
Aku bingung.
Tempat di seberang sana, sangat indah sekali. Tapi, di tempat berbeda, Aa memanggilku. Dia menangis. Lelakiku menangis. Suara tangisnya pilu sekali.
"Sayang.. kembali.. jangan tinggalin Aa lagi.."
Kurasakan tetesan air, Air matanya jatuh ke pelipis mataku, aku membuka mata. Aku tidak tau apa yang terjadi. Yang aku tau, Aa menggenggam tanganku.
"A" ucapku.
"Sayang.. Alhamdulillah... Ine sudah buka mata lagi." ucapnya dengan mata sembabnya.
Aa keluar memanggil petugas dan meminta stetoskopnya.
Aa memeriksa kondisiku.
"Bagaimana tensinya, sus" tanya Aa.
"Masih rendah, dok." sahut perawat yang bertugas saat itu.
"Ine dimana?" tanyaku.
"Di ruang ICU, sayang. Ine tidur lama sekali, 3 hari ine tidak bangun. Kondisi Ine sangat lemah" ucapnya sambil memegang erat tanganku.
Ku buka alat bantu pernafasanku.
"Jangan dibuka." ucapnya sambil memasangkan kembali.
"Istirahat saja ya sayang." ucapnya pelan lagi.
Aa memerintahkan petugas untuk menghubungi dokter Yusuf.
"Baik, dok.." jawab seorang perawat.
"A... " suaraku lirih, entah kenapa, aku sangat haus sekali.
Aa mendekatiku.
"Ya sayang" sahutnya.
"Haus, A"
__ADS_1
kemudian Aa mengambil air mineral dan memberikannya kepadaku.
"Maafin Aa ya sayang, Aa gak tau kalau Ine sampai begini." dia tetap menangis.
"Aa takut, Aa takut Ine ninggalin Aa" kemudian dia mengecup tanganku.
Aku menghapus air matanya.
"Ine gak akan pergi sendiri, A.
Kalaupun itu saatnya, kita akan pergi bersama. Benar kan?" tanyaku.
Aa mengangguk dan mencium keningku lagi.
"Assalamu'alaikum" ucap dokter Yusuf.
"Wa'alaikumussalam" jawabku dalam hati.
"Wa'alaikumussalam, dok.. " jawab Aa.
Dokter yusuf menghampiriku, dan memeriksa kandunganku.
"Untuk sementara, semua baik. Hanya kondisi bu Ineke yang belum stabil membuat pergerakannya juga melemah. Cepat pulih ya bu Ineke. Kasian dokter Yopi. Saya pamit ya dok" ucap dokter Yusuf sambil menepuk pundak Aa.
"Alka di rumah ibu, sayang" jawabnya.
"Kalau sudah stabil, kita pindah ke ruang perawatan ya sayang." lanjutnya.
Aku mengangguk setuju.
Sudah 2 kali aku bermimpi aneh.
Ada apa?
Aku memejamkan kembali mataku.
Lelah itu tak kunjung reda.
Saat aku tertidur, aku mendengar lantunan ayat suci Al Quran, suara orang yang sedang mengaji itu adalah suara suamiku, tetapi, kenapa sangat lirih, pedih sekali. Aku membuka mataku.
"A.. Ine di sini. Jangan nangis lagi" ucapku pelan. Karena 3 hari aku tertidur, suaraku terasa sangat berat.
__ADS_1
Aa mengangguk memandangku.
"Ine sudah sehat, kita pulang ke rumah kita aja ya. Di sini bau obat-obatan." ucapku lagi.
"Tunggu sampai besok ya sayang.. Kalau kondisi Ine sudah stabil semua, kita pindah dari ruangan ini" ucapnya penuh kasih.
Aku mengangguk dan mengikuti permintaannya.
Keesokan hari, aku merasa lebih baik.
Aku siap dipindahkan ke ruang perawatan.
Di sana, ayah, ibu, Alka, papi, dan semua keluarga menunggu kehadiranku.
Ketika tempat tidur di dorong ke ruangan itu, aku melihat mereka dengan mata kesedihan.
Ada apa sebenarnya.
Aa juga dari kemarin tidak banyak cerita.
"Mama.. " hanya suara anakku yang ada.
Aku tersenyum kepadanya, Alka sedang di gendong Andrea, anak mbak Linda.
Setelah dirasa aman, perawat yang mendorong tempat tidurku berpamitan.
"Istirahat ya bu Ine" ucap mereka sambil berpamitan.
"Gimana kondisi Ine, nak?" tanya ibu sambil menangis.
"Ine baik, bu. Jangan nangis bu.. Ine sehat kok bu" ucapku sambil tersenyum.
Mereka semua berdiri di sisi tempat tidurku.
"Cepat sembuh ya nak" ucap papi.
Aku tersenyum ke lelaki tua yang gagah itu.
"Kita semua sayang Ine" ucap mbak Linda memegang kakiku.
Kejadian apa 3 hari yang lalu?
__ADS_1
Aku masih berfikir, yang aku ingat, hanya rasa mual dan kepalaku yang sakit.
Kenapa semua mengkhawatirkan aku?