SOULMATE

SOULMATE
Tempat MeLuapkan Emosi


__ADS_3

Aa membaringkanku di kursi depan, dia mengelus rambutku yang hanya sebahu.


"Sayang, minum ya"


kemudian aku minum dengan mengangkat kepalaku dibantu olehnya.


Aa mengendarai mobilnya, dan aku hanya diam. Pikiranku melayang, menahan segala emosi.


Aa sangat tahu, bagaimana aku, dia menunggu sampai aku bercerita.


Di depan cluster perumahan kami, Aa membeli beberapa makanan. Dia tidak berani untuk menanyakan apa-apa kepadaku.


Sampai di rumah, aku tidak menemukan siapa-siapa.


"Kemana semua orang, A?" tanyaku.


"Tadi ibu menelpon, pamit ke Aa, minta Alka bermalam di rumah ibu, pak Min dan bu Min, mengantarkan Alka ke sana. Biarlah dulu. Mungkin ayah dan ibu rindu cucunya" jelasnya. Dan aku hanya tersenyum.


"A.. sini" ucapku yang menahan tangis.


Aa duduk di sebelahku yang berada di tempat tidur. Dia memelukku. Dan di situ aku menangis. Mengeluarkan dan meluapkan emosiku. Aa menghapus air mataku.


"A, Ine mau cerita" ucapku sambil menangis.


"ceritalah sayang, Ine gak boleh begini. kasian dedek, dia akan stress kalau mamanya stress, dia sedih kalau mamanya sedih" ucapnya mengelus rambut yang menutupi wajahku.

__ADS_1


"Ine minta maaf sama Aa. Bukan Ine menyesali masa lalu, tapi Ine bertemu dengan orang-orang di masa lalu, yang membuat hati Ine sakit. Ine marah, tapi Ine tidak bisa mengeluarkannya."


Dia mendengarkan semua ceritaku, tanpa menyela sedikitpun.


"Ketika di Rumah Sakit, pas kita habis periksa beberapa bulan yang lalu, Ine bertemu dengan seorang perempuan, dia sekretaris papanya Alka, yang menghancurkan rumah tangga kami. Kemudian, hari ini, Ine bertemu lagi dengannya, dan dia melamar pekerjaan di kantor untuk menggantikan Ine. Ine marah, kenapa dia ada di dekat Ine. Ine kesal." kemudian tangisku makin pecah.


Aa memelukku erat.


Seolah dia tahu, beban yang ada di dadaku, dan dia ingin memecahkan beban itu.


"Ine harus bagaimana, A?" tanyaku mengepal tanganku menahan emosiku.


Aa meraih air minum yang ada di samping tempat tidur.


"Bismillah, minum Ne" ucapnya memberikan minum ke mulutku, dan setelah itu, Aa meletakkan kembali gelas itu.


"Ine maunya gimana?" tanyanya


"Ine mau resign, tapi Ine kasian sama Igun"


jawabku.


"Boleh Aa bantu, Ine?"


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Apa?" tanyaku


"Nanti Ine bakal tahu. Sudah nangisnya sayang. Lihat, matanya sampai sembab gitu" tangannya menyentuh bawah mataku.Dan dia menghapus kembali sisa air mataku.


Untuk kesekian kalinya, dia menenangkanku.


"Terima kasih, A. Udah mau dengerin Ine" ucapku yang masih sesegukan sisa menangis.


Dia mengecup keningku dan memelukku.


Tak perlu berkata-kata. Tindakannya itu membuat aku tenang kembali.


Tiba-tiba perutku berbunyi.


Aku tersenyum lebar.


"Makan yuk. Aa beli nasi Padang. Aa belikan lauk tunjang, buat Ine. Pasti suka. Ya kan."


Aku mengangguk.


"Tunggu sebentar ya, Aa ambilkan di meja bawah dulu." kemudian dia turun ke ruang makan.


Aku bersyukur, dia selalu menjadi tempat untuk meluapkan segala emosiku.


Aku menuju kamar mandi dan segera mengganti pakaianku, dan mengambil air wudhu, dan melakukan sholat Ashar. Aku bersyukur, di tengah kesedihanku. Allah selalu menghadirkan dia, disampingku.

__ADS_1


#Jangan baper ya..


Terima kasih sudah selalu setia menanti kelanjutan cerita ini. Jangan lupa di like ya.. 😊****


__ADS_2