
Hari ini aku kembali belanja ke toko A Rangga seperti biasa. Kamu ada didepan duduk di atas motor yang sedang di parkir.
Deg.. degan rasanya hati aku, mau turun dari mobil. Aku berusaha biasa aja. Dia bukan siapa-siapa aku, A Rangga bisa tidak peduli sama aku, aku juga bisa lebih tidak peduli sama dia. Tenangkan hati, relax, tarik nafas. Ok. aku siap turun dari mobil.
"A jarel ayo turun. "
"Iya, mamah itu ada a Rangga. "
"biarin ga apa-apa, kita kan mau belanja, bukan mau bertemu a Rangga. "
Aku turun dari mobil dan berjalan menuju pintu depan, aku berusaha untuk tidak melihat wajahmu, aku harus bisa. Bismilah, Ya Allah kuatkan aku.
Aku mengambil keranjang belanja yang berada tepat di depan A Rangga, aku tidak melihat wajahnya apalagi menyapa. Sambil berjalan didepan nya, aku berbicara didalam hatiku, aku bisa.. aku bisa.. Lupakan dia.. lupakan dia...
Aku masuk dan mulai mencari barang-barang yang akan aku beli. Selesai, aku berdiri didepan meja kasir untuk membayar belanjaan ku. Dan a Rangga berdiri persis disamping aku. Kita sama-sama mengulurkan tangan ke teh Syifa kasir.
Dengan candaan nya.
"Beli... beli... teh beli.. di warung kan gitu ya kalo anak-anak jajan."
Aku berusaha tidak peduli, sambil masih mengulurkan tangan ku.
Teh Syifa tersenyum.
__ADS_1
"Kalian ini ya, mau Zara dulu apa Rangga dulu nih? "
A Rangga masih bertingkah seperti anak kecil.
"Aku... aku... "
Akupun menjawab.
"Terserah teh Syifa deh. " Aku letakkan saja uangku diatas printer thermal. Aku kesel dengan tingkahnya. Kalo bisa aku ingin menjambak dia sekalian. Tahan, dan sabar ya. Aku terus bicara dalam hati ku.
Sabar.. sabar...
"Teh ditunggu ya, rokok nya di siapin dulu."
Sambil berdiri didepan meja kasir, aku menunggu rokok di siapkan.
Eh.. A Rangga jongkok di sebelah aku, siapin barang belanjaan orang lain. Sambil bernyanyi dan terus bernyanyi.
"Aisyah telah pergi.. Pergi meninggalkanku.. "
Terus dan terus bernyanyi berulang ulang.
Aku menggerutu. Dasar orang aneh.
__ADS_1
Akhirnya A Rangga pergi keluar. Aku merasa sedikit lega. Aku masih harus menunggu barang belanjaan ku yang lainnya aku pergi keluar duduk dikursi.
Eh.. Ternyata A Rangga berdiri di belakang mobil barang, sambil memegang bon, mobil nya terparkir di samping mobil ku. Begini lah cara melatih perasaan ku, ketika aku ingin melupakan mu, tapi setiap hari aku harus bertemu dengan kamu, cara melatih perasaan yang sangat sulit. Mencoba terbiasa karena sebelumnya tidak biasa aja, kamu orang yang spesial di hati aku. Tapi sebisa mungkin untuk saat ini dan kedepannya nanti aku harus bisa bersikap biasa aja dihadapan mu a Rangga, latihan yang sangat berat bagiku.
"Teh mobil mana? "
Hilmi datang dengan membawa barang belanjaan ku.
"Tuh di pojokan, ga keliatan ya. "
"Oh. ok. Ada barang yang kosong, kembali uang aja ke teh Syifa. "
"Ok, aku ambil dulu. "
Aku berjalan keluar toko sambil menunduk melihat bon dan uang kembalian. Ternyata A Rangga berjalan masuk juga. Tanpa sengaja akhirnya kita berhadapan dan aku melihat matanya.
Ya Allah, ku mohon jangan seperti ini. Aku ga sanggup, aku menundukan pandangan ku dan memilih menghindar darinya. Aku menuju mobilku bersama Hilmi.
"Ayo, masukin barangnya. "
"Ok. siap. "
Ternyata mobil ku parkirnya mepet banget dengan mobil barang, untung saja sopir nya baik. membantu ku untuk parkir. Akhirnya aku pulang bersama anakku untuk kembali ke toko ku.
__ADS_1
Aku melihat dengan sudut mataku dari dalam mobil, A Rangga duduk di kursi depan. Biasanya aku kirim pesan, Pulang dulu ya. Semangat kerja nya. Tapi kali ini tidak, dan mungkin aku harus terbiasa seperti ini.