SOULMATE

SOULMATE
Mendebarkan


__ADS_3

Aa sudah ada di parkiran, ketika jam kerjaku habis. Dia menyampiriku, dan menggenggam tanganku. Hal aneh lagi. Tadi ketika di telepon, bicaranya aneh, dan sekarang begini. Aku hanya menunggu dia bercerita. Jas putihnya belum di lepasnya.


"Woy" Igun menepuk pundak Aa.


"Kenapa bikin orang iri sih." ucapnya lagi.


"Apaan sih elu." ucap Aa.


"Selamat sore pak Igun" guyonku.


"Mulai lebay nih" Igun mulai sewot.


"Kan masih di kantor. Di lihat orang loh, jalan ama kami" ucapku tertawa kecil.


"oh ya, gue minta tolong ya, titip undangan buat teman-teman. Jumat ini acaranya" kemudian Aa mengeluarkan undangan acara 4 bulanan kehamilanku.


"Lu gak ngundang orang kantor, Ne?" tanya Igun.


"Gak usahlah, gak enak gue, takut ngerepotin" ucapku.


"Sayang.. duluan masuk ya, Aa mau ngobrol sama Igun bentar aja ya"


Aku mengangguk.


Aa mengantarkanku ke dalam mobil, dan menghidupkan mesin mobil. Tak lupa dia menyalakan AC agar aku tidak kepanasan.


"Bentar ya" ucapnya


Entah apa yang dia bicarakan. 10 Menit mereka berbicara. Dan Aa kembali masuk ke mobil.


"Udah? Kenapa sih, rahasia sama Ine" tanyaku.

__ADS_1


"Kepo deh" dia mengusel kepalaku.


"Ketopraknya mau dimakan sekarang atau nanti?" lanjutnya bertanya.


"Wah iyaaa... mau sekarang, nanti gak enak lagi"


Aa kembali turun dan mengambil pesananku di jok belakang.


"Ini nyonya Yopi Adrianus" ucapnya.


Aku mengecup pipinya, dan menunjuk lesung pipinya. Kemudian segera menyantap ketoprak itu. Aa segera menjalankan mobilnya. Sambil mendengarkan musik, aku menikmati makanan itu.


"Mau gak?" tanyaku.


"Suapin ya" ucapnya.


Aku menyuapinya di saat lampu merah.


Sesekali aku tersedak. Karena makan sambil bernyanyi.


"Sayang.. " Dan akhirnya dia menceritakan kejadian di rumah sakit, hari ini.


"Aa langsung shock. Inget Ine. Aa takut." kemudian dia melirikku.


Aku tersenyum dan memegang tangannya.


"Inshya Allah, Ine akan baik-baik saja. Lagian kan kita sudah janji, gak akan ada yang pergi duluan. Kalaupun pergi, harus bersama. Kita kan soulmate, harus sehidup semati." ucapku tetap memegang tangannya. Tangan yang merangkulku di saat aku terpuruk, tangan yang selalu memelukku saat aku menginginkan kehangatan.


"Ya.. kita harus hidup bersama selamanya" ucapnya.


#Rabu yang menjadi saat mendebarkan itu tiba.

__ADS_1


"Mbak.. orang yang kemaren itu, sudah datang." ucap Sarah di meja kerjaku.


Aku langsung bingung.


Aku tidak membuka berkas itu.


Dan langsung menyerahkan kepada Sarah.


"Oh ya, panggil ya, biar saya bilang ke pak Indra dulu" ucapku.


Kemudian aku bangun, dan segera mengetuk pintu ruang Igun.


tok. tok. tok


"Permisi, pak." ucapku,


Igun mengangguk, karena masih sibuk di depan laptopnya.


"Ada apa?" tanyanya


"Sekretaris baru sudah datang, pak" ucapku.


"Ajak masuk ya. Terima kasih" , dan aku keluar dan melihat siapa yang dipilih Igun.


"Mana orangnya?" tanyaku ke Sarah.


"Lagi di kamar mandi, mbak." ucap Sarah.


"Oh, ok.. terima kasih, ditinggal aja, kamu lanjutkan pekerjaan kamu." ucapku.


Kemudian Sarah melangkah menuju mejanya.

__ADS_1


Makin penasaran, siapa dia, apakah Kekey? Karena menurut Igun, dia adalah orang yang sudah paham dengan urusan sekretaris. Aku merapihkan mejaku, dan melanjutkan menulis.


"Permisi, mbak"


__ADS_2