
"Ibu, ayah. Kami pulang ya," ucapku.
"Jumat besok acaranya ya, semua sudah diurus sama papi, Ine aja tinggal diam. Kamis Ine dan Aa masih kerja, jadi pulang kerja langsung ke sana. Nanti Alka ikut kesana juga." ucapku lagi.
"Iya bawel. Jadi ayah dan ibu duduk manis, gitu" jawab ayah.
"Ya.. ikuti prosesi aja. Acaranya setelah sholat Jumat, tapi jangan pas acara sampe ya yah" ucapku sambil memeluk lengan ayah.
"Udah mau punya anak dua, masih begini aja. Malu sama Yopi kenapa?" ayah sambil meledek kelakuanku.
Aa tersenyum
"Yopi lebih senang dan bahagia kalau Ine seperti itu. Bukan Ine yang mandiri" ucapnya dalam hati dan kembali tersenyum.
Setelah kami berpamitan, kami pulang. Aa menggendong Alka, menuju mobil.
"Oke.. kita jalan.. Bos Alka mau kemana dulu?" tanyanya.
"Paaa.. play land ya pa.. Alka mau main" ucap bocah kecil itu.
"Oke.. tapi yang deket rumah aja ya." ajaknya.
Alka mengangguk.
Alka bercerita, kalau di sana suka main dengan tetangga. Nenek Ida suka datang dan memberikan coklat untuknya.
"Tapi, habis makan coklat, sikat gigi kan nak?" tanyanya.
"Ya pa.. kan papa yang bilang"
"Pintar, tahun depan, Alka udah mau sekolah, jadi harus pintar. oke"
"Oke papa" jawabnya, Alka sudah mempunyai banyak perbendaharaan kata, Aa sering mengajaknya bicara, dan mengajarkan banyak hal untuknya.
__ADS_1
"Alka, besarnya mau jadi apa?" tanyaku.
"Dokter, seperti papa. Bisa urus mama kalau sakit" ucapan itu membuat aku kaget. Dan melihat ke arah Aa. Aa tersenyum. Ya, anak itu dari kecil, Aa yang urus, jadi yang Alka tahu, papa dokternya adalah yang terbaik.
Entah kapan aku akan menceritakan siapa papa kandungnya.
"Sampeeee... Abang mau main dulu apa makan dulu, nak?" tanyanya.
"Main" jawabnya spontan.
"Tapi sebentar aja ya nak. Sudah malam. Besok mama dan papa harus kerja, Oke" jelasku
"Oke mama cantik" rayunya. Dan itu adalah bahasa Aa. Ya anak kecil mendengar dan mengikuti semua pembicaraan orang lain. Aa tersenyum lagi.
"Sayang, beliin gorengan itu dong. Ine laper. Tapi nanti baru makan nasi," ucapku.
"siap bidadariku, tunggu ya"
Aa langsung menuju counter tahu dan tempe krispi.
Perutku lapar sekali. Aku menahan mual.
Aa melihatku dan berlari kearahku.
"Minum dulu ya, abis itu makan ini" ucapnya.
Aku tersenyum.
Sekitar 30 menit, Alka bermain, Aa memanggilnya.
"Bang, udah yok nak. Kita makan terus pulang, mama gak sehat" ucapnya. Alka pun menurut semua omongan papa dokternya.
Setelah makan, kami pulang ke rumah.
__ADS_1
Perjalanan panjang, membuat badanku sakit. Setelah semua dirapikan, Aa memborehkan minyak kayu putih ke seluruh badanku.
"Capek ya sayang." sambil memijat telapak kakiku.
Aku mengangguk.
"Besok kuat kerjanya?" tanyanya.
Aku mengangguk lagi. Badanku yang terasa berat, membuat aku malas untuk berbicara.
"Ya sudah, tidurlah. Gak usah mikirin yang aneh-aneh." Aa menumpuk bantalku agak tinggi, karena perutku yang mulai membesar, dan kadang bingung mau posisi apa.
Aa mengambil bukunya, dan membaca buku itu. Aku mengintip ketika mataku hampir menutup.
Aku tersadar, ada benda berat di badanku.
Ketika aku terbangun, ternyata, Aa memeluk dan menggenggam tanganku. Posisiku sekarang ternyata membelakanginya.
Aku berusaha membalikkan badanku, dan hendak melepaskan pelan-pelan pelukannya,
"Mau kemana, sayang" suara berat itu berasal darinya.
Aku membalikkan tubuh menghadapnya.
Dia masih memejamkan matanya. Tapi genggamannya tidak dilepaskannya. Jam di dinding menunjuk pada angka 4. Masih jam 4 subuh.
Kulihat dia dalam-dalam. Dan dia memelukku lagi.
"Bobo lagi ya." ucapnya masih dengan suara berat.
Aku memeluknya.
"mungil bener" ucapnya, dan aku pun tidur dengan senyuman bahagia.
__ADS_1
#Terima kasih yang masih setia dengan novelku.. Kalian ter the best 😍