SOULMATE

SOULMATE
98


__ADS_3

Ayah berhenti kerja dan harus mengganti uang kemacetan nasabah dengan cara dicicil jika tidak ayah akan dipenjara.


Gaji pertama ku waktu itu 885 ribu, aku serahkan semuanya ke ibu, bahkan uang ongkos untuk setiap hari kerja pun ibu yang ngatur setiap harinya.


Kakakku sudah menikah, tapi masih tinggal bersama keluarga ku, itulah Zara 18 tahun kerja hanya kerja tidak pegang uang sama sekali.


Aku paksakan untuk mendaftar kuliah di STIE yang seharusnya aku dapat beasiswa dulu. Aku pergi ke Kampus untuk mendaftar. Biaya nya ringan untuk kelas karyawan dan bisa dicicil bayar bulanan nya 300 ribu.


aku bertemu guru Akuntasi tercinta aku, yang menjadi wali kelas ku dari kelas 1 SMK sampe kelas 3 SMK, guru tercinta yang menemani ku olimpiade juga. Sampai menjadi dosen pembimbing ku ketika aku nyusun skripsi sarjana ku. Guru yang selalu memberikan aku setumpuk buku-buku Akuntansi, Guru yang membawa ku kuliah dikelasnya ketika aku masih kelas 2 SMK.


"Tuh kan daftar nya kesini juga? "


"Iya bu ambil kelas karyawan ya bu biar bisa bayar biaya nya sendiri. "


"Kelas reguler aja, ga akan mengeluarkan biaya sepeser pun. Bahkan kamu bisa aktif nanti di BEM. banyak peluang Bagus. Ikut Olimpiade lagi ya."


"Ga bisa bu, terimakasih banyak untuk tawaran beasiswa nya bu. "


"Kenapa? Alasannya? "


"Alasannya, ayah ku berhenti kerja bu, sekarang nganggur dirumah bahkan aku harus membantu ayah untuk melunasi persentase hutang ayah ke bosnya bu tiap bulan. Kakak baru menikah penghasilan suami nya kecil dan masih satu rumah sama saya dan keluarga. Kalo Zara ambil kuliah reguler siapa yang ngasih ongkos transportasi Zara setiap hari ke kampus. Terus siapa yang akan ngasih makan Ibu dan Ayah jika Zara ga kerja bu. "


"Oh gitu ya Zara. Ga apa-apa kelas karyawan juga materi dan ilmu nya sama. "


"Iya bu, mudah-mudahan Zara punya rezeki nya sampai Zara Sarjana ya bu. "


"Iya, Ibu do'ain semoga kamu sukses ya Zara. "


Meskipun hidupku terbilang pas-pasan tapi cita-cita ku untuk menempuh pendidikan sangatlah kuat. Karena aku tidak suka dengan ungkapan.


"Untuk apa wanita sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya ke dapur juga."

__ADS_1


Aku berfikir bahwa, Jadi wanita harus cerdas. Karena suatu saat akan menjadi seorang ibu. Ibu adalah madrasah pertama untuk anak nya. Bagaimana kita bisa memiliki anak yang pintar, cerdas, berwawasan luas berahlak baik jika ibunya tidak memiliki pendidikan yang memadai.


Aku bekerja sambil berdagang gorengan ke pabrik sepatu. Karena uang gaji ku di berikan ke ibu semua, aku hanya membawa 300 ribu untuk bayar kuliah. Disini aku harus berpikir lagi untuk mendapatkan uang tambahan untuk mengganti uang ongkos ku tiap hari berangkat ke pabrik. Aku tidak tertarik untuk mencicil motor. Karena aku pikir waktu itu jika aku bawa motor tiap hari aku susah bertemu orang-orang, lain halnya naik angkutan umum, selalu ada saja yang ngongkosin. Jika sedang tidak bareng dengan Adrian selalu ada aja yang ngajak bareng berangkat atau pulang. Udah kaya oncom aja aku waktu itu.


Belum lagi atasan QA ku yang menawarkan beberapa Manager disitu yang ingin mendekati aku. Serem juga ternyata dunia kerja di pabrik tuh seperti ini.


Dengan polos nya aku menerima satu tawaran atasan ku waktu itu untuk makan bareng dengan Mr. Choi General Manager ku waktu itu. Katanya dia tertarik padaku.


Aku dijemput dari rumah ku jam 6 sore oleh Mr. Choi dan sopirnya memakai mobil Strada triton. Entah apa yang dipikirkan tetangga ku waktu itu. Pastinya aku sudah dianggap Gadis nakal. Karena dijemput orang korea kerumah.


"Mr tunggu sebentar ya. aku shalat magrib dulu. "


"Oh iya boleh. "


Mr. Choi menunggu ku diruang tamu bersama ibu dan kekei kecil waktu itu. Ibu tidak mengerti bahasa Mr. Choi karena bicara nya campuran indo-korea. "


Aku berangkat menuju Sukabumi, tiba di sebuah restaurant dan bar yang menyatu jadi satu.


"Mau makan apa? " Mr. Choi bertanya.


Aku langsung disambut pelayan restaurantnya dan di antar ke satu meja yang sangat cantik. ala-ala candle light dinner gitu. Maklum Zara gadis kampung waktu itu jadi nya sedikit norak. ha.. ha..


Aku bengong karena cara makan nya ala table manner gitu. Makanan nya macem-macem. sendok nya banyak pake serbet juga, Menu nya bahasa inggris semua. Aku pilih yang ada Chicken nya aja. karena itu pasti ayam. lucu sekali kalo orang kampung dibawa makan begini ya aneh rasanya.


"Kamu usia berapa tahun Zara? " Mr. Choi bertanya.


"18 Mr. "


"Ha...ha.. Saya kira 24 tahun. Pantesan masih Cute" Mr Choi tertawa.


"Baru lulus SMK Mr. "

__ADS_1


"Tuh lihat, nanti jam 10 lewat lampu-lampu itu menyala. Mau bersenang-senang? " Mr. Choi menunjuk lampu yang tergantung ditengah-tengah.


"Aku nyengir, dugem bukan Mr? "


"Ya kita happy-happy, kamu happy saya happy. Ok."


Ya tuhan serem banget. Aku inget kata-kata ibu senakal-nakal nya perempuan harus bisa jaga kehormatan. Jika mahkota wanita sudah hancur maka tidak akan berharga lagi wanita itu.


"Tidak-tidak Mr. Pulang aja. "


"Yakin? kenapa?"


"Takut, masih dibawah umur. "


Mr. Choi tertawa.


"Ya sudah, Mau beli oleh-oleh buat ibu? "


"Boleh, KFC ya?"


Mr. Choi tertawa terbahak-bahak mendengar aku minta KFC.


"Ok.. "


Aku pulang kerumah membawa banyak ayam goreng pemberian Mr. Choi. Mr Choi juga memberi ibu dan Kekei kecil uang.


"Kamu sekolah yang rajin ya, nanti saya bantu uang sekolah nya. bilang aja. Jangan lupa ke salon juga biar cantik. Ok.. "


"Iya Mr, terimakasih. "


Mr. Choi memberiku uang, dan selalu membantu ku untuk bayar sebagian uang SPP kuliah ku. Aku juga bisa pergi ke salon untuk mempercantik diriku waktu itu terutama rambut yang paling aku suka.

__ADS_1


Ternyata orang korea tuh tidak berani melecehkan perempuan jika perempuan itu tidak mengijinkan, bahkan aku dianggap seperti anaknya sendiri. Padahal ternyata niat sebenarnya atasan QA ku di awal adalah untuk menjual ku ke Mr. Choi tapi gagal. Karena Mr. Choi tidak berani merendahkan aku jika aku tidak mengijinkan.


Aku mendapatkan pelajaran berharga, ternyata tidak akan ada ungkapan wanita murahan jika kita sendiri tidak memilih untuk menjadi wanita murahan. Jalan hidup itu ada ditangan kita sendiri mau jadi wanita murahan atau mau jadi wanita istimewa dan berharga semua tergantung kepada diri kita sendiri.


__ADS_2