
Pemeriksaan demi pemeriksaan aku lalui. Entah sampai saat ini, aku tidak tau apa penyakitku. Aa juga tidak menceritakan secara gamblang, ada apa dengan tubuhku.
"A.. Ine bosan. Ine mau pulang. Masih banyak yang harus Ine kerjakan dan selesaikan. Ine gak bisa seperti ini. Ine boleh pulang kan ya A? Ine lelah" ucapan itu keluar, saat sore Aa mengajakku melihat matahari yang masih terlihat. Dia mendorongku dengan kursi pasien.
Aa hanya diam.
"A.. Ine ngomong.. Kenapa gak di jawab? Udahlah, Ine mau kembali ke kamar aja."
Aa memelukku dari belakang.
"Gak bosan di kamar terus?" tanyanya
"Gak tau. Ine kesel"
Kemudian dia duduk bersimpuh di depan kursi dorong pasien yang aku duduki.
"Ine memangnya udah enakan? Aa takut Ine kenapa-kenapa. Kalau di sini kan, Aa bisa langsung lari, kalau Ine ada apa-apa. Nanti kita coba tanya dokter Febri ya.."
"Kenapa dokter febri? Kenapa bukan Aa? Kan Aa tau kondisi Ine."
Sejenak, Aa terdiam dan tidak berkata apa-apa. Dan kursi didorong kembali.
Raut mukanya jadi aneh saat aku tanya itu.
"Sayang... Kalau kita pulang nanti, Ine mau kita jalan-jalan ya. Bertiga sama Alka. Kan bentar lagi Alka ulang tahun. Oh ya, Alka mau sekolah kan. Kita cari sekolah yang dekat dengan rumah aja ya sayang. Ine ingin antar jemput Alka. Oh ya, Ine juga mau ke kantor. Tapi mau bikin surat pengunduran diri dulu. Sayang bawa laptop kan? Ine mau ngetik surat pengunduran diri. Terus kita main ke rumah papi" ucapanku panjang lebar, tapi kenapa dia hanya diam. Dan ada tetesan air yang jatuh di tanganku. Aku mendongakkan kepalaku ke arahnya. Aa langsung membalikkan tubuhnya membelakangiku. Yang aku tau, dia sedang punya masalah.
__ADS_1
Aku memegang tangannya.
"A.. Aa nangis? Ada apa? Cerita ke Ine. Nanti di kamar, Aa harus cerita ya"
Aku berusaha menenangkannya.
"A.. sini peluk Ine" Kutarik tangannya, dan kami berpelukkan.
"Love you, dear. I love you, to the moon and back. Love you now and forever." ungkapan cintanya membuat aku tertawa.
"Kok ketawa sih sayang. Kan lagi adegan romantis" ucapnya kesal dan mengacak2 rambutku.
"Abisnya.. seperti anak SMA aja, gombalannya selangit" aku pun tertawa.
"Naaahh.. bisa tertawa, Alhamdulillah."
Tak disangka, beberapa perawat yang lewat melihat kami yang sedang bercanda.
"Dokter Yopi sangat sabar menghadapi istrinya yang sedang sakit. Semoga bu Ineke lekas sembuh kembali ya"
"Aamiin"
"Aamiin"
"Mereka benar-benar soulmate. Tidak bersama saat masih sama-sama lajang, tetapi menikmati hari-hari selanjutnya dengan kebahagiaan. Salut dengan cinta mereka"
__ADS_1
Dan para perawat itu pun berlalu.
Sampai di kamar, Aa menggendongku ke atas tempat tidur pasien.
"Jalan-jalan hari ini, selesai ya nyonya Yopi" ucapnya sambil mengecup keningku.
"Thank you my dear"
"Makan ya sayang, setelah makan, minum obat. Biar cepet sembuhnya" Aa mengambil makanan yang sudah disiapkan pihak rumah sakit.
Aku mengangguk, menyetujui perkataannya
"Aku harus sehat."
"A.. enak makan pie buah ya.. itu loh.. yang di toko roti dekat rumah kita. sepertinya enak sekali ya A"
"Oh ya, nanti kan bu Min dan pak Min mau antar keperluan Aa. Kita pesan ke mereka saja ya sayang. Ok"
"Ok"
Aa mengambil ponselnya,
"Sebentar ya sayang" Kemudian dia keluar ruanganku.
Aku meraih gelas yang ada di meja samping tempat tidurku.
__ADS_1
Praaaangg