
"Sayang"
Aa berteriak dari luar kamar dan berlari ke arahku.
"Maaf,"
"Ine kenapa? Apa yang luka?"
Pertanyaannya bertubi-tubi sambil memeriksa keadaanku.
"Ine mau meraih gelas, tapi terjatuh"
Aa memelukku erat.
"Ya sudah, yang penting Ine baik-baik saja. Sebentar Aa ambilkan minum," Aa menekan tombol panggil perawat dan meminta mereka membersihkan pecahan gelas
"Minum pelan-pelan, sayang"
Aku meraih tangannya, dan memintanya untuk tetap di tempat tidur. Aku takut sendiri. Entah perasaan itu timbul dari mana.
Menjelang maghrib, pak Min dan bu Min datang membawa perlengkapan Aa dan membawa pulang pakaian kotor Aa.
Bu Min menatapku sedih.
"Cepat sembuh, nak. Ibu kangen. Di rumah sepi tidak ada nak Ineke, tuan Yopi, dan den Alka."
__ADS_1
Aku tersenyum.
"Aamiin.. Ine juga sudah ngeluh, bu. Bosan katanya bu.. Doakan terus biar Ine sehat lagi ya bu" Ucap Aa yang ada di sampingku.
Aku memegang tangan wanita yang setia menemaniku setelah keluar dari rumah orang tuaku. Mereka sudah ku anggap orang tuaku sendiri.
Pak Min menyenggol tangan bu Min.
"Sudah, bu. kasian nak Ineke. Ayo, kita pulang. Semangat terus buat sehat ya nak" ucap pak Min seraya mengajak bu Min untuk pulang.
#beberapa hari kemudian.
"Dok.. kapan saya boleh pulang?" hanya pertanyaan itu yang terbesit di pikiranku ketika berjumpa dokter Febri.
"Sebenarnya tidak boleh, kalau di sini kan juga, dokter Yopi ada terus. Kalau ada apa-apa, dokter Yopi langsung bisa menangani, kan?" ucapnya sambil tersenyum.
"Bagaimana hasil kemarin, sus." tanya dokter Febri kepada perawat yang ikut menemaninya.
"Tapi janji ya bu Ineke. Obatnya tidak boleh lupa diminum. Asupan gizi harus diperhatikan. Kalau tidak, dokter Yopi yang kami kasih SP"
Aa membelalakkan matanya.
"Janji dok.. " ucapku lagi.
Lagian, siapa yang mau, Aa dapat SP. Aku pasti akan jaga kesehatan.
__ADS_1
Akhirnya aku diperbolehkan pulang.
Sebelumnya, para dokter yang menanganiku, rapat mengenai hasil pemeriksaan kesehatanku. Dan hasilnya sudah lebih baik. Leukimia yang aku derita, belum terlalu parah. Dan sebisa team untuk memberikan yang terbaik untukku.
Urusanku dengan kantor, sudah aku selesaikan. Walau aku tidak bisa menemui Igun secara langsung, tapi aku sudah meminta maaf atas kejadian ini. Bersyukur, perusahaan mengerti akan kondisiku.
Usia kandunganku memasuki bulan ke 8.
Dan sudah 4 bulan, aku menjalani pengobatan. Aku sudah mengetahui penyakit yang aku derita. Walau awalnya, aku shock mengetahui kondisiku. Aku berusaha tegar dan sehat. Ada Alka, calon bayiku, dan Aa yang harus aku temani di sisa umurku.
Aa sudah menjalani tugas double nya. Pagi di rumah sakit, dan sore di klinik. Pekerjaan yang menyita waktu itu, membuat kami harus mandiri. Untung ada pak Min dan bu Min yang selalu ada. Makanya, di saat akhir pekan, kami menikmati hari keluarga itu.
Menurut perkiraan dokter Yusuf, anak yang akan aku lahirkan, sekitar 5 hari lagi. Dan semakin dekat dengan hari kelahiran. Aa semakin over protektif.
"Sayang, ini susu diminum nanti ya." setiap pagi, Aa membuatkan aku susu hangat dan sarapan. Dia ingin memberikan yang terbaik untukku dan anak kami.
"Nanti pulang kerja, bawain Ine batagor di depan klinik, ya sayang" ucapku mengantarkan dja ke pintu pagar rumah.
"Okeee... sekalian buat sangu ya sayang, kan dedek mesti sering di tengokin,"
aku menutup mulutnya.
"malu di denger pak Min, ih.. Aa mah gitu"
Aa tertawa renyah. Kemudian dia mengusel2 kepalaku.
__ADS_1
"Aa berangkat ya sayang. Istirahat, jangan pecicilan. Love you dear" kemudian dia mengecup keningku, dan mobilnya berlalu menjauhi kami.