
"Sayang, bangun.. Udah subuh. Kita mesti pulang loh. Kan mau ambil baju buat kerja."ucapku.
"Iya.. ntar lagi,"
"Sayyaaang.. ayo bangun"
"Ya. tapi cium dulu" ucapnya.
Aku mengecup bibirnya dan segera berwudhu, dan dilanjutkan dengan sholat. Seusai solat, aku menuju dapur, untuk menyiapkan sarapan untuk papi dan yang lainnya.
"Selamat pagi tante Ine.. wah.. sarapannya sudah jadi. Terima kasih tante" Andrea memelukku.
"Tante ini, mungil banget, masa Andrea sekarang lebih tinggi dari tante" lanjutnya.
"Gapapa, kan enak meluknya, nih kayak gini" jawab Aa.
Aku mencubit perutnya ketika dia memelukku.
"aw, sakit sayang, KDRT nih tante kalian" dan dia pun tertawa.
Setelah sarapan, kami pamit pulang.
"Mama" teriak Alka ketika kami sampai dan memelukku.
"Bu Min, tolong siapkn Alka ya, mau saya bawa ke rumah sakit. Kemarin saya mual dan muntah, karena sakit di Bali kemarin belum sempet periksa lagi." ucapku kepada bu Min.
Alka senang sekali, mendengar kalau kami akan membawanya.
Aku menyiapkan keperluan Aa, tas kerjanya sudah, bajunya sudah, tapi orangnya kemana ini?
"Aa.. dimana.. buruan.. nanti kesiangan loh"
__ADS_1
Ternyata, dia ada di kamar Alka. Memakaikan baju Alka. Aku terharu sebenarnya. Tapi waktu berjalan terus.
"Loh. masih di sini, bajunya udah Ine siapkan. Ayo, buruan. Udah jam berapa ini."
"Iya mama.. Papa lagi siapin Alka. Mama bawel ya, bang" ucapnya.
"Abang?" tanyaku.
"Kan nanti abang mau punya adek" jawab Alka kecilku. Ya, Alka sudah berumur 4 tahun, dan dia ingin sekali punya adik. Dia selalu bercerita kalau melihat video kakak yang bermain dengan adiknya kepada papa dokternya.
Aku tersenyum dan mendekatinya.
"Alka mau punya adik?" tanyaku
Dia mengangguk,
"Adeknya di sini" sambil menunjuk perutku.
"Ya.. nanti adeknya abang ada di perut mama" ucap Aa mengelus perutku.
Aku takut mengecewakan mereka. Terlebih Aa.
"Ya udah, Papa salin baju dulu ya bang" ucapnya pada Alka.
Aku mengikuti langkahnya menuju kamar kami.
"Aa"
"Ya, sayang"
"Maaf ya, kita sudah menikah hampir 7 bulan, tapi belum ada tanda-tanda kalau Ine hamil" ucapku memelas.
__ADS_1
"No.. gak usah dipikirkan. Anak adalah bonus dari pernikahan kita, yang penting, kita bersama, bahagia" ucapnya.
Tapi aku tahu, ada sisi sedih di matanya.
"Aa sudah siap, yok berangkat. Bawakan jas Aa ya sayang" ucapnya.
Dan kami pun menuju rumah sakit.
Di sepanjang jalan, aku memikirkan Alka dan Aa.
"Sayang, kenapa? Kok diem aja"
Pertanyaannya mengagetkan lamunanku.
Aku menggeleng, dan tersenyum.
Setelah sampai di rumah sakit, kami menunggu di ruang tunggu. Aa harus absen dulu. Dan mengambil nomor antrian. Walau pun keluarga dokter, tapi kami harus tertib.
"Hari ini jadwal Aa hanya mengunjungi pasien di ruang perawatan, jadi agak santai lah nunggu."
Setelah lumayan lama, akhirnya namaku dipanggil. Kami ke dokter umum,
"Wah, ini suaminya dokter, malah ke saya." Ucapnya.
"Saya kan harus jalan dulu ke sini, kalo recomen ke dokter penyakit dalam, baru ke saya" jawab Aa sambil tertawa.
"Gimana ceritanya?"
"Saat kemarin liburan di Bali, istri saya demam tinggi, dan saya larikan ke rumah sakit setempat. Menurut dokter di sana, istri saya harus istirahat total. Tapi kan tidak mungkin. Kemarin setelah pulang kerja, istri saya muntah-muntah" jelas Aa.
"Baiklah, coba nanti saya kasih rujukan untuk medical check. Nanti dokter Yopi bisa langsung membacanya" ucap dokter itu.
__ADS_1