
Bola mata Ragini berputar melihat sudut apartement Laksh yg masih terlihat sama seperti dulu dia tinggalkan. Matanya tertuju pada foto pernikahan dirinya dan Laksh yg masih terpajang di ruangan tengah itu.
Laksh yg sedang asik bergurau dengan putranya itu tak menyadari jika sedari tadi Ragini menatap foto itu. Laksh tersenyum melihat tingkah menggemaskan putranya.
"Ragini.. Apa yg kau lihat? Ayo kita pergi ke kamarmu"
Tanya menarik lengan Ragini hingga pandangan Ragini teralihkan.
Tanya mengajak Ragini ke kamar utama, kamar Laksh lebih tepatnya kamarnya bersama Laksh dulu.
Bola mata Ragini kembali berputar, tak ada yg berubah dari kamar ini. Properti yg ada di dalamnya masih tersusun rapi seperti dulu dan tidak berpindah posisi, bahkan foto pernikahan mereka masih terpajang kokoh di dinding samping televisi.
Ragini benar-benar kagum kepada Laksh karena sampai saat ini masih menjaga cintanya, meskipun sering kali Ragini menyakitinya.
Ragini menatap foto mungil Rohit kecil yg dia berikan untuk Laksh yg sudah terpajang rapi dengan figura indah di nakas samping tempat tidurnya.
Ragini menarik dalam nafasnya, dia dapat menghirup aroma parfum Laksh yg menyeruak di kamar itu, aroma yg sangat dia rindukan. Walaupun hanya sekali dia mendekap Laksh, aroma tubuh Laksh masih dapat teringat.
Ragini kemudian duduk di tepi ranjang itu, dia tersenyum saat teringat dirinya dan Laksh tidur satu ranjang waktu itu karena Laksh demam. Ragini menggelengkan kepalanya.
Tanya yg sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Ragini hanya menaikkan sebelah alisnya, dia langsung duduk di samping Ragini dan menyentuh bahunya.
Ragini terperanjat, dia mengerutkan dahinya.
"Apa yg kau lakukan?"
"Apa yg aku lakukan? Dari tadi kau terus senyum-senyum sendiri, aku takut kau kehilangan kewarasanmu, hahaha"
"Menyebalkan"
Tanya menatap Laksh yg baru saja datang.
"Kakak.. Dimana ibu? Daritadi aku belum melihatnya?"
"Ibu pergi menginap di rumah nenek karena nenek sakit"
"Apaa?? Hmm aku harus segera menyusulnya"
"JANGAN" teriak Ragini.
Tanya dan Laksh saling lirik kemudian mereka menatap Ragini.
"Hahaha ada apa Ragini? Mengapa raut wajahmu terlihat cemas seperti itu? Kau takut hanya berdua.. Eh bertiga saja dengan Kak Laksh dan Rohit, hm?" ucap Tanya menggodanya.
Ragini hanya terdiam.
"Tidak baik jika tetangga tau, nanti mereka malah berpikiran yg macam-macam lagi"
Laksh hanya terkekeh.
"Kau tenang saja, di apartement ini tidak ada tetangga yg berpikiran seperti itu karena lingkungannya berbeda" jelas Laksh.
Ragini merasa sedikit tersinggung dengan perkataan Laksh.
"Maafkan aku.. Karena aku biasa tinggal di lingkungan kumuh dan tetangganya juga banyak yg suka mengurusi urusan orang lain"
Tanya mencubit lengan Ragini.
__ADS_1
"Aaawwww"
"Kau ini kenapa? Sudah berhenti merendahkan dirimu, jika kau ingin aku tetap tinggal disini, ya sudah aku akan tetap tinggal disini. Kau tenang saja"
Ragini hanya merengut.
"Hei kau ini sudah menjadi seorang ibu tidak pantas untuk merengut seperti itu, nanti Kak Laksh khilaf bisa saja dia menyosor bibirmu"
Laksh langsung melotot, Tanya terkekeh.
"Ampun kak"
Tanya berlari keluar kamar, Laksh langsung menyusulnya. Ragini hanya terkekeh melihat kelakuan kakak beradik itu.
"Lihat itu sayang, ayahmu bahkan bersikap seperti anak kecil" ucap Ragini pada putranya.
***
"Kak.. Aku lapar" keluhnya.
"Sabar.. Ragini sedang memasak, kau ini bukan membantunya malah terus mengeluh seperti itu"
Laksh masih sibuk menatap layar laptopnya, tangannya masih mengetik dan sesekali melirik dokumen yg berada di sampingnya. Matanya menatap serius layar laptop itu.
Ragini datang membawa nasi goreng, Tanya hanya melipat kedua tangannya.
"Kau ini lama sekali Rag.. Aku bisa mati kelaparan nanti"
Ragini hanya menggelengkan kepalanya.
Laksh langsung menoleh.
"Benarkah? Hmm aku rasa ibu memang belum sempat belanja kemarin, tapi kalian tenang saja malam ini aku akan belanja untuk membeli kebutuhan rumah tangga" ucap Laksh dengan mata yg masih menatap tajam layar laptopnya.
"Kakak memangnya bisa belanja? Ahh kakak ngurus diri sendiri aja tidak becus"
"Ishh kau ini, sudah diam makanlah, kakak sedang serius mempersiapkan materi untuk meeting besok pagi"
Ragini menatap ke arah Laksh. Dia memperhatikan gerak gerik Laksh yg tak juga beranjak dari tempatnya.
Ragini dan Tanya saling lirik saat mendengar suara perut keroncongan Laksh. Mereka tertawa.
"Kak.. Menyerahlah dulu, kemarilah makan dulu kasihan cacing di perutmu sudah demo minta makan" ledek Tanya.
"Ahh nanggung"
Ragini merasa iba, dia mengambil piring kosong dan menuangkan nasi goreng itu. Dia kemudian menghampiri Laksh.
"Laksh.. Makanlah dulu"
Laksh menoleh, suara lembut Ragini benar-benar mengalihkannya.
Laksh tersenyum, dia mengambil piring itu.
"Aaawwww"
"Ada apa Laksh?"
__ADS_1
"Entahlah.. Tanganku tiba-tiba kram"
Laksh memijit tangannya.
Tanya hanya terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya.
"Dasar modus" gumamnya.
"Apakah masih sakit Laksh?"
Laksh menganggukkan kepalanya.
Ragini merasa iba kepada Laksh, dia kemudian mulai menyedokkan nasi goreng itu dan menyuapi Laksh.
Laksh awalnya bingung, mata mereka saling beradu. Laksh perlahan mulai membuka mulutnya, Ragini menyuapi Laksh dengan perlahan.
Hanya keheningan yg terjadi diantara mereka berdua, Tanya yg sudah selesai makan pun membiarkan mereka berdua dan memberikannya ruang untuk mereka bersama walau hanya sebentar.
"Enak" ucap Laksh.
"Terimakasih"
Mata mereka masih saling beradu.
Ragini mengalihkan pandangannya pada layar laptop Laksh.
"Apa kau sangat sibuk Laksh?"
Laksh menoleh ke arah laptopnya.
"Hmm"
"Baiklah, ayo kembalilah mengetik aku akan menyuapimu"
Laksh mengangguk, dia kemudian kembali mengetik walaupun hatinya berdebar sangat kencang.
Setelah selesai menyuapi Laksh, Ragini menyentuh lengan Laksh.
"Kau jadi pergi belanja untuk keperluan rumah Laksh?"
Laksh mengangguk.
"Aku ikut ya, kau pasti akan kebingungan nantinya"
Laksh mengangguk cepat.
Ragini tersenyum, dia beranjak pergi dengan membawa piring kosong itu dan membereskan meja makannya.
Sesekali dia melirik ke arah Laksh, begitupun dengan Laksh dia seakan canggung saat berdekatan dengan Ragini seperti tadi.
"Terimakasih Dewa" ucapnya dengan melihat tubuh Ragini yg perlahan menjauh.
Fokus Laksh kembali ke laptop dan melanjutkan pekerjaannya yg sempat tertunda, tapi dia tak sepenuhnya fokus senyuman Ragini selalu teringat di benaknya.
"Rohit.. Ibumu membuat ayah merasa seperti orang gila" ucapnya pelan.
To be continued..
__ADS_1