
tok. tok. tok
Pintu ruangan di ketuk 3 kali.
Aa langsung menuju pintu, dan membukanya.
Setelah mengambil pesananku, Aa kembali ke sampingku.
"Mau makan yang mana dulu, baginda ratu?"ucapnya sambil menghidangkan semua pesananku.
Aku menyantap semua, tak lupa aku menyuapi suami yang setia ada di sampingku.
Tak lama, dia menutup mulutnya, aku tau dia sangat mengantuk.
"Aa.. tidurlah."
"Nanti sayang, Ine habiskan dulu saja makannya" ujarnya.
"Bantuin ya." kemudian aku menyuapinya.
"Soesnya dimakan juga sayang." ku pandang dia, matanya memerah. Apakah dia tidak tidur saat aku masih belum sadar di ruang ICU itu?
"Buat nanti saja, Ine mau istirahat dulu saja, tolong letakkan di meja itu saja ya sayang"
Aa melakukan apa yang aku minta.
"Tidurlah" kemudian dia menyelimutiku.
__ADS_1
"Aa tidur dimana?" tanyaku.
"Aa duduk di samping Ine. Istirahatlah sayang. Aa gak mau jauh-jauh dari Ine" lanjutnya.
Aku menggeserkan badanku, bermaksud membagi tempat tidur untuknya.
"Sini" ajakku sambil menepuk bantal.
"Sebentar" kemudian dia mengambil ponselnya.
"Sus, saya mau istirahat dulu. Ok" kemudian dia mematikan ponselnya.
Badannya yang kekar membuat tempat tidur itu sangat sempit. Kami tertawa, bagaimana mengatur tidur di tempat itu.
Akhirnya, dia merentangkan tangannya, dan aku memeluknya.
"Jangan bikin Aa takut lagi ya, dek.. Aa sangat takut" ucapnya pelan.
Aku tau, kejadian kemarin, membuat dia jadi stress. Aku tersenyum.
"Tadi kan ceritanya belum selesai.. " ucapku sambil menutup mata.
"Dan.. sekarang, kita tidur dulu ya sayang. Aa ngantuk sekali" ucapnya. dan tak lama, dia sudah terlelap.
Ku pandang wajahnya dari dekat. Damainya, dia tidur dengan tersenyum. Wajahnya yang oval, dan alis mata yang tebal. Ku sibakkan rambutnya yang jatuh di keningnya.
"Tidurlah, sayang" ucapnya sambil memelukku.
__ADS_1
"Aw.. " teriakku.
Dia terbangun.
"Kenapa sayang?" spontan dia berkata.
"Perutnya kejepit, kasian dedeknya" ucapku
"Maaf ya, maafin papa ya nak" kemudian dia mengelus, dan mengecup perutku, lalu kembali tidur dan memelukku pelan.
Aku pun tidur di sampingnya.
Entah, karena aku sudah puas tidur, atau ada perasaan tidak enak, aku membuka mataku, ku lihat, Aa tidak ada di sebelahku. Kemana dia? Jam berapa ini? Ku cari dimana jam dinding rumah sakit itu. Mataku berkeliling mencari, dan aku menemukan, Aa sedang bersimpuh menangis di atas sajadahnya.
"Sembuhkan ia ya Allah.." kalimat itu yang hanya bisa aku dengar sayup-sayup. Aku membalikkan tubuhku dan memandangnya.
Laki-laki, yang dengan sabar menjagaku. Melindungiku, mengajarkan tentang kehidupan. Aku ingat, dulu dia sering mengajakku bermain basket. Hanya kami berdua, dia mengajarkan cara mendrible bola yang benar, cara memasukkan bola ke dalam ring. Dia orang yang sering bernyanyi sepanjang jalan bersamaku, walau akibat perhatian itu, aku terkadang suka menjadi risih, sehingga buat aku marah yang aku sendiri tidak tau penyebabnya. Tapi dia tetap sabar.
"Angkat semua penyakitnya," kalimat itu terdengar sangat menyakitkan, ucapannya begitu pelan. Dan dia kembali menangis.
Aku memang memiliki riwayat anemia. Hanya anemia, kenapa dia jadi seperti itu? Paling karena kemarin saja. Aku baik-baik saja. Ketakutan dia saja yang berlebihan. Itulah yang ada di pikiranku.
Akhirnya, ia selesai memanjatkan doanya di sepertiga malam itu. Sekarang sudah pukul 03.30 subuh. Ketika hendak melipat sajadahnya, dia melihat ke arahku.
"sayang.. "
#terima kasih para pembaca setia karya novelku yang berjudul "Soulmate", jangan lupa tinggalkan like nya ya.. Kalau ada saran, boleh deh.. siapa tau bisa membuat cerita ini lebih menarik. 😊
__ADS_1