
Subuh aku terbangun, aku masak nasi goreng untuk ayah ku sarapan. Melihat uang di dompet tinggal 20 ribu lagi karena semalam dipake bayar parkir 11 ribu.
Aku kirim pesan ke a Rangga.
"A Rangga bisa bantu ga? "
Ga ada balasan, Ya sudah lah ga apa-apa belum bangun mungkin.
Aku bangunkan anakku,
"Jarel bangun, ayo ke rumah ua. Mamah mau kerumah sakit lagi. "
Anakku bangun tapi matanya masih merem, karena malem tidurnya juga 00.20 di mobil. Aku gendong dia dan dimasukan ke dalam mobil.
Aku titipkan Jarel dirumah kakakku.
"Bawa uang ga?" kakakku bertanya.
"Bawa 20 ribu. " sambil nyengir dari dalam mobil.
"Teteh juga ga punya, gajian masih seminggu lagi."
"Ya sudah lah, ini juga mau ke toko mas jual anting-anting ibu. Aku berangkat ya, titip jarel. "
"Iya, hati-hati."
Aku berlalu, menuju rumah sakit. untuk memberikan sarapan untuk ayah.
Tiba di lorong ICU aku lihat ayah sedang menunggu di luar, aku berikan nasi goreng dan minum nya.
"Semalem air minum abis, puasa aja."
Karena hanya bawa minum satu termos kecil, Gak di tinggalin uang pula. Karena memang ga ada uang.
"Kasian, maaf ya. nih makan dulu nasi goreng nya."
"Makan belum?" Ayah bertanya padaku.
"Belum, nanti aja. Gimana ibu?"
Pintu ICU nya terbuka ada perawat keluar. Aku langsung coba masuk.
"Gimana ibu sekarang?"
"Lumayan nafasnya udah ga sesek lagi. Aki kemana?"
Ibu nanyain ayah.
"Ada diluar."
Ibu mulai ngoceh, berarti udah mulai membaik keadaan nya.
"Kenapa ga kesini, ngapain diem diluar aja, Patung bukan. Sesekali liat kesini barangkali butuh apa-apa, ga bisa diandalkan."
"Sudah-sudah nanti dibilangin. Pintu nya juga kan gak sering terbuka makanya susah masuk. Kan ada perawat jaga juga. Ga apa-apa."
Aku ke toko mas dulu ya, Jual anting-anting ibu.
"Iya, nanti pulang beli roti yang lembut."
"Ok."
"Aku keluar parkiran bayar parkir 4 ribu."
Aku lihat uang di dompetku menyedihkan sekali.
__ADS_1
Sampai di depan toko mas ternyata belum buka. Aku nunggu, lapar juga perutku belum sarapan. Aku lihat isi dompet ku, sedih. Nanti harus bayar parkir lagi. Ya sudah beli gorengan aja 5 ribu.
Aku duduk di depan toko mas, sambil makan gorengan. Ada telpon dari Kakak sepupu.
"De dimana? Si Ibu gimana sekarang."
"Lagi di Sukabumi a mau jual anting ibu, Alhamdulilah udah bisa ngobrol."
"Oh syukurlah, maaf aa belum bisa ke rumah sakit. Cepet sembuh ya bilangin ke Ibu."
"Iya a makasih do'a nya."
Setengah jam aku menunggu, Akhirnya tokonya buka. Aku masuk dan menerima uangnya 530 ribu. Haduh cukup ga ya buat bayar denda BPJS nya. Mudah-mudahan cukup. Ya Allah bantu aku.
Aku lihat handphone jam 08.08, Aku langsung menuju rumah sakit untuk membayar denda BPJS nya.
Aku menghampiri kasir,
"Bu mau tanya soal rawap inap nya ibu Nani semalem."
"Oh iya, kebagian administrasi rawat inap langsung bu di sebelah. "
"Oh iya makasih."
Aku menghampiri meja administrasi rawat inapnya.
"Pa mau tanya denda BPJS ibu Nani. "
"Iya bu silahkan duduk, tunggu sebentar saya cek dulu. "
"Iya pa. "
Aku menunggu dengan hati bertanya-tanya, berapa ya? cukup ga ya uangnya?
"Biayanya 470 ribu, setelah ini tidak ada biaya perawatan yang harus dibayar lagi, semua sudah ditanggung BPJS. Kecuali kalo ada obat yang harus dibeli yang tidak ditanggung BPJS."
Aku kaget, tapi alhamdulilah masih ada sisa uang 60 ribu.
"Bayar nya bisa disini, bisa di kantor pos dan bank Mandiri. Karena ini bukan untuk rumah sakit, ini untuk pihak BPJS langsung."
"Disini aja ya pa." aku langsung memberikan uangnya.
"Boleh bu." ini kembalian 30 ribu.
"Makasih pa. "
Ya Allah kemana lagi aku harus mencari uang.
"Kalo boleh tau, berapa hari ya pa untuk rawat inap disini. "
"Bukan mau membagus kan rumah sakit ini ya bu, tapi disini tidak dibatasi hari nya bu, sampai kondisi pasien benar-benar sembuh baru bisa diijinkan pulang. "
"Iya pa. "
Haduh, aku harus mencari uang kemana untuk bekal makan ayah selama menunggu ibu. Toko buka pun mau jual apa. Melihat barang nya pun membuat ku ingin menangis.
Aku kembali ke ruang ICU ibu, memberikan roti pesanan ibu, Ibu bertanya.
"Gimana udah beres denda nya? "
"Udah. "
"berapa? "
"He.. he.. 470 ribu. " sambil tertawa.
__ADS_1
"Terus sekarang uangnya berapa lagi. "
"40 ribu. " sambil tertawa juga aku.
"Mau cari kemana lagi sekarang uangnya?"
"Ga tau." aku nyengir menggaruk kepala, pusing juga ya.
"Coba tanya kakak mu, bilang pinjam gelang chira. Buat pegangan bekal makan juga."
"Hah,, terus nanti balik lagi ke Sukabumi, ke toko mas lagi. "
"Iya."
Ok lah kalo begitu, siap. Hari ini aku mau pindah profesi seperti sopir angkutan umum, bolak balik mencari rupiah.
"Aku pulang dulu bu, kalo ada apa-apa panggil suster aja. "
"Iya. "
Aku keluar menuju parkiran lantai dua, tikungan parkiran nya serem juga seperti terjun bebas. Banyak mobil yang udah jadi korban juga lecet ke gores kena tembok. Aku harus selalu hati-hati.
Tiba-tiba aku berhenti di depan toko mu A Rangga. Apa aku harus turun ya, Minta bantuan kamu. Coba dulu deh, dapet atau nggak nya urusan belakangan.
Aku turun dari mobil, menghampiri A Yuda.
"A Rangga kerja ga?"
"Ada teh digudang. "
"Ok."
Aku langsung masuk.
Kamu lihat aku dan menyapa dengan pelan.
"Hay."
Wah firasat buruk mendengar nada bicara dan wajahnya seperti itu, A Rangga sedang tidak baik-baik aja. Tidak seperti kemarin.
"A Rangga sini. "
"Apa?" kamu tidak melihat wajah ku hanya menunduk memperhatikan bon yang sedang kamu pegang.
"Minta bantuan boleh."
"Kenapa?"
hati ku bicara, hey aku disini. Lihatlah sebentar saja jangan seperti itu.
"Pinjam uang punya ga? "
"Aku ga pernah pegang uang, setiap gajian juga langsung dikasih ke mamah. "
Firasat ku benar, kamu tidak baik-baik saja a Rangga. Aku perhatikan setiap gerak mu, kenapa kamu tidak berani bicara itu dengan menatap ku. Kamu hanya menunduk melihat bon dan barang-barang. Kamu tidak mau melihat ku yang sedang bicara kepadamu.
Aku mengikuti mu dibelakang.
"Ya udah ga apa-apa, aku cari lagi ke yang lain. Aku pulang ya, semangat. "
Aku menepuk-nepuk pundak nya dan berusaha memberinya semangat. Aku pun berlalu keluar menuju mobil ku.
Mungkin memang benar pikiran ku selama ini, A Rangga hanya kerja-kerja dan kerja tanpa menikmati hasilnya untuk membahagiakan diri sendiri.
Tanggung jawabnya untuk menghidupi keluarga memang besar, aku tau itu. Karena posisi ku juga sama seperti itu. Semua keluarga mengandalkan aku, seperti sekarang. Terkadang aku merasa hidup ku berat, tapi disisi lain aku juga bahagia jika melihat orang-orang yang ada disekeliling ku bahagia.
__ADS_1
Hanya saja sekarang aku mengerti, ada saat nya aku harus bisa membahagiakan diriku sendiri disamping aku memikirkan kebahagian keluargaku. Bukan egois, tapi sebagai penghargaan kepada diri sendiri kalo selama ini diri kita lah yang sudah membantu kita tetap kuat, cintai diri sendiri karena diri kita bukan robot.