutku.
Aa mencium keningku, dan hilanglah marahnya sore itu.
__ADS_1