SOULMATE

SOULMATE
129


__ADS_3

Aku bermimpi berada disebuah gedung, berdua bersama anakku Jarel. Niatnya mau ke supermarket untuk belanja bulanan.


Aku masuk gedung itu, menuju lantai 3, tapi didalam gedung nya sangat gelap tak ada lampu yang menyala satu pun, aku terus berputar-putar didalam gedung mencari supermarket itu, tapi tak juga aku temukan.


Aku terus mencari jalan keluar, karena lorong-lorong gedung ini sangat gelap, dan juga dipenuhi reruntuhan bekas bangunan seperti gedung ini telah dilanda gempa. Aku melihat reruntuhan puing bangunan dan juga jalan nya yang sangat kotor seperti terdapat sebuah pipa saluran air di dalam gedung itu yang bocor karena tertimpa reruntuhan bangunan.


Anakku Jarel menangis ketakutan.


"Mamah kita ada dimana? " Jarel bertanya sambil memegang tangan ku dengan sangat erat.


"Mamah juga ga tau a, sepertinya kita tersesat."


"Takut." Jarel memejamkan matanya dan menangis."


"Kita jalan lagi yuk a. " Aku memegang tangan anakku dan berjalan.


Aku mencoba terus berjalan meskipun lelah, karena. terlalu lama berputar-putar di dalam gedung yang gelap ini.


Sampai aku melihat sebuah ruangan yang sangat terang, lalu aku mendekati ruangan itu, aku masuk ternyata ini mushola. Zara melihat banyak orang disini sedang melaksanakan shalat berjamaah.


Zara dan Jarel memperhatikan semua orang yang berada didalam mushola ini, tapi tak ada satu pun yang terlihat wajahnya. Semua nya bersinar dan menggunakan kain putih, entah itu mukena atau apa. yang jelas semuanya putih sampai aku tidak sanggup untuk melihat wajahnya satu persatu.


zara memberanikan diri mendekati satu orang yang berada duduk di mimbar. Seperti sedang mengaji. Aku memberanikan diri mendekatinya dengan gemetar sambil memegang erat tangan anakku.


"Pa boleh bertanya? "


"Orang itu mengangkat kepalanya yang tadinya tertunduk, melihat ke arah aku yang menghampirinya. "


Aku tidak dapat mengenali wajahnya, karena begitu sangat bersinar, sampai aku menutupi mata ku dengan tanganku sendiri.


"Pa boleh aku bertanya? aku sedang mencari pintu keluar dari gedung ini. Tadinya aku mau belanja, tapi aku dan anakku tersesat tidak tau jalan keluar dari gedung ini.


Orang itu tidak berkata apa-apa hanya mengangkat tangannya dan menunjuk ke sebuah pintu yang terang yang berada tepat di depan nya.


Hati ku senang sekali karena orang itu mampu menunjukan jalan untukku.


"Terimakasih pa. "


Orang itu tetap diam tak berkata sepatah katapun.


"Ayo Jarel kita kesana? "


Anakku masih gemetar ketakutan.


Dengan tertatih aku mencoba bangkit dan berjalan menuju pintu itu. Sampai didepan pintunya aku melihat dari balik pintu kacanya terlihat sebuah supermarket yang bisa dibilang mewah aku belum pernah melihat nya di dunia ini secara nyata.


Tak lama pintu kaca supermarket ini terbuka sendiri nya. Aku melihat sebuah tulisan yang sangat besar WELCOME.


Anakku tersenyum.


"Yuk a masuk. " aku menggenggam tangan anakku dan melangkahkan kaki ke dalam supermarket yang mewah ini."


Aku terdiam tak bisa berkedip karena disini banyak sekali orang yang sedang berbelanja, anak kecil yang bermain, berlari kesana kemari. Mandi bola dan sebagainya. Belum lagi makanan yang begitu banyak sekali, dari mulai buah, sayur, sembako, baju, furniture semuanya ada. Aku belum pernah melihat super market seperti ini sebelum nya.

__ADS_1


Semua wajah orang yang ada disini terlihat bahagia, ceria penuh tawa. Aku menoleh ke belakang ke pintu masuk dari gedung yang gelap tadi. Ternyata menghilang. tak terlihat gedung dengan reruntuhan yang tadi aku lalui itu.


"Mah, ayo main, aa mau mandi bola. "


Anakku menarik tanganku, dan mengagetkan aku yang termenung karena memikirkan pintu masuk tadi.


"Oh iya. Ayo. "


Tiba-tiba aku terbangun, ternyata itu hanya mimpi.


Jantungku berdebar sangat kencang. Aku mencoba menarik napas. Zara melihat Jam, ternyata jam setengah 3.


Aku ke kamar mandi mengambil air wudhu dan shalat.


Setelah shalat aku bertanya kepada tuhan.


"Ya Allah apakah mimpi itu sebuah pertanda dari mu. Apakah mimpi itu pertanda bahwa ujian ku telah usai. Semoga saja. Sekarang aku harus melangkah menuju masa depan bersama anakku, dan melupakan semua masa lalu, melupakan semuanya. Karena rangkaian ceritanya telah usai, Ditto, mobil, dan Rangga semuanya hanya tinggal cerita dan aku tutup buku lama ku, kini aku membuka chapter baru dalam hidupku.


Semoga masa depanku sama seperti yang aku lihat didalam supermarket itu. Penuh tawa, kebahagian dan keberlimpahan rezeki. Meskipun hidup berdua dengan Jarel.


Pagi nya seperti biasa aku berjalan kaki mengantar Jarel ke sekolah. Sampai jam pulang sekolah, aku kembali ke sekolah untuk menjemputnya.


"Mamah jarel sini."


Ibu guru memanggilku.


"Iya bu. " Aku masuk menghampiri kedua guru Jarel.


"Mah Jarel Maaf ya, Jarel Dahinya berdarah. Tadi pas waktu istirahat tabrakan sama temannya, kena gigi."


"Iya ga apa-apa. Gigi nya nyangkut di aa ga? " Aku bertanya pada anakku.


"Nggak".


"Maaf ya, tadi saya lagi ngurus anak baru yang muntah, pas keluar Jarel dahinya udah berdarah. Tabrakan sama temannya, Lari-lari. " Ucap bu guru padaku.


"Iya ga apa-apa. Jarel memang ga bisa diem kalo sehat, aktif banget anakknya. Kalo diem berarti sakit. "


"Iya, kaya kemarin itu ya yang seminggu sakit. "


"Iya bu. "


"Jarel istirahat aja ya, takutnya nanti pusing kepalanya. "


"Iya bu ga apa-apa. "


"Jarel pamit dulu ya bu. " Aku berpamitan pada bu guru.


Anakku ga mau pake topi. Karena dahinya sakit.


"Mau ke rumah ene dulu? " Aku bertanya pada Jarel.


"Nggak, mau langsung pulang. "

__ADS_1


"Ya udah. "


Sampai dirumah, siang nya Jarel tidur siang. Tumben, mungkin karena kepala pusing kali ya, biasa nya sih ga pernah tidur siang.


Sorenya si om Ke toko, padahal aku gak belanja. Karena uangnya di pake ice cream dan snack dulu dari sales yang ke toko.


Ayah ku memberi tahu aku.


"Zara ada si om. "


"Biarin aja, ga pesen kok, tanggung lagi mandiin Jarel juga akunya. Mau jajan aja mungkin si om nya."


"Oh iya. "


Lumayan lama sih aku lihat si om nongkrong dulu di toko ngobrol bareng ayah aku. Mungkin pulang nganter barang dari grosir tetangga.


Malam berikutnya ketika aku sedang menunggu toko sambil bernyanyi. Tiba-tiba ada si om didepan toko ku.


"Astagfirullah, Om kaget Zara sumpah. Dateng ga bilang- bilang. "Aku melihat si om tiba-tiba berdiri di depan toko.


"He.. he... Asyik banget nyanyi nya. " Ucap si om padaku.


"Ngapain lagi om Zara sekarang. Nyanyi, makan, tidur, nulis novel, nunggu toko. Tau tau keluar gendut aja. ha.. ha... "


"Ha.. ha.. Ga apa-apa ciri-ciri bahagia ya gitu. "


"Iya ya, Tapi Zara ga pesen belanja kan hari ini."


"Iya nggak, cuman mau beli minum aja, sama fotokopi. Kapan belanja? Kemarin sore juga om lama disini Zara nya ga ada."


"Besok paling belanjanya, uangnya kan di pake belanja yang lain dulu. Kemarin sore lagi mandiin Jarel Zara nya om."


"Oh iya."


"Ini mau fotokopi KK."


"Jauh-jauh fotokopi kesini, kan disana juga banyak." ucap Zara sambil tertawa.


"Mahal, kalo disini kan murah, sama dengan air galon isi ulang ditoko Zara yang waktu kemarin om beli. Kalo di deket toko sana kan mahal."


"Dasar si om." Untung aja ga aku kasih apa gitu air galon nya. Biar Rangga sakit perut nanti ketika minum air itu. Ha..ha.. Ga boleh gitu Zara kamu ga boleh Jahat sama orang.


"Ini udah." Aku memberikan hasil fotokopinya pada si om.


"Bagus juga hasilnya." Ucap si om sambil melihat hasil fotokopi KK nya.


"Iya dong, biarpun mesin nya kecil. Yang penting hasilnya bagus."


"Iya."


Apa sih yang ga bisa Zara kerjakan, apapun Zara bisa melakukannya sendiri, apalagi cari uang. Zara jagonya.


Paling hanya menaklukan hati Rangga yang ga bisa Zara lakukan selama ini. Upss. .. keserempet ke situ lagi.

__ADS_1


"


__ADS_2