SOULMATE

SOULMATE
Mom, Dad, Alka


__ADS_3

"Sayang, obat-obatan dibawa ya"


akhirnya aku bangun dari tempat tidur. Dan segera menuju kamar mandi.


"Aku harus sehat nih, masa iya aku drop, kan ini impianku, bisa honeymon bersama Aa" ucapku dalam hati.


"Sayang, ini handuknya" Aa memberikan handukku.


"Kebiasaannya akan terus jadi romansa hidup kami" kalimat itu yang keluar dari pikirannya.


Setelah mandi, aku segera mengambil celana jeans dan kaos oblongku, bedak seperlunya, lipstik tipis, dan memakai sepatu kets ku.


"Hm.. Ineke ku kembali" ucapnya yang memelukku dari belakang.


"Sudah siap? Yok turun" ajaknya.


Di lantai bawah, Alka, bu Min dan pak Min, juga sudah bersiap.


"Sarapan dulu, nak"


"Ya bu.. Tapi Ine mau sarapan roti aja, ada?"

__ADS_1


"Sebentar ibu buatkan ya" kemudian bu Min mengambil roti dan mengoleskan mentega.


"Campurkan coklat meses dan kejunya dikit aja ya bu, sepotong aja, gak mau banyak-banyak" ucapku sambil menyeruput segelas air putih hangat.


"Makan dong, sayang, nanti Ine masuk angin" dokter Yopi mulai bawel.


Aku cuma meliriknya dan diam.


Mungkin karena pekerjaanku kemaren, dari menjelang pembukaan perumahan baru, yang harus setiap hari bolak balik, sampai ke puncak acara, dan terakhir membuat promo lagi, membuat badanku terasa capek sekali. Padahal aku ingin sekali pergi ke rumah ibu, dan memanggil tukang urut langgananku. Tapi, planning ini sudah lama sekali, aku takut mengecewakan mereka.


Ku lihat Alka ku, memakai kaos oblong yang sama denganku dan Aa. Ya, Aa memang membeli kaos oblong yang sama, bertuliskan, "Mom" untukku, "Dad" yang dipakai olehnya, dan "Alka"


"Assalamualaikum"


Suara itu datang dari orang yang aku kenal.


Ternyata ayah dan ibu yang akan menghantar kami.


"Ibu dan ayah, beneran gak mau ikut nih?"


tanya dokter Yopi.

__ADS_1


"Gak nak, kami mau menghadiri pesta pernikahan sepupu Ine saja, di Bogor. Mungkin besok kita berangkat ya, bu" ayah menoleh pada ibu.


"Ya nak, tidak enak. Walaupun ayah mereka, Abangnya ayah, sudah meninggal, tapi, darah tetaplah darah. Lagian tidak enak kalau kita semua tidak hadir kesana. Lain kali kalau ada waktu, kita jalan-jalan semua, oke.


Ine, kenapa makan roti? Nanti masuk angin loh, perjalannya kan bukan dekat, dari Bandara ke hotel kan lumayan jauh" protes ibu.


"Sama aja bawelnya. Iyaaa, nanti Ine beli makanan di bandara aja, sekarang Ine belum mau makan." raut mukaku tidak enak saat itu,


Setelah semua siap, kami semua berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta.


"Alka, jangan nakal ya sayang, jangan ngerepotin mama dan papa dokter" nasihat papa kepada Alka yang dipangkunya.


"Seharusnya, Alka tidak perlu ikut, Ne.. Biar kalian saja yang pergi. Kalian butuh waktu berdua" ucap ibu.


"Biar, bu.. Yopi menikahi Ineke, satu paket dengan Alka, jadi, kemana kami pergi, Alka harus ikut."


ucapan dokter dingin itu, membuatku membelalakan mata, dan seolah masih tidak percaya, kalau dia mau menerima kami.


Dia selalu sadar, ketika aku memperhatikannya, kemudian dia memegang tanganku.


Ibu, ayah, pak Min dan bu Min pun yang mendengar, tersenyum bahagia mendengar ucapan dokter Yopi.

__ADS_1


__ADS_2