
dirumah aku lihat handphone ada pesan dari A Rangga.
"Istirahat dulu sana. "
Aku tidak balas pesan nya.
Ibu bertanya.
"Dari mana?"
"Dari sekolah."
"Langsung ke grosir? "
"Iya."
"Ada a Rangga nya? "
"Ada."
"Ngobrol? apa katanya? "
"Ga bilang apa-apa."
Ibu hanya bisa menghela nafas dan memegang dadanya.
"Makan dulu bu. Dari pagi belum makan. "
"Ga bisa. "
Kondisinya ibu semakin memburuk. Aku kirim pesan ke A Rangga.
"Aku bisa istirahat, tapi kondisi ibu mengkhawatirkan. "
Tiba-tiba ketika shalat magrib, ibu memanggil. Ibu terus memegang dadanya, Nafasnya berat. Aku yang melihatnya aja ga tega.
"Ibu berobat lagi ya."
Ibu hanya menggelengkan kepala.
"Ke Rumah sakit aja ya sekarang, langsung ke IGD."
Ibu mengangguk, dan bertanya.
"Bpjs nya udah dibayar belum?"
"Udah, ga usah dipikirkan."
Ayah nyiapin barang-barang yang harus dibawa.
Aku bayar bpjs nya dulu karena memang belum dibayar, untung saja masih ada saldo 250 ribu di aplikasi jual pulsa yang biasa aku pake. Aku bayar Bpjs ibu 200 ribu yang Bulan Mei sekarang. Bulan Februari sampe April kemarin nunggak. Gak bisa bayar baru dibayar bulan April nya ada uang iddah dari Ditto. Semua nya kacau.
Ada uang di dompet ibu 200 ribu recehan, aku bawa. aku ga pegang uang sama sekali, karena sudah dibayarkan cicilan mobil tadi sore. Tidak tau akan seperti ini.
"Aa jarel pake jaket dingin. "
"Iya. "
Aku mengeluarkan mobil ku, Ku lihat handphone jam 20.00. Aku kirim pesan ke A Rangga. Karena ingat dengan perkataan nya tadi siang, Ibu pasti sembuh.
"Aku ke hermina, Bawa ibu."
Dimobil ayah telpon kakakku, mengabari kalo ibu di bawa Ke rumah sakit.
Sampai di Rumah sakit, aku langsung bawa ibu ke IGD. Ibu langsung di tangani dengan baik, tensi nya 198. aku kaget dan takut melihat kondisi ibu seperti ini, Aku tidak kuat ingin menangis, tapi aku harus kuat.
Dokter nya bertanya keluhan ibu, aku ceritakan. Ibu punya riwayat Jantung dan darah tinggi, terakhir kontrol bulan Juli 2021, sebelum nya rutin berobat jantung setiap bulan.
Perawat pun ricuh, semua nya panik. Dan bergegas menangani ibu. Aku semakin takut dengan kelakuan perawat nya yang seperti itu.
Perawat memasang kan oksigen di hidung ibu, Belum lagi kabel kabel untuk rekam jantung, Kaki tangan ibu dijepit dua-duanya. kabel-kabel di dada ibu banyak sekali. Jari tangan sebelah kiri ibu dipasang alat yang terhubung komputer untuk memantau kondisi jantung ibu yang suara nya menakutkan dan layar monitor nya membuat tangan ku semua gemetar, dan kaki ku rasanya tidak mampu untuk bediri.
Ayah menunggu di luar bersama Jarel. Infusan dipasang di tangan sebelah kanan ibu, dan Selang untuk buang air kecil juga dipasang kan oleh suster. Aku memegang pegangan ranjang seerat-eratnya disamping ibu berbaring. Berusaha tetap berdiri tegar dan tidak menangis, berusaha menenangkan ibu. Walau hati ku menjerit dan takut.
"Bu beli popok celana untuk ibunya ya."
Aduh aku bingung, dan menjawab iya Suster.
Aku keluar untuk membeli popok dewasa untuk ibu, Jarel rewel mau digendong ga mau sama kakek. Mau ikut sama aku. Ya Allah, kuat kan aku selalu.
Aku pergi ke minimarket sebrang Rumah sakit, mencari popok dewasa. Harus beli satu pak aku lihat harga nya paling murah 70 ribu. Terpaksa aku beli karena tidak ada eceran. Hati ku menangis melihat uang di dompetku saat ini.
__ADS_1
Aku kembali ke IGD, memberikan popoknya ke Suster. Ayah ku hanya duduk diam tidak bisa melakukan apa-apa. Jarel aku gendong masuk.
"Bu anaknya ga boleh dibawa masuk kesini ya kasian banyak virus."
"Oh iya. "
Aku kembali keluar, menitipkan Jarel ke ayah ku. Jarel nya ga mau dan nangis. Sangat-sangat drama kali ini aku rasakan.
Aku tinggalkan Jarel dan kembali ke ruang IGD. aku berikan kabar semua saudara ku. Mereka semua mendo'akan tetapi tidak ada yang bisa membantu dengan uang. Pikiran ku benar-benar terasa oleng, terombang-ambing entah harus melakukan apa.
"Bu ambil ini ke farmasi ya."
Aku mengambil berkas-berkas dari perawat nya. dengan rasa takut harus mengeluarkan biaya yang tidak ditanggung BPJS.
Aku keluar IGD, Jarel rewel lagi. Mau di gendong.
Aku bawa Jarel ke farmasi. Alhamdulilah alat-alat nya langsung diberikan kepada ku tidak perlu bayar.
Aku kembali ke IGD, jarel dititip lagi ke kakeknya.
"Bu, ibunya harus di Rontgen dan di cek laboratorium."
"Bayar ga suster? "
"Nggak, ditanggung BPJS. "
Aku menghela nafasku.
"Iya, boleh. "
Susternya memanggilku kembali.
"Bu, ibu nya harus dirawat inap. Kondisi nya ga memungkinkan untuk di bawa pulang. Harus di bawa ke ICU. Tensi nya belum stabil masih tinggi. Boleh runding dulu."
Aku bertanya ke ayah ku, Bagaimana pendapatnya. Ayah ingin bawa pulang ibu, Tidak perlu nginap. Tapi aku melihat kondisi ibu, penuh dengan kabel seperti itu, dan juga selang. Apa mungkin aku bawa pulang kondisi ibu seperti itu.
Aku kepikiran A Rangga. Aku kirim pesan Whats app emoticon menangis, tapi tidak dibalas pesannya.
Aku coba telpon berkali-kali tidak diangkat. Aku harus berfikir cepat. Bagaimana dengan Jarel kalo ibu ku dirawat, siapa yang akan menunggu ibu disini, Aku atau ayah. Aku melihat lagi kondisi Ibu.
Aku mengirim pesan
"A Rangga tolongin bisa? "
Aku memejamkan mataku dan berpikir. Cepat.. cepat... Aku harus memutuskan sesuatu demi nyawa ibu.
"Di rawat aja suster. "
"Siap bu, saya siapkan berkas nya sebentar. "
"Iya. "
Aku kembali ke ibu.
"Ibu tenang ya, dirawat disini juga ga apa-apa biar ibu cepat sembuh. "
"Jarel gimana? bayar nya gimana?"
"Jarel gimana nanti aja, bayarnya pake Bpjs. "
"Ada anting anting ibu. Besok pagi jual ke toko mas, surat nya ada di dompet. Takutnya ada biaya yang harus dibayar. Ibu tidak punya apa-apa lagi."
"Iya. "
Aku melepaskan anting-anting ibu, sambil menahan tangis.
Suster memanggil aku.
"Bu ini berkas nya di bawa ke bagian pendaftaran dulu kedepan ya. "
Aku memberikan berkasnya ke bagian pendaftaran rawat inap.
"Bu, Bpjs pernah terlambat bayar ya 3 bulan? "
"Iya."
"Ada denda yang harus dibayar besok jam 08.00 pagi, setelah itu, semua biaya ditanggung BPJS."
"Oh iya. "
Dalam hati aku bertanya-tanya berapa ya denda nya, mahal ga ya? uang nya besok dari mana?"
__ADS_1
"Yang menunggu harus melakukan tes SWAB ANTIGEN terlebih dahulu. "
Aduh uang lagi, dengan rasa takut aku bertanya.
"Berapa biaya nya, bisa dibayar besok pagi nggak? "
"90 ribu per orang, coba tanya nanti ya bu kebagian laboratoriumnya bayar nya kapan. Pinjam KTP nya aja buat data.
"Oh iya. "
Aku menghampiri ayahku, dan mengajaknya ke laboratorium untuk tes SWAB. aku bertanya ke bagian laboratorium nya bisa bayar nya besok pagi apa nggak?
"Coba tanya dikasir ya bu ini berkasnya."
Aku membawa berkas nya menuju ke kasir.
"Bu bisa bayar besok ga tes SWAB nya?"
"Tidak bisa ibu, harus langsung sekarang karena pasiennya harus segera masuk ICU sekarang. "
Aku buka dompet ku isinya uang pecahan 2 ribu aja.
"Bu uang nya receh ga apa-apa, receh banget malah. "
"Ga apa-apa lagi butuh buat kembalian disini bu."
Aku menghitung uang pecahan 2 ribu itu dan memberikan nya pada kasir, hanya bisa ayah ku dulu yang tes, karena uangnya hanya ada 130 ribu. Sisa 40 ribu di dompet.
Jam di handphone ku menunjukan jam 00.00 ibu masih diobservasi Di IGD. Jarel rewel mau tidur ga bisa.
Aku menghampiri ibu.
"Bu, aku pulang dulu ya kasian jarel, Ibu kuat."
"Iya." Ibu menganggukan kepalanya.
Aku menghampiri suster.
"Suster, ada berkas yang perlu di tanda tangani lagi ga? saya mau pulang dulu."
"Sudah beres bu, tinggal menunggu ke ruang ICU. "
"Oh iya, kalo ada apa-apa hubungi aja. Ini no handphone saya. "
"Iya bu. "
Aku pamit ke ayah ku, keluar menuju parkiran.
Mobil di parkiran lantai 2 hanya tersisa dua.
"Mamah serem ya, ga ada orang. " Jarel bilang seperti itu.
"Ga apa-apa, Mau foto?"
"Mau. "
Aku lihat jam di handphone ku 00.15. tengah malam diparkiran rumah sakit berdua bersama anakku. Sudah lah tidak perlu takut, ada Allah.
"Ayo Jarel masuk mobil. "
"Ok. "
"Kursinya benerin biar aa bisa tidur. "
"Siap. "
Dijalan sepi sekali, tidak berpapasan dengan mobil lain karena mungkin sudah lewat tengah malam. Serasa jalan milik sendiri. Di tengah perjalanan ayah telpon.
"Kunci rumah ketinggalan disini. "
"Yah lupa. udah jauh ga mau balik lagi."
"Oh, mampir rumah kakak aja ada kunci cadangan."
"Iya."
Aku tutup telponnya dan melihat anakku sudah tertidur pulas di kursi mobil.
Sampai dirumah, aku mengabari A Rangga. Aneh ya udah tau bukan siapa-siapa tapi secara otomatis selalu ingin memberinya kabar.
"A Rangga ibu dirawat. Ini aku baru nyampe rumah pulang dulu karena Jarel ga boleh nginep di rumah sakit. "
__ADS_1
Kamu ga membalas pesan aku. Tak apa karena aku hanya memberinya kabar aja.