SOULMATE

SOULMATE
Kepala yang berat


__ADS_3

"Bentar ya mbak, Ne.. mau pesan apa lu?" tanya Igun.


Aku tidak menyadari pelayan itu sudah ada di meja kami.


"Oh.. saya pesen pepes ayam aja, sama jus mangga." sambil melempar senyum ke pelayan cantik itu.


"Apa yang lu pikirin sih, Ne?"tanya Igun lagi.


"Oh, gak.. gue kangen laku gue aja"jawabku asal. Aku tidak mau membebani fikiran Igun lagi. Hal keinginan resign aku saja, sudah membuat dia bingung.


"Hm.. sama aja sama Aa. Kalo gak ketemu lu, bilangnya kangen lu. Tapi, menurut lu, gimana penilaian lu terhadap pelamar tadi. Kalau pengalaman, sepertinya yang terakhir tadi sudah banyak pengalaman ya. Walau dia telat, gimana menurut lu"


uhuk. uhuk. uhuk.


Tiba-tiba aku merasa tersedak, apalagi mendengar kalimat terakhir Igun.


"Minum, Ne.. " ucap igun menyodorkan segelas air putih.


huft.


kenapa tiba-tiba sesak begitu.


"Namanya Mikhayla. Kalau lihat dari biodatanya, dia tidak menyebutkan status pernikahannya." lanjut Igun.


"Dia janda beranak 1" ucapku spontan.


"Kok lu tau, Ne?" tanya Igun.


"Permisi pak, bu" 2 orang pelayan kemudian menyiapkan makanan yang kami pesan.


"Silahkan" ucapnya mempersilahkan kami untuk menyantap makan.


Kami pun menyantap makan kami. Aku benar-benar merindukan pelukan Aa. Aku ingin menceritakan semua kejadian hari ini dan hari dimana aku ada di rumah sakit.


Aku membuka ponselku,


"Sayang, Ine kangen" aku mencoba membuka pembicaraan.

__ADS_1


Makan siang itu terasa hampa.


Rupanya Igun memperhatikan kelakuanku.


"Ne.. lu kenapa sih, cerita ke gue. Lu gak boleh stress gitu."


"Gak kok.. dibilang gue kangen laki gue."


"Ya sudah, abis makan, gue anter ke laki lu ya."


" Gak usah, gue mesti ngerjain sisa berkas tadi."


"Makan lu gak abis. Kalo gitu abisin jus lu. Bumil makan dikit amat. Gak kasian sama calon baby itu" Ucap Igun dengan nada datar.


"Ya bos" ucapku lagi sambil minum jus itu.


ponselku berbunyi.


DY : " Assalamu'alaikum, sayang"


M : "Wa'alaikumussalam, sayang."


M : " Lagi makan sama Igun"


DY : " Baru makan? Makan dimana? Mana Igun"


M : "ntar ya"


"Gun.. laki gue" kemudian aku menyerahkan ponselku.


Igun yang sudah selesai, kemudian menjauh dariku dengan membawa ponselku.


Aku meneruskan makanku, tapi tidak mau makan nasi. Hanya ayamnya saja.


"Nih.. Udah selesai belom?" tanyanya


"Udah. gue ke kamar mandi dulu ya" ucapku, dan segera menuju kamar mandi.

__ADS_1


Ternyata, Igun menunggu di pintu kamar mandi.


"Kok lu di sini?" tanyaku


"Gue takut lu kenapa-kenapa. Laki lu bilang, nitip lu sama gue. Dia khawatir sama lu" ucapnya.


Aku tersenyum lebar


Sampai di kantor, Igun mengajakku berdiskusi.


"Gue pilih ini, deh. Gue butuh orang yang sangat mengerti di bidang yang sama seperti lu." ucap Igun.


"Gue periksa nanti ya, kepala gue gak enak nih. Berat banget." ucapku sambil memijat kepalaku. Beban di kepalaku berat sekali.


"Oh.. ya udah.. besok aja gapapa, lagian udh abis jam kerja juga. Pulang dan istirahat lah sana" kemudian aku keluar dari ruangan Igun.


Setelah ku rapi kan mejaku, aku menuju pintu keluar kantor. Di depan meja resepsionis, aku seperti melihat sosok yang sangat aku kenal,


Dia melambaikan tangannya.


Aku tersenyum bahagia.


"Sudah lama?" tanyaku


"Gak juga, kita pulang ya"


kemudian dia menggandeng tanganku.


"Kepala Ine sakit, A"


ucapku.


"Mau Aa gendong ke mobil?" tanyanya.


"Ine lemes, A"


Kemudian dia dengan sigap, menggendongku tanpa memberi aba-aba.

__ADS_1


Tapi untung dia menggendongku, kalau tidak, aku bakal jatuh, kakiku sangat loyo.


__ADS_2