
Jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dan Aa belum lagi menunjukkan batang hidungnya. Biasanya, jam segini, dia sudah tiba di rumah.
Aku mau memamerkan peralatan bayi yang aku beli tadi bersama pak Min dan Alka.
Antusias menyambut baby di rumah begitu besar. Tapi, saat di pasar, dokter Yopi, menelpon berkali-kali untuk mengingatkan jangan sampai aku kelelahan.
Bunyi klakson mobilnya sudah terdengar. Biasanya pak Min yang membukakan pintu pagar untuknya.
Aku segera turun ke lantai bawah untuk menyambutnya.
"Kok belum tidur, sayang? Sudah jam segini?" tanyanya
"Aa dari mana? Kok jam segini baru pulang?"
Dia memelukku dan mencium perutku.
"Kok bau rokok? Aa????"
Rasa penasaranku menjadi ketika raut mukanya berubah.
"Eng.. enggak kok" Tapi aku tau, dia bukan perokok. Tapi baunya menyengat.
Dia mengambil piring dan sendok.
"Ayo, naik" ucapnya
__ADS_1
"Mau makan dulu gak?" tanyaku
"Udah kenyang, sayang." kemudian dia merangkulku menaiki tangga.
Di kamar aku memberikan pertanyaan bertubi-tubi.
"Gak bohong, kan.. Kalo ketauan bohong. Ine pergi loh, jauh.. biar Aa gak nemuin Ine lagi"
"Sayaaang... apa-apaan sih. Iya, tadi Aa dibpanggil dokter Febri, Aa ditawari sebatang rokok. Awalnya Aa menolak. Tapi, dokter Febri bilang gapapa kalau sebatang. Baru sehisab, Aa sudah batuk-batuk. Gak bohong kok. Jangan tinggalin Aa ya" dia berlutut, karena dia tau kalau aku sangat membenci melihat orang yang aku sayang kecanduan rokok.
"Sana.. jauh-jauh. Gak suka baunya"
Kemudian dia mengikuti omonganku, dia membersihkan tubuhnya, tapi dia tidak mandi. Dia memikirkan omongan dokter Febri. Ketika melahirkan, akan banyak darah yang keluar, dikhawatirkan, aku kekurangan darah dan mengakibatkan harus transfusi darah. Walau untuk sementara, keadaanku masih ditunjang oleh obat-obatan.
"Nanti, Aa masih mau cerita sama Ine. Lagian masih keringet juga. Trus nanti juga keringetan lagi." ucapnya
Dia menghampiriku yang sedang menyantap batagor pesananku, yang bumbu kacangnya selalu di pisah dari pangsitnya.
"Enak?"
"hm" aku mengangguk. Dia memperhatikanku lebih dalam. Aku menghentikan makanku. Dan mengambil air minum.
"Mau cerita apa?"
"Sayang, vitamin dan obat, masih terus diminum kan? Besok Ine makan bayam merah dan buah bit nya ya."
__ADS_1
"Masih lah.. Kan ada Aa yang ingetin waktu makan obat" ucapku sambil memeluk dan mencium pipinya. "Terima kasih pak dokterku" ucapku di telinganya.
"Tapi, buah bit? Bayam merah? Kan gak enak A. Gak mau ah.. Bayam merah, warnanya setelah di masak jadi merah. Gak ah. Seperti minum darah" ucapku manja.
"Kalau Aa minta, demi Aa, mau?"
Ada apa dia. Aneh. Tapi mukanya melas.
Aku tidak sanggup mengatakan tidak padanya. Tapi aku juga gak suka bayam merah atau buah bit. Dulu ibu pernah membeli buah bit untukku. Rasanya aku gak suka. Tapi... Kali ini...
"Ya sudah. Tapi sekali aja ya." sebenernya aku malas, tapi..
"Jangan sekali sayang. Kan biar Ine sehat. Ine kan harus mendampingi Aa terus. Kalau Ine sakit, gimana hidup Aa?" ucapnya sedih.
"Ya ya ya. Ine nurut. Besok kita cari ke supermarket aja" aku mengiyakan dengan hati berat.
Aa tersenyum lepas, dengan lengung pipinya yang menarik ke dalam.
"Ayo dihabiskan, enak kan" ucapnya sambil hendak menyuapiku.
Ketika aku mendekat, dia menciumku.
Aku memukul dadanya.
"Ouch.. " teriaknya.
__ADS_1