
"Kenapa gitu, doanya?"
"Udah, nikmati aja lagunya." kemudian dia mencium kepalaku.
Lagu itu, setiap mendengar lagu itu, aku pasti meneteskan air mata. Dan tanpa sengaja, air mata itu jatuh ke tangan yang mendekapku.
"Jangan nangis, Aa kan sudah ada di samping Ine"
Dan aku hanya bisa memeluknya.
Aku menarik nafas panjang,
"Ayo, kita jalan lagi, A" ajakku.
"Yakin, gak mau di sini, suaranya bagus loh. Itu ada kursi kosong. Kita duduk di sana ya" ajaknya.
Kemudian kami memesan susu panas dan roti bakar. Suasana malam itu, menjadi malam untuk mengenang masa lalu kami.
Aku merasakan dingin. Aku mendekap tanganku.
"Kenapa, sayang. Kita pulang ya" ajaknya.
Sepanjang jalan, dia tidak melepaskan tanganku. Dan sepanjang jalan juga dia merangkulku.
__ADS_1
"Sayang, enak makan bakso ya, dingin gini"
"Dimana nyarinya ya.. Di sini gak bisa sembarang makan, sayang."
"Kenapa"
"Besok kita lihat jawabannya ya, kita pesan makanan di restaurant aja ya. Nanti Aa ambilkan jaket Ine ya."
Aku mengangguk setuju, mataku belum mengantuk, karena tadi sore tidur, jadi matanya masih segar.
Setelah memesan menu, Aa naik ke kamar mengambil jaketku, dan tak lama di sudah berada di sampingku lagi yang sedang menikmati mie rebus. Entah laper atau enak, aku menghabiskan mie itu, dan Aa hanya tersenyum melihatku.
"Hm.. Kenyang"
"Yok, kita ke pantai aja, di sana aja tempat yang indah" ajaknya.
Aku mengikuti setiap langkahnya. Dan ketika tiba disebuah pondok, aku terpana dengan indahnya pondok itu.
"Suka?" tanyanya..
Aku mengangguk, dan memeluknya.
Kami duduk di dalam pondok itu, sambil mendengar deburan ombak.
__ADS_1
"Kenapa, Aa baik banget sama Ine?"
tanyaku sambil memeluknya.
"Karena Ine adalah impian Aa sejak pertama kita ketemu, entah waktu pertama kali liat Ine, beda aja, dan Aa berniat menghabiskan waktu Aa dengan Ine"
"Aaahhh.. so sweet.."
"Ine inget gak, ketika Ine marah-marah di sekrerariat basket di sekolah? Itu buat Aa makin suka sama Ine. Teman-teman sampe bingung sama Aa. Dulu Aa, terkenal dengan cowok yang suka mainin hati cewek. Semua Aa gombalin dengan mudahnya. Tapi Ine.. Susah. Dan sikap Aa itu di protes sama yang lain. Mereka bilang, Aa kurang tegas"
Aku mendengarkannya mengenang masa lalu kami.
"Setiap Ine gak ada di samping Aa, sepertinya Aa kehabisan nafas. Aa merasa nyaman kalo sudah deket Ine. Gak ada tempat cerita paling seru selain Ine."
lanjutnya.
"Tapi kan Aa dulu banyak yang naksir, terus gimana,"
"Ya Aa diemin aja, penantian Aa untuk Ine, datang ketika Ine masuk pertama kali di sekolah. Ine aja yang gak tahu, begitu Ine pertama diantar ayah, Aa sudah melihat Ine. Tapi Aa merasa terlalu dini untuk bilang suka sama Ine. Ketika Ine dikuncir, itu lucu dan manis banget. Aa dipergoki oleh pak Ozi, karena selalu melihat Ine. Aa bahagia akhirnya sekarang, walau telat, memiliki Ine seutuhnya. Aa gak akan menyia-nyiakan waktu, buat hidup Aa lebih berarti"
"Hm.. gombalnya ya Allah... Baru tahu ine, Aa ini tukang gombal" ucapku sinis.
"Tapi ini Aa jujur sama Ine loh, jarang kan denger pengakuan Aa begini. Cinta Aa tidak akan berubah. Akan selalu sama, dan akan selalu bertambah untuk Ine"
__ADS_1