
Ibu di bawa ke rumah ku agar aku tidak khawatir, jika ibu sendiri yang dirumah, aku repot ke sana kemari. Mendingan di rumah ku dulu sampe benar-benar sembuh.
Kondisinya masih sangat lemah, mungkin karena efek obat juga. Kakakku juga datang dengan anak-anaknya.
"Chira nginep ya di rumah. "
"Nggak."
"Makan aja yu. "
"Yu " sambil nyengir dia.
Ayah beli ayam goreng, lalapan dan sambal dari tempat makan dekat rumah.
"Ayo makan bareng-bareng ya."
__ADS_1
Aku dan keluarga ku makan bersama.
Aku tertawa dan berkata kepada mereka.
"Sekarang makan bareng nya dirumah aja ya. Perayaan wisuda masa iddah. Ga kaya dulu, pulang wisuda Sarjana dari gedung Anton makan bareng nya di Alam Sunda. "
"Sedih, wisuda sekarang di ICU, bukan gedung Anton ya. Semoga setelah kelulusan ini kamu bisa jadi orang hebat nantinya. " Kakakku berkata seperti itu.
"Mudah-mudahan ya teh. "
Satu persatu petunjuk istikharah ku yang pertama menjadi nyata. Tapi terbalik dari mimpi ke 3 kemudian ke petunjuk mimpi ke dua.
Petunjuk Istikharah ke dua, Aku berjalan kaki pulang wisuda dengan berjalan kaki ke rumah ibu, dengan hati yang senang tanpa beban, meskipun teman-teman yang lain memakai kendaran. Tapi aku mendengar bisikan, "Tidak apa-apa kamu seperti ini sekarang, Mereka juga hanya pura-pura terlihat seperti itu, tidak seperti kamu yang apa adanya. "
kenyataan nya sekarang memang benar, masa iddah ku berakhir ketika ibu di Rumah Sakit, dalam keadaan aku tidak punya apa-apa. Bahkan untuk makan pun aku meminjam gelang Chira anak kakakku. Toko ku juga barang nya banyak yang kosong. Mobil ku juga aku berniat untuk melepasnya. Karena aku sudah tidak sanggup lagi untuk membayar cicilan bulan depan. Aku sudah berusaha semampuku, segala upaya telah aku coba, tetapi jika pada akhirnya aku harus melepaskan aku ikhlas, tidak akan ada penyesalan karena aku sudah berjuang kasarnya sampai titik darah penghabisan.
__ADS_1
Aku juga teringat kata-kata a Rangga padaku, kamu harus memilih antara toko dan mobil. Dirinya sudah tidak termasuk dalam pilihan itu. Karena harus ada salah satu yang dikorbankan. Akhirnya sekarang aku memilih untuk melepaskan mobil. Karena A Rangga juga bilang, mulai dari nol kembali ga masalah, antar jemput jarel bisa pake angkutan umum, belanja bisa di antar. Jika ibu kontrol rumah sakit pulang malem ada taksi online.
Aku harus mengambil keputusan, untuk masa depan Jarel dan ibu juga ayahku, mudah-mudahan aku bisa mendapatkan modal kembali, karena mau sampai kapan aku menunggu hal yang tak pasti sedang kan hidup terus berjalan. Aku teringat kata-kata A Rangga juga, Sampai kapan mengharapkan bantuan dari orang lain, tidak akan selamanya mereka bisa membantu, kebahagiaan diciptakan sendiri, bukan dicari. Bahkan hidup sendiri pun tanpa pasangan hidup akan bahagia. Dan akhirnya aku berpikir untuk apa aku menikah jika tidak ada laki-laki yang mampu hidup bersama ku, mending aku sendiri membahagia kan keluarga ku sendiri.
Entah dengan petunjuk istikharahku yang pertama. Mimpi yang pertama.
A Rangga pulang bersama ku dari tokonya yang sekarang, dan melihat satu bangunan kosong.
"Ayo pulang, aku ikut. "
Aku bertanya.
"Itu bangunan apa?"
A Rangga menjawab,
__ADS_1
"Itu bangunan yang akan kita isi nanti, kita isi bareng-bareng ya, aku mau keluar dari sini, ini punya kakakku. Aku mau pindah ke tempat itu sama kamu. "
Mungkin selama ini aku salah mengira. Aku kira A Rangga akan menjadi pasangan hidupku nanti, dan kita memulai usaha dari nol bersama-sama. Ternyata kita hanya berteman, hanya aku yang mencintai nya sampai detik ini aku tidak bisa melupakannya. Walau begitu banyak ujian yang telah aku lalui, walau entah berapa kali dia mengabaikan pesan ku, telpon ku. Entah berapa kali aku menangis karena nya. Entah berapa kali aku memohon, entah berapa kali aku memberi nya kesempatan. Sampai ibu marah padaku, karena aku tidak punya harga diri. Aku seperti seorang pengemis. Bukan seperti itu bu, perasaan hati siapa yang bisa berbohong. Aku juga berusaha untuk tidak seperti ini, Tapi hati ku tidak pernah berubah, perasaan ku tetap sama. hanya aku juga tidak berani untuk berharap lagi karena aku sudah tau jawaban nya. Karena di hati A Rangga hanya ada Mawar. Aku mungkin akan selalu mencintai nya dan selalu menyayangi nya tanpa ingin memiliki nya. Tidak ada yang salah dengan perasaan ku selama aku tidak menggangu hidupnya dengan Mawar. Karena Cinta yang sebenarnya adalah membiarkan orang yang kita cintai hidup bahagia bersama orang yang dia cintai karena perasaan tak pernah bisa dipaksakan. Aku memilih jalanku untuk membangun kembali usaha ku sendiri memulai lagi dari awal, mungkin aku membutuhkan bantuan A Rangga juga untuk mengarahkan aku membangun kembali usahaku, bukan berharap lagi untuk menjadikan nya suami ku. Tidak mungkin. Berjalan seperti biasa aja seperti layak nya dengan seorang teman, seperti dengan Adrian dulu.