
"Jarel ayo bangun."
"Mmmmmm"
Anakku ga mau melek.
"Bangun yuk, jalan-jalan."
Mendengar jalan-jalan langsung bangun dia, memang Jarel anaknya jago akting juga. he... he..
"Ayo mandi dulu." Aku mengajak anakku mandi.
"Kakek ikut ga nganter pengantin nya mah? "
"Ikut, ayo siap-siap dulu. "
"Iya. "
Aku ke rumah ibu, sarapan dulu dirumah ibu, ternyata di depan rumah Arya teman masa kecil ku udah banyak terparkir mobil yang siap untuk mengantar rombongan pengantin.
"Bu ikut nganter ga? "
"Nggak, masih sakit."
Ibu ku memang kondisi nya masih begitu-begitu aja. Gak tau harus bagaimana lagi. Aku juga kurang paham. Ibu lebih sering mengurung diri di rumah, tidak mau keluar rumah, bersosialisasi dengan orang lain bahkan ke madrasah untuk kajian pun sekarang ga mau, alasannya dada nya masih sesak terasa. Tidak sanggup berjalan jauh keluar dari rumah.
Lebih sering melamun sendiri. Padahal aku udah sering bilang sama ibu, gak usah banyak pikiran lagi bu, apalagi mikirin aku. Toh sekarang aku juga udah baik-baik aja, sedang fokus menata kembali usahaku, tidak terlalu memikirkan jodoh. Karena untuk apa aku menikah jika tidak dipikirkan dulu baik buruk nya, asal nikah aja gitu aku ga mau, untuk apa. Lagian aku sendiri juga Insya Allah bisa mencukupi kebutuhan aku, Jarel, ayah dan ibu. Bismillah aja kita sama-sama berusaha. Ibu do'akan aja yang terbaik untuk kelancaran usaha aku. Tidak perlu memikirkan jodohku siapa, jika sudah waktu nya tiba suatu saat nanti pasti ada kok, entah itu kapan aku pun tidak tau.
"Emang ada mobilnya? " ibu ku bertanya.
"Banyak bu, barusan aku lewat. Ayo yah ke rumah Arya sekarang yuk. " aku mengajak ayah ku.
Aku kerumah Arya teman kecilku, ternyata udah banyak sodara dan tetangga juga di rumahnya. Aku membantu mengeluarkan hantaran seserahan dari rumah Arya.
"Silahkan pilih-pilih mau naik mobil yang mana udah di siapkan, silahkan.. silahkan. " Ayah arya menawarkan kita semua untuk naik ke mobil-mobil yang udah berjajar didepan rumahnya.
Arya kelahiran tahun 91 seumuran A Rangga. Banyak tetangga bilang udah pas banget Arya kamu nikah sekarang. Karir udah mapan, usia udah matang. Karena dulu nya ga mau terus dia, fokus kerja aja. teman-teman seangkatan nya udah pada punya anak dua. Apalagi aku adik kelas nya udah jadi single parent. ha.. ha.. Memang nikah bukan ajang balapan, Allah mempersatukan dan mempertemukan dengan jodoh yang tepat di waktu yang tepat.
Aku berjalan ke depan, sambil melihat-lihat mobil yang terparkir.
"Ayo mau yang mana dipilih aja. " tetangga ku heboh.
__ADS_1
"Masya Allah nikmat mana lagi yang kau dustakan"
Aku pilih Innova hitam yang paling pas dihati.
"Ayo teh naik aja. " Sopir nya membukakan pintu mempersilahkan aku masuk.
Aduh, terimakasih ya Allah. Istimewa banget aku hari ini, Sampai dibukakan pintu segala. Dulu boro-boro, bawa mobil sendiri ke pasar pake sandal jepit yang udah jelek, asli ga mikirin penampilan banget, wajar Ditto lebih memilih pelakor juga. Ha.. ha..
Kami berangkat mengantar Arya ke Sukabumi kota bersama rombongan.
"Ada yang suka muntah ga nih? "
"Pa sopir nya bertanya. "
"Ha.. ha.. Jarel sih nggak pa, kuat dia kecirebon juga. "
"Ok sip kalo gitu. " pa sopir nya ketawa.
Ternyata pengantin nya ngajak balapan. Udah ga sabar mau segera akad mungkin.
"Lewat jalur kayanya nih, kalo lewat kota macet. " kata pa sopir.
"Iya. "
Pantesan aja aku ga jadi bawa mobil sendiri nganter nikah Arya. bawa mobil nya pada kebut-kebutan, aku gak akan sanggup, ini sekarang kan enak tinggal duduk diam aja sambil mendengarkan musik di sepanjang perjalanan.
Sampai didepan area pernikahan nya, kita langsung disambut upacara adat lengser dan tari tradisional. Dari kemarin disekolah sampai sekarang pengantin lagi, pengantin lagi, seru juga. Terus pertanyaannya kapan aku jadi pengantin lagi. ha.. ha... ngarep banget dalam hati.
Aku duduk di depan di dekat kursi akad Arya, karena kursi belakang udah penuh. Aku mengikuti semua rangkaian pernikahan Arya. Terharu banget ya Allah, apalagi ketika mendengarkan suara qori nya. Masya Allah begitu indah suaranya. Tapi aku ga sanggup jika mendengar acara sungkeman nya, tak terasa aku selalu meneteskan air mata.
Arya terlihat sangat gugup, padahal sang mempelai wanita belum dihadirkan disampingnya. Nanti ketika sudah halal baru akan dipertemukan. Seperti itulah pernikahan yang aku impikan. Entah akan terwujud atau tidak. Karena dulu ketika aku nikah dengan Ditto tidak seperti itu, aku di sandingkan di samping Ditto ketika akad pernikahan berlangsung 8 Agustus 2015. Aku juga melihat kaki dan tangan Ditto gemetar hebat pada waktu itu. Sedangkan aku santai waktu itu. Sebegitu sakral nya akad pernikahan, Zara kira akan selamanya hidup bersama Ditto ternyata tidak. Kita dipertemukan kembali di depan bapak penghulu yang menikahkan Zara dan Ditto dulu dengan ikrar yang berbeda, Dan mengembalikan surat pernikahan kami kepada pa Penghulu. Aku yang gemetar hebat dan menangis ketika mengembalikan surat nikah kepada pa penghulu berbanding terbalik dengan Ditto dengan tenangnya mengucap ikrar talak didepan Bapak penghulu 11 Februari 2022.
Setelah selesai seluruh rangkaian acara nya aku dan Keluarga pulang, Zara ijin turun di terminal aja, karena mau mampir ke toko a Rangga, belanja rokok. Hari ini minggu toko a Rangga buka setengah hari si Om ga mungkin nganter ke toko ku udah jam 11 aku lihat jam di handphone ku.
Aku berjalan ke toko a Rangga bersama Jarel. Sampai didepan toko a Rangga. Ternyata a Rangga ada di pintu masuk sedang merapihkan barang belanjaan orang lain.
"Jarel duduk disini, mamah masuk belanja dulu ya. " Jarel duduk di kursi sambil main Bubble gun yang dibeli dari tempat nikahan Arya tadi. "
"Iya. "
Aku membawa keranjang di samping a Rangga, lalu masuk ke dalam toko.
__ADS_1
Aku mengambil sabun dari tempat pajangan nya, Eh a Rangga juga ternyata ke situ.
"Ini ga ada lagi ya sabun nya? " Aku bertanya kepada A Rangga.
"Iya abis. "
"Ok. " aku melanjutkan mencari barang yang lain nya.
Sampai semuanya selesai, tinggal menunggu kacang kedelai belum dikemas. lagi di siapin dulu.
Aku duduk dikursi depan bersama anakku, sambil main bubble gun. Sibuk banget di toko nya A rangga, memang selalu seperti ini. A rangga bolak-balik membawa dus-dusan minuman dan tepung serta gula ke depan, belanjaan orang lain.
"Mah, A rangga cape ya kerjanya? " tiba-tiba Jarel berkata kepadaku.
"Aa merhatiin a Rangga? "
"Iya. "
"Itu kan berat tepung nya banyak. "
"Ga apa-apa, a Rangga kan udah gede, jadinya hebat kuat kalo aa Masih kecil sekarang ga bisa, nanti udah gede baru aa juga bisa. ya."
"Iya, banyak sekali mah." anakku type yang suka mengamati memang. Ga apa-apa belajar dari kecil cara berdagang, biar nanti kalo udah besar ga perlu susah cari kerja di tempat orang. Kalo bisa menciptakan lapangan kerja untuk orang banyak lebih bagus, itu yang selalu aku impikan. Makanya aku terus berusaha sekarang, mumpung masih muda, jatuh bangun ga masalah mudah-mudahan nanti ketika di masa tua sudah tinggal menikmati hasilnya dan tinggal mengawasi usaha yang telah aku bangun sekarang. Mau punya partner hidup lagi atau nggak ga masalah bagiku.
"Zara belanjanya udah?" si om bertanya.
"Nunggu kacang kedelai om, pada sibuk."
"Oh, sebentar ya om siapin."
"Iya."
Ada kali 1 jam lebih aku menunggu kacang kedelai. tak apalah sekali-kali nongkrong lagi di toko A rangga.
"Ini, maaf ya lama. " si om memberikan kacang kedelai nya padaku.
"Makasih ya om."
"Iya, hati-hati pulang nya."
"Iya om."
__ADS_1