SOULMATE

SOULMATE
56


__ADS_3

Aku kembali mengirimkan pesan ke A Rangga, Aku ingin tau apakah aku akan dikenal kan ke ibunya atau nggak, soalnya dia pernah bilang, nanti kalo udah waktunya.


"Aku mau ketemu mamah A Rangga, mau bilang terimakasih. "


Ga ada balasan.


"Diem aja. Besok toko masih tutup kan?"


Masih ga ada balasan juga.


"Ga bales, sibuk ya? "


"Abis maen game, iya besok toko masih tutup. "


"Selalu maen game. "


"Kenapa emang? "


"Ga apa-apa. "


"Udah belum baca novel nya? rame ga? "


"Udah. " dengan tiga jempol.


Aku bales dengan emoticon nyengir, tak ada kata lain yang kamu berikan selain jempol.


"Mau ketemu sama mamah A Rangga? "


"Mau apa? "


"Mau ngasih rantang. "


"Dasar. "


"Mau salaman aja, udah salaman pulang. Silaturahmi dari temen A Rangga, Udah gitu aja. Boleh ya?


Kamu ga balas pesan aku lagi.

__ADS_1


Pertama kalinya dalam sejarah, aku melihat kamu update status foto mu sendiri.


Aku komentar dengan emoticon ketawa.


"Hayo boleh apa nggak ketemu mamah A Rangga? Jangan kaya sebelumnya alasannya malu rumah nya jelek, nanti kalo ada waktu. Yang tegas ya, aku udah biasa ko sama sikap kamu. Ga akan nangis lagi, udah kuat mental karena sering latihan. "


Kamu ga bales pesan aku.


Aku kirimin perkembangan novel ku yang semakin hari semakin banyak yang suka, alhamdulilah.


"Naik terus tuh lihat. Seru ya iseng-iseng keterusan. "


Kamu ga bales juga.


"A Rangga, Sibuk ya? "


Masih belum bales juga.


Aku kirimin whats app dari guru tk nya jarel ke A Rangga.


"Guru TK nya Jarel juga baca, Maaf ya A Rangga jadi terkenal. "


Ya Allah, ini orang sangat menguji kesabaran ku. Aku berfikir mungkin ini saat yang tepat untuk aku meminta kejelasan dengan hubungan ini, Aku ingat kata-kata A Agung perjuangkanlah, mungkin ini waktu yang tepat untuk aku perjuangkan untuk yang terakhir kalinya sebelum aku mundur dan berhenti untuk memperjuangkan mu. Dan pergi dari kehidupanmu untuk selamanya. Meskipun ini sulit tapi aku harus tegas, daripada selalu mengharapkan yang tak pasti.


"A Rangga, Bisa ga A Rangga cerita jujur sama aku. "


"Maksudnya? "


"Tentang perasaan A Rangga sama aku, suka kah? benci kah? bilang aja ga apa-apa, jujur. "


"Biasa aja kok, tanpa keduanya. "


Ya Allah, hatiku terasa tertancap mata pisau yang sangat tajam, nyesek dan sakit sekali.


"Yakin? Bener-bener dari hati kaya gitu?


Jangan sampe terhalang gengsi dan ego ya. Bicara apa adanya. Tenang aja A Rangga, aku ga akan menuntut A Rangga menikah sama aku, kalo A Rangga nya ga mau. Yang paling penting adalah aku pernah tau perasaan A Rangga sama aku tuh kaya gimana. Karena sampe saat ini perasaan Aku sama kamu ga pernah berubah. Sayang banget malah. Seburuk apapun kelakuan A Rangga sama aku, Aku terima. Kalo kita mau sama-sama jadi orang yang lebih baik ke depannya, Kalo tujuan kita kedepannya sama, aku Mau berjuang kok. Tapi kalo tujuan kita berbeda ya mungkin aku harus pergi. Meskipun rasa sayang ku sama A Rangga akan selalu ada. Karena selama ini aku sudah belajar dari tujuan pernikahan yang pernah A Rangga katakan sama aku.

__ADS_1


Bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan hati, tapi juga menyatukan jiwa, ego, pribadi, dan pemikiran yang berbeda demi tujuan yang sama.


Semuanya butuh proses, tidak semudah mengedipkan sebelah mata.


Selama ini aku sudah mengikuti prosesnya, tinggal serahkan semua hasilnya kepada Allah. Semoga bisa jadi bahan pertimbangan A Rangga ya.


"Ga ada yang terhalang apapun, toh udah bilang, benci nggak, Suka pun sekedar teman aja ga lebih. Buat apa ada yang disembunyikan. "


Ya Allah, ternyata selama ini aku salah mengerti.


"Oh gitu, bener ya? Karena di hati A Rangga udah ada orang lain. Berarti ga usah di tunggu sampe aku selesai masa iddah ya? "


Aku kirimkan screenshoot pesan yang dulu kamu pernah bilang mau ketemu ibumu kalo ada waktunya. "Berarti ini hanya alasan aja ya? "


"Ketemu mamah ya? Pertanyaan nya cuman satu. Mau apa? "


"Mau tau orang nya, terus mau bilang terimakasih. Kalo A Rangga tuh udah bantu aku jadi diri aku hari ini, ga lebih. Silaturahmi aja. "


"Oh gitu, ya silahkan. Tapi aku ga bisa ikut nemenin kamu. "


"Iya, karena meskipun kita ga berjodoh seperti yang pernah kamu bilang kita masih bisa menjadi teman baik. "


"Soalnya menurut pribadi diri, Wanita yang dikenalkan kepada orang tua, dia yang menjadi teman masa depan. Banyak kok temen perempuan aku juga yang kerumah tanpa di dampingi aku. Bahasa lainnya Tinggal dateng aja kerumah."


"Ya udah share loc aja. "


"Malahan kadang aku ga tau ada temen yang main ke rumah. "


"Ya udah, silahkan aja itu mungkin untuk calon istri A Ranga. Aku kan bukan calon istri A Rangga. "


"Iya pasti, Siapapun dia yang akan jadi teman hidup pasti dong dikenalin, maksudnya dikenalin secara khusus. Bukan sebagai teman biasa. "


"Masalahnya kan aku ga tau alamat rumah a Rangga dimana. share loc ga? "


"Iya nanti, karena untuk Hari ini sampe hari minggu mamah nya ga ada dirumah."


"Oh ya udah nanti aja. "

__ADS_1


Entah nanti nya itu kapan, selalu tak pasti.


__ADS_2