
"Capek gak?" tanyanya,
"Sedikit" balasku
Kami berbaring, menatap kaca yang langsung dapat melihat awan, dan dia meletakkan tangannya sebagai bantal untuk ku tiduri.
"Seharusnya, 11 tahun yang lalu, Aa sudah bawa Ine kesini, memulai kehidupan baru bersama, tanpa ada kisah sedih. Mami pergi dengan tersenyum ketika diujung hayatnya, ada Ine di sebelahnya, dan semua akan baik-baik saja" ucapnya mengenang masa lalu kami sambil meneteskan air mata.
"Kenapa Aa bodoh sekali, meninggalkan Ine saat itu. Saat itu, Aa cuma bermimpi, menjadi salah satu orang yang Ine banggakan di depan ibu dan ayah. Tapi, yang lebih buat Aa sakit, lihat kehidupan Ine. Maaf ya sayang"
Aku memeluknya, dan menghapus air mata yang sempat turun dari matanya.
Biarlah kita terpisah saat itu,
biarlah semua masa lalu itu melangkah pergi jauh dariku,
biarlah kesedihanku di masa lalu pergi dan berganti kebahagiaan.
Yang aku tahu, sejak Aa mengambil sumpahnya untuk menjadi suamiku, kehidupanku akan kembali bahagia.
Langkahku yang sempat tersendat, kini ada yang memamahku untuk terus berjalan.
Terima kasih yaa Allah..
Kau memberikan aku kebahagiaan lagi.
Kau menjawab semua pintaku, disaat aku jatuh.
Aku pun tertidur dengan air mata dalam pelukannya,
__ADS_1
Entah rasa lelah atau kantuk yang berlebihan, aku melewatkan moment matahari terbenam.
Pintu kamar kami diketuk seseorang.
Aa melepaskan pelukannya dengan sangat pelan.
"Maaf, dok.. Alka memaksa mau main ke kamar ini" ucap pak Min
Aa tersenyum, melihat Alka.
"Tidak apa-apa, pak.. Mungkin dia ingin bermain sama mamanya. Itu mama, nak. Mama tidur. Oh ya pak, setelah maghrib siap-siap ya. Kita mau cari makan" ucap Aa, kemudian menutup pintu.
Langkah anak kecil itu menghampiriku, dan menciumku.
"Mama,"
Aku membuka mataku, ku lihat Aa dan Alka disampingku.
Aku melakukan apa yang diperintahnya. Seperti biasa, kami melakukan ibadah bersama.
Setelah selesai, aku berdandan karena Aa akan mengajakku makan malam,
"Santai saja, sayang. Gak usah pakai sepatu ya. Sendal jepit aja. Kita akan jalan-jalan yang dekat di sekitar sini aja"
Dan akhirnya kami makan di restauran hotel. Alka berlarian kesana kemari, aku melihatnya dan mendekapnya.
"Alka, makannya duduk sayang."
Kemudian aku menyuapinya.
__ADS_1
Setelah selesai kami keluar hotel untuk melihat-lihat suasana malam.
"Nak, kalau kami boleh duluan masuk hotel ya, kasian Alka, udaranya dingin," ucap bu Min.
"Oh iya, kasian Alka, boleh deh..Besok aja kita jalan lagi ya. Saya dan dokter Yopi, masih mau jalan ya bu, titip Alka ya bu" ucapku.
Kami berhenti, dan melihat mereka sampai masuk ke pintu lift.
Kami jalan menuju keramaian yang ada diujung jalan, ternyata di sana ada pengamen jalanan.
Dentingan itu, sepertinya aku kenal lagunya,
Aa memelukku dari belakang, karena dia tidak mau ada yang menyenggolku. Tubuhku yang kecil, habis oleh badannya yang kekar.
Lagu itu, lagu lawas, Ricard Marx.
Aku menikmati lagu itu, lagu yang ada, saat aku merasa rindu pada Aa.
How many dreams will end
How long can i pretend
how many times will love pass me bye
until i find you again
Aku memeluk tangannya yang memeluk tubuhku.
"Now, i find you again, and our dreams came true" ucapku pelan
__ADS_1
"I'll always beside, you.
until we died, and i hope we will died together" ucapnya